Sabtu, 18 Januari 2014

ENTREPRENEURSHIP IN NURSING



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Teori dan Model Konsep Keperawatan

1.      FLORENCE NIGTINGALE, 1895
Florence merupakan salah satu pendiri yang meletakkan dasar-dasar teori keperawatan yang melalui filosofi keperawatan yaitu dengan mengidentifikasi peran perawat dalam menemukan kebutuhan dasar manusia pada klien serta pentingnya pengaruh lingkungan di dalam perawatan orang yang sakit yang dikenal teori lingkungannya.
Florence juga membuat standar pada pendidikan keperawatan serta standar pelaksanaan asuahan keperawatan yang efisien. Beliau juga membedakan praktek keperawatan dengan kedokteran dan perbedaan perawatan pada orang yang sakit dengan yang sehat Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam kontek lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan psikologis dan lingkungan sosial.

a.
Lingkungan fisik (physical enviroment)
Merupakan lingkungan dasar/alami yan gberhubungan dengan ventilasi dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan. Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posiis pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.
b.      F. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua Lingkungan psikologi (psychologi enviroment) faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya. Komunikasi dengan p[asien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungna dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.

c.       Lingkungan sosial (social environment)

Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik, kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya.
Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungna individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.

2.      DOROTHEA OREM 1978

Pandangan Teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Pandangan teori orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktek keperawatan orem mengembangkan 3 bentuk teori self care , diantara nya:
a.       Keperawatan diri sendiri (self care)
Orem mengemukakan bahwa self care meliputi: diri sendiri, selft care agency, dan adanya tuntutan dalam perawatan diri yang meruapakan tindakan mandiri dengan metode dan tindakan yang tepat serta kebutuhan self care yang merupakan suatu tindakan keperawatan diri sendiri yang bersifat universal dalam upaya mempertahan kan fungsi tubuh. 
b.      Self care deficit
Merupakan bagian penting dalam keperawatan secara umum dimana segala perencanaan keperawatan di berikan kepada saat perawatan di butuhkan yang dapat di terapkan pada anak yang sebelum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care.

c.       Teori system keperawatan
Merupakan teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi oleh perawatatau pasien sendiri yang di dasari pada orem yang mengemukakan tentan g kebutuhan diri sendiri kebutuhan pasien dan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan mandiri.

3.      CALISTA ROY, 1976
Menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku secara adaptif serta mampu merubah perilaku yang mal adapatif. Beliau mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya diantaranya :
a.       Manusia sebagai makhluk biologi, psikologi dan social yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya.
b.      Untuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi.
c.       Tiga tingkatan adaptasi pada manusia yang dikemukakan oleh Roy diantaranya :
1.      Focal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi dengan seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat terhadap seseorang individu.
2.      Kontekstual stimulus, merupakan stimulus lain yang dialami seseorang, dan baik stimulus internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi, kemudian dapat dilakukan observasi, diukur secara subjektif.
3.      Residual stimulus, merupakan stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang sukar dilakukan observasi.


d.      Sistem adaptasi memiliki empat model adaptasi diantaranya :
1.      Pertama : fungsi fisiologis ( komponennya diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektroli), fungsi neurologis dan fungsi endokrin.
2.      Kedua          :  konsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
3.      Ketiga  : fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
4.      Keempat  :  interdependent merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok.
5.      Dalam proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi agar mampu melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan, perkembangan, reproduksi dan keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan untuk meningkatkan respons adaptif.

Roy mengemukakan bahwa individu sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual sebagai satu kesatuan yang utuh memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sehingga individu selalu berinteraksi terhadap perubahan lingkungan.

4.      VIRGINIA HANDERSON, 1978
Model konsep keperawatan yang dijelaskan adalah model konsep aktivitas sehari-hari dengan memberikan gambaran tugas perawat yaitu mengkaji individu baik yang sakit atau sehat dengan memberikan dukungan kepada kesehatan, penyembuhan serta agara meninggal dengan damai.
Pemahaman konsep tersebut dengan didasari kepada keyakinan dan nilai yang dimilinya diantaranya :
a.       Manusia akan mengalami perkembangan mulai dari pertumbuhan dan perkembangan dalam rentang kehidupan.
b.      Dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari individu akan mengalami ketergantungan sejak lahir hingga menjadi mandiri pada dewasa yang dapat dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan dan kesehatan.
c.       Dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari individu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok diantaranya terhambat dalam melakukan aktivitas, belum dapat melaksanakan aktivitas dan tidak dapat melakukan aktivitas.

B.     Keperawatan
Perawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang di dasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spritual yang komprehensif serta di tujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia (Lokakarya keperawatan Nasional 1986).
1.      Ciri-ciri keperawatan ( Shortridge, ( 1985 )
Adapun ciri-ciri keperawatan adalah sebagai berikut:
a.       Berorientasi pada pelayanan masyarakat
Hal ini berarti kepentingan masyarakat akan pelayanan keperawatan ada diatas kepentingan pribadi agar kebutuhan klien ( individu, keluarga, dan masyarakat ) akan asuhan keperawatan terpenuhi. Keperawatan merupakan suatu pelayanan sosial yang esensial dank lien mempunyai hak menggunakan pelayanan keperawatan dari perawat secara professional.
b.      Pelayanan keperawatan yang diberikan didasarkan pada ilmu
Hal ini berarti perawat harus mempunyai ilmu pengetahuan yang kokoh sebagai dasar pemberian asuhan keperawatan. sebagai suatu profesi, keperawatan mempunyai badan ilmu body of knowledge yaitu ilmu terapan sebagai sintesa dari berbagai disiplin ilmu.
Ciri utama pelayanan keperawatan  didasari ilmu pengetahuan, bila asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan metode pemecahan masalah yaitu proses keperawatan. meliputi pengkajian, diagnose keperawatan, pelaksanaan, evaluasi. Manfaatnya adalah menjamin efektifitas dan efisiensi asuhan keperawatan serta menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat.
c.       Adanya otonomi
   Artinya profesi keperawatan mempunyai kemandirian, wewenang, dan tanggung jawab untuk mengatur kehidupan profesi, mencakup otonomi dalam menetapkan standar baku penyelenggara pendidikan, pelayanan keperawatan serta praktik keperawatan dalam bentuk legislasi keperawatan. hal ini penting artinya agar perkembangan profesi keperawatan terarah dan terencana sehingga memudahkan proses evaluasi terhadap kemajuan yang telah dicapai.
d.        Memiliki kode etik
Kode etik adalah seperangkat norma dan peraturan yang diyakini oleh profesi dan menjadi  pedoman  dan acuan perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai kewenangan dan tanggung jawab yang diembannya.
2.      Landasan Prinsip-Prinsip Asuhan/Pelayanan dan Praktik Keperawatan
a.       Berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan
Artinya, pelayanan keperawatan harus dilandasi dan menggunakan ilmu keperawatan dan kiat keperawatan yang mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia serta upaya perawatan dan penyembuhan. Kiat keperawatan (Nursing Arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat-kiaat tertentu dalam upaya memberikan kepuasan dan kenyamanan pada klien.
b.      Bersifat komprehensif
Pelayanan keperawatan dikatakan bersifat komprehensif jika asuhan keperawatan yang diberikan berifat menyeluruh meliputi aspek biologi, psikologi, sosial dan spiritual.
c.       Ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat sehat maupun sakit
Sesuai dengan ilmu keperawatan yang melandasi praktek keperawatan, asuhan keperawatan dapat diberikan kepada individu pada institusi pelayanan kesehatan seperti puskesmas, poliklinik, klinik keperawatan mandiri dan rumah sakit.
d.      Merupakan bagian integral pelayanan kesehatan
Pada hakekatnya pelayanan kesehatan meliputi pelayanan medis (kedokteran), pelayanan keperawatan dan pelayanan penunjang kesehatan ( gizi, farmasi, laboratorium, dsb). Sebagai bagian integral pelayanan kesehatan, pelayanan keperawatan tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan lain. Hal ini bertujuan pemberian asuhan keperwatan sejalan dengan tujuan pemberian pelayanan kesehatan.
e.       Mencakup siklus hidup manusia
Artinya, asuhan keperawatan dapat diberikan kepada klien sejak dalam kandungan sampai tutup usia. Yaitu sejak konsepsi (pertemuan sperma dan ovum), setelah lahir (bayi), anak, remaja, dewasa, usia lanjut sampai menjelang kematian.
3.      Fokus Praktek Keperawatan Profesional
Praktek keperawatan tidak boleh terlepas dari upaya kesehatan masyarakat dunia dan sistem kesehatan nasional. focus utama keperawatan saat ini adalah kesehatan masyarakat dengan target populasi total. Manusia tidak hanya dipandang dari aspek fisik tetapi manusia dipandang sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual. tujuan praktek keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985) harus diupayakan pada pencegahan primer, peningkatan kesehatan pasien, keluarga dan masyarakat, perawatan diri dan peningkatan kepercayaan diri.
Praktik keperawatan meliputi empat area yang terkait dengan kesehatan (Kozier, Erb,1990) :
a.       Peningkatan kesehatan (Health Promotion).
Dalam kegiatan ini, perawat membantu masyarakat mengembangkan sumber–sumber atau meningkatkan kesejahteraan/kesehatan. Tujuannya adalah mencapai kesehatan yang optimal, dengan contoh menjelaskan manfaat program latihan bagi pasien.
b.     Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance).
Perawat melakukan aktivitas untuk membantu masyarakat mempertahankan status kesehatannya. Contoh kegiatan disini adalah mengajarkan atau menganjurkan seseorang usia lanjut  melakukan latihan untuk mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot.
c.      Pemulihan Kesehatan (Health restoration).
Perawat membantu pasien meningkatkan kesehatan setelah pasien memiliki masalah kesehatan atau penyakit. Sebagai contoh adalah mengajarkan pasien merawat luka atau membantu orang cacat mempertahankan kekuatan fisik seoptimal yang dapat dilakukan.
d.     Perawatan orang yang menjelang ajal.
Perawat memnerikan rasa nyaman dan merawat orang dalam keadaan menjelang ajal. kegiatan dapat dilakukan dirumah sakit, rumah, dan fasilitas kesehatan yang lain.
C.    Enterpreneur
Entrepreneurship atau kewirausahaan, berasal dari entrepreneur (wirausahawan) berasal dari bahasa Perancis entreprende yang berarti mengambil pekerjaan (to undertake). Konsep mengenai entrepreneur adalah: the entrepreneur is one who undertakes to organize, manage, and assume the risk of business.

Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru. Sementara, istilah Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha.  (Hisrich, R.D. dkk., 2005. Entrepreneurship. sixth edition. New York: McGraw-Hill

Entrepreneurship adalah jiwa entrepreneur yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas serta kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur. (Hisrich, R.D. dkk., 2005. Entrepreneurship. sixth edition. New York: McGraw-Hill)

Menurut Para Ahli :

Peter F Drucker
Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) .

Thomas W Zimmerer
Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari.




Andrew J Dubrin
Seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif

Robbin & Coulter
Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.


Dari definisi tentang Entrepreneurship diatas terdapat 3 tema penting yang dapat di identifikasi:
1. The Pursue  of Opportunities ,
2. Innovation,
3. Growth

a.      Pursuit  of Opportunities , (entrepreneurship adalah berkenaan dengan mengejar kecenderungan dan perubahan-perubahan lingkungan yang orang lain tidak melihat dan memperhatikannya).
b.      Innovation, (entrepreneurship mencakup perubahan perombakan, pergantian bentuk, dan memperkenalkan pendekatan-pendekatan baru Yaitu produk baru atau cara baru dalam melakukan bisnis)
c.        Growth (Pasca entrepreneur mengejar pertumbuhan, mereka tidak puas dengan tetap kecil atau tetap dengan ukuran yang sama. Entrepreneur menginginkan bisnisnya tumbuh dan bekerja keras untuk meraih pertumbuhan  sambil secara berkelanjutan mencari kecenderungan dan terus melakukan innovasi produk dan pendekatan baru .

Istilah kewirausahaan pada dasarnya merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapinya, maka definisi:
“Entrepreneurship is the result of a disiplined, systimatic process of applying creativity and innovations to satisfy need and opportunities of the marketplace


Kewirausahaan / Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang ada pada diri kita untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup kita.
Kewirausahaan juga berarti, proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung risiko keuangan, kejiwaan, sosial dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan kepuasan pribadinya.
Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship, entrepreurial dan entrepreneur yaitu:
1)      Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan manajerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur.
2)        Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
3)        Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar dari pada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi dan aturan baru.
4)        Entrepreurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.

Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi:
1)         Pengambilan inisiatif
2)         Mengorganisasi dan reorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis.
3)         Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan.

Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbulpengertian baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, dan resiko sosial, dan akan menerima reward  yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal. Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan yaitu:
1)         Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut.
2)         Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan. Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan.
3)         Memperkirakan resiko yang mungkin terjadi, dalam hal ini resiko yang mugkin terjadi pada resiko keuangan, fisik dan resiko sosial.
4)         Memperoleh reward, dalam hal ini reward  terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reeward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.

1.      Pendidikan Kewirausahaan
Anggapan lama mengatakan “ Entrepreneurship are born not made” sehingga kewirausahaan tidak dapat dipelajari atau diajarkan. Sementara anggapan sekarang “ Entrepreneurship are not only born also made”. Sehingga kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman di lapangan saja, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat dipelajari.
Transformasi pengetahuan kewirausahaan telah berkembang pada akhir-akhir ini. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan tumbuh pesat. Mata kuliah kewirausahaan diberikan dalam bentuk kuliah umum ataupun bentuk konsentrasi program studi.
Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena berisi:
a.       Body of knowledge yang utuh dan nyata, ada objek, konsep dan modelnya.
b.         Kewirausahaan memiliki dua konsep, posisi venture start up dan venture growth, tidak memisahkan antara manajemen dan kepemilikan usaha.
c.         Merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
d.        Merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dan pendapatan atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
e.         Kewirausahaan telah dijadikan kompetensi inti dalam menciptakan perubahan, perbaharuan dan kemajuan.
f.          Objek studi kewirausahaan adalah kemampuan merumuskan bertujuan hidup, memotivasi diri, berinisiatif, membentuk modal, mengatur waktu, dan membiasakan diri untuk belajar dari pengalaman.
g.         Kewirausahaan pada hakikatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

2.      Motivasi berwirausaha








Rounded Rectangle: Kebutuhan/kesenjangan kebutuhan
Rounded Rectangle: Pencarian jalan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan
Rounded Rectangle: pemilihan perilaku untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan
 
 


 







Gambar 2.1 Motivasi Berwirausaha

Teori 3 kebutuhan David McClelland:
N’Ach, need for achievment, wirausaha yang memiliki motivasi ini selalu ingin berprestasi/ meraih yang terbaik, umumnya memiliki ciri-ciri:
a.       Ingin mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
b.      Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk dapat mengukur keberhasilan atau kegagalan.
c.       Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
d.      Berani menghadapi resiko dengan penuh tantangan.
e.       Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.
N’Pow, need for power, yaitu hasrat untuk mempengaruhi, mengendalikan dan menguasai orang lain. Ciri umum adalah senang bersaing, berorientasi pada status dan menguasai orang lain.
N’Aff, need for affilitation, yaitu hasrat untuk dapat diterima dan disukai oleh orang lain. Wirausaha yang berfiliasi tinggi lebih menyukai persahabatan, bekerjasama, dan saling pengertian.
3.      Prinsip-Prinsip Kewirausahaan
a.      Prinsip Wirausaha I
Kekuatan yang mendorong kesuksesan perusahaan strart up terdiri dari tiga macam: peluang, tim dan sumber daya. Proses kewirausahaan diawali bukan dari ketersediaan uang, strategi, network, tim ataupun rencana bisnis, melainkan dari adanya peluang. Peluang yang berpotensi tinggi terkadang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari pada ketersediaan sumbe daya atau tim pada saat itu. Peran entrepreneur dan tim adalah menjaga keseimbangan antara tiga kekuatan tersebut dalam lingkungan yang terus berubah. Ketidakpastian dan resiko menjadi teman sejati para entrepreneur.
Adanya keseimbangan akan membantu entrepreneur dalam mencapai keberlanjutan atau sustanbility perusahaan tanpa harus merusak lingkungan, komunitas atau masyarakat. Rencana bisnis berfungsi sebagai komunikator kualitas dan keseimbangan kekuatan pada saat tertentu.


b.      Prinsip Wirausaha II
Dunia kewirausahaan bersifat dinamis, cair, ambigu, dan chaos. Perubahan yang konstan terjadi menyebabkan dunia kewirausahaan berkaitan erat dengan paradoks.

1)      Untuk bisa sukses, jangan takut untuk gagal.
Kasus yang biasanya terjadi adalah jika perusahaan pertama gagal, entrepreneur belajar dari pengalaman dan kemudian membentuk perusahaan lagi yang ternyata sangat sukses di masa depan.
2)      Rencana bisnis akan cepat menjadi uang.
Kondisi persaingan, teknologi, dan pasar yang sangat dinamis menyebabkan kita kesulitan untuk mengetahui semua kondisi kompetisi. Hasilnya adalah rencana bisnis cepat menjadi uang begitu ia selesai dicetak. Entrepreuneur harus melatih kebiasaan berencana dan bereaksi secara cepat, mengkombinasikan logika dan intuisi sampai kebiasaan ini menjadi sesuatu yang refleks.
3)      Agar kreativitas dan inovasi berhasil, harus ada disiplin ilmu yang mengimbangi.
Penemuan- penemuan produk harus dibarengi dengan ilmu mengenai komersialiasi teknologi atau produk, jika tidak, maka penemuan ini tidak akan mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan masyarakat.
4)      Entrepreneur harus bisa bertindak cepat, tetapi juga harus sabar.
Sementara kompetitor bergerak cepat, entrepreneur harus belajar menentukan kapan ia harus bertindak dan kapan ia harus bertahan.


5)      Semakin besar ukuran dan kontrol terhadap perusahaan, semakin rendah kinerja.
Kewirausahaan memerlukan fleksibilitas tingggi dalam strategi dan taktik. Kontrol dan keteraturan yang berlebih dapat menghambat kemajuan perusahaan


c.       Prinsip Wirausaha III
Setiap manusia akan menghadapi resiko dalam hidupnya. Begitupun dengan entrepreneur, berikut adalah beberapa resiko yang umum di hadapi entrepreneur yaitu:

1)      Resiko Finansial
Pada perusahaan yang baru berdiri, entrepreneur memberikan sebagian simpanannya untuk modal. Uang ataupun aset lain yang disimpan ini akan hilang jika perusahaan ternyata gagal. Entrepreneur akan bertangggung jawab menanggung kewajiban perusahaan yang nilainya mungkin jauh melebihi jumlah simpanan. Oleh karena itu, entrepreneur beresiko kebangkrutan.


2)      Resiko karir
Pertanyaan yang sering ada di benak entrepreneur adalah apakah mereka akan menemukan pekerjaan atau kembali ke pekerjaannya yang dulu jika bisnisnya gagal. Resiko ini merupakan pertimbangan utama bagi manajer yang bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang menarik.

3)      Resiko keluarga dan social
Memulai usaha baru akan menyerap banyak energi dan waktu dari entrepreneur. Konsekuensinya adalah bidang kehidupan yang lain akan dikorbankan. Entrepreneur yang sudah menikah, terutama yang memiliki anak, akan beresiko tidak bisa hadir sepenuhnya untuk keluarganya. Kehidupan sosialnya mungkin akan terganggu juga.


4)      Resiko kesehatan
Jam kerja yang panjang menyebabkan terancamnya kesehatan entrepreneur. Uang dapat digantikan, keluarga dapat beradaptasi, namun kesehatan yang terganggu lebih sulit untuk diperbaiki.


D.    PENGERTIAN NURSEPRENEUR

1.      Secara konseptual Nursepreneur termasuk dalam pengembangan karir dari peran dan fungsi perawat. pengembngan karir tersebut dapat menjadi pengelola klinik atau sarana kesehatan lainnya. Misalnya manager spa, manager fisioterapi, manager Nursing Center, manager Balai kesehatan swasta, pemilik massage dan refleksi, meskipun dalam pelaksanaan teknisnya banyak melibatkan profesi lain sebagai pelaksana, dalam hal ini perawat dapat bertindak sebagai pemilik modal, penggagas ide, pemilik saham, atau owner yang akan menggaji karyawannya. Hal seperti ini sudah mulai ada di Indonesia, misalnya Saat pembubaran Konas jiwa. Di Bali perawat memiliki balai Keperawatan yang dipadukan dengan fisioterapi. 
Selain peran tersebut perawat juga dapat melakukan penelitian-penelitian, sebagai contoh adanya tim riset yang meneliti perawatan luka, cara ganti balutan efektif, kompres modern, terapi modalitas, tehnik relaksasi dsb. Masalah penelitian direkomendasikan dari Rumah sakit atau intistusi kesehatan yang membutuhkan solusi. Misalnya kenapa kunjungan ke RS tertentu sangat rendah, maka perawat manajemen akan melakukan riset yang didanai rumah sakit yang bersangkutan, termasuk riset kepuasan klien.
Disamping peran-peran di atas perawat dapat juga bergerak dalam bidang pendidikan atau menyediakan pelatihan-pelatihan atau sebagai konsultan. Misalnya pelatihan baby siter, pelatihan perawat lansia, perawat anak di rumah atau perawat yang akan mendampingi klien saat ibadah haji. 
Nursepreneur adalah rangkaian dari dua kata kata yaitu “nurse’ dan “Entrepreneur”. Nurse artinya seorang perawat, sedangkan Entrepreneur sendiri memiliki berbagai pengertian dan sifat, salah satunya yang disampaikan oleh  John G. Burch, Entreprenuer memiliki sifat :

1.      Berhasrat mencapai prestasi
2.      Seorang Pekerja keras
3.      Ingin bekerja untuk dirinya
4.      Mencapai kualitas
5.      Berorientasi kepada Reward dan Kesempurnaan
6.      Optimis
7.      Berorganisasi
8.      Berorientasi kepada keuntungan
Seseorang yang berprofesi apapun, asal mampu menerapkan 8 aspek sifat Entrepreneur dalam kehidupan sehari-harinya, maka dapat dikategorikan sebagai Entrepreneur, termasuk seorang perawat. Dengan jiwa Entrepreneur masalah sehari-hari yang dihadapi perawat di ruangan akan menjadi uang. Karena perawat yang berjiwa entreperneur memilki cirri berorientasi pada keuntungan. Sebagai contoh masalah menumpuknya botol infus bekas, abocate yang tak terpakai, sisa makanan pasien, cucian keluarga perawat, penunggu pasien, terpisahnya hubungan secara langsung antara orang tua yang sakit dengan anak.
Disamping hal tersebut ada fenomena menarik seperti apa-apa yang dilakukan oleh perawat yang tergabung dalam asosiasi perawat Indonesia yang bekerja di malaysia, Saudi Arabia, Qatar dan Kuwait. Mereka mencoba berorganisasi sebagai ciri Nursepreneur dan memiliki keberanian untuk hijrah dengan Berorientasi kepada keuntungan berupa besarnya gaji yang diperoleh, gaji tersebut selanjutnya dijadikan aset yang akan menjadi mesin uang
2.      Secara konseptual Nursepreneur memiliki ciri sebagai berikut :
a.                   Pengerahan Diri : Pendisiplinan diri dan secara menyeluruh merasa nyaman bekerja untuk diri sendiri.
b.                   Pengasuhan Diri : Antusiasme tak terbatas untuk ide-ide Anda saat tak seorang pun memilikinya.
c.                   Orientasi pada Tindakan : Hasrat menyala untuk memujudkan, mengaktualisasi kan dan mengubah ide – ide Anda menjadi kenyataan.
d.                  Energi Tingkat Tinggi : Mampu bekerja dalam waktu lama secara emosional, mental dan fisik.
e.                   Toleransi atas Ketidakmenentuan : Secara psikologis mampu menghadapi resiko
Entrepeneur bagi perawat sebetulnya bisa dipelajari sambil melakukannya (learning by doing), namun harus diingat bahwa wawasan tentang jenis usaha yang akan dipilih tetap sangat diperlukan karena jika tanpa hal itu sama dengan menyelam ke dasar laut tanpa tabung gas.
Jadi yang terpenting dari seorang Nursepreneur adalah inovasi dan keberanian untuk mengambil risiko serta siap bekerja keras mencapai tujuan dengan optimis. Inilah yang membuat entreprenur selalu tampil dengan gagasan–gagasan baru yang segar, melawan arus pemikiran orang banyak atau kreatif.

Perawat entrepreneur mungkin bisa diartikan sebagai perawat yang mempunyai jiwa wirausaha. Entrepreneur/wirausaha/pebisnis, yang tidak dikenali seperempat abad lalu, saat ini diajarkan sebagai mata kuliah di universitas di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, ratusan perguruan tinggi mengajarkan itu. Apakah ini benar-benar fenomena baru? Tidak persis demikian. Kita sebenarnya dilahirkan sebagai entreperneur.
Keberanian, kreativitas, dan inisiatif semuanya adalah sifat yang dimiliki seseorang sejak lahir. Itu alami, melekat dalam diri kita, Tinggal masalahnya, buatlah kemampuan itu muncul dan bekerja optimal.

Kita sebagai perawat sudah pernah memenangkan persaingan yang paling akbar di jagat raya ini yaitu 700 juta sel sperma yang bersaing membuahi ovum. Kitalah pemenangnya. Lalu berkembang menjadi bayi, bayi manapun di dunia ini, sebelum mereka dibanjiri nilai-nilai dan peraturan masyarakat, tanpa perlu ikut seminar tentang ”berjalan”, ia belajar berjalan sampai bisa. Setiap kali si bayi yang belajar berjalan, ia tersandung dan terjatuh kemudian bangkit lagi. Bayi itu pun belajar berbicara tanpa perlu mengikuti kurus bahasa. Sayangnya, semua kelebihan itu hilang ketika ia memasuki institusi yang kita sebut sekolah.

Pertanyaannya adalah adakah institusi di dunia ini yang bisa mengajari cara menjalankan bisnis kita sendiri? Kalau kita sebut beberapa kursus atau jurusan bisnis dengan nama-nama tetentu yang ditawarkan oleh universitas atau sebuah lembaga kursus. Terus terang, itu semua tidak mengajarkan kita bagaimana menjalankan bisnis untuk diri kita sendiri. Mereka hanya mengajarkan kita bagaimana menjalankan bisnis untuk orang lain. Kalau kita mengikuti kursus akuntansi, yang diajarkan adalah bagaimana kita menghitung uang orang lain.

Entrepreneur bagi perawat bisa dipelajari sambil melakukannya (learning by doing), namun harus diingat bahwa wawasan tentang jenis usaha yang akan dipilih tetap sangat diperlukan karena jika tanpa hal itu sama dengan menyelam ke dasar laut tanpa tabung gas.

Dalam bidang pekerjaan apapun, yang namanya income harian, mingguan, bulanan, tahunan dan “dadakan”, semuanya penting terpenuhi. Tetapi selain itu kita masih bisa melakukan hal lain, banyak bisnis/usaha yang bisa dilakukan perawat, jadi sambil bekerja sebagai perawat, namun memiliki usaha sampingan di bidang wirausaha.

Bekerja di luar negeri bisa menjadi langkah awal menjadi pebisnis dan investor. Perawat di luar negeri rata-rata mencapai gaji 10 x lipat perawat di Indonesia. Sebelum menjadi pengusaha kita memang perlu modal finansial dan modal karakter. Setiap orang, siap atau tidak, kondisi akan mendorongnya menjadi seorang entrepreneur, sekarang jaman sudah berubah.

3.      Kiat Menjadi Nursepeneur
Seorang perawat dapat menjadi nurse Entrepreneur atau menjadi nurse Intrapreneur. Seorang perawat nurse Entrepreneur adalah seorang perawat yang menjalankan wirausahanya sendiri atau dengan beberapa teman dalam bisnis keperawatan. Sebaliknya seorang perawat Intrapreneur adalah seorang perawat yang menjalankan “bisnis” dalam divisi atau bagian dari satu perusahaan yang telah ada. Menjadi seorang Intrapreneur lebih aman, mendapatkan karir, dan dapat melangkah menjadi Entrepreneur. Tentu saja ini berbeda dengan apa yang umumnya perawat lakukan, dan bukan bekerja di RS yang tentu saja yang secara alamiah bukan tempat “berbisnis”.
Ketrampilan dan karakter perawat yang diperlukan berbeda sekali, mesti memiliki semangat wirausaha, memulai sendiri, bertanggung jawab secara keuangan, mencoba hal baru, dan berani. Anda sebagai perawat juga dituntut memiliki jiwa sales, customer services, budgeting, forecasting dan manajemen.
Secara mudahnya lebih baik menjadi perawat Intrapreneur dulu, sambil bekerja dalam satu institusi bisnis atau sambil bekerja sebagai perawat, namun memiliki usaha sampingan di bidang wirausaha. Setelah kita yakin siap, maka bisa langsung terjun dalam Entrepreneurship  untuk mengurus bisnis sendiri.

4.      Menjadi Employer Kemudian Investor
Menurut Robert Kiyosaki tingkatan terendah dalam bekerja menurut penghasilannya adalah Employer (pekerja), tingkatan kedua adalah owner (pemilk) dan tingkatan ketiga adalah investor (pemilik modal). Jawaban menarik yang disampaikan oleh para perawat yang bekerja di Kuwait kalau ditanyakan apakah ingin bekerja sebagai perawat kembali di Indonesia nanti (saat resign)?, Sebagaian besar mereka menjawab ”tidak”. Sehingga banyak dari mereka yang telah merintis berbagai jenis usaha bisa berhubungan dengan dunia keperawatan/kesehatan atau bahkan tidak sama sekali. Banyak teman perawat yang selalu setiap annual leave (cuti tahunan) mulai merintis bidang usaha baru, yang dikelola keluarga/teman, atau membuat kontrakan, transportasi, buka toko obat, bisnis fotocopy, makanan, property, wartel/warnet, usaha komputer, service Hp, bengkel, dsb.
Mereka memiliki keyakinan bahwa dalam bidang pekerjaan apapun, yang namanya income harian, mingguan, bulanan, tahunan dan “dadakan”, serta income antar negara (income di LN dan di Indonesia ) semuanya penting terpenuhi. Bekerja di LN bisa menjadi langkah awal menjadi pebisnis dan investor. Perawat di luar negeri rata-rata mencapai gaji 10 x lipat perawat di Indonesia. Sebelum menjadi pengusaha kita memang perlu modal finansial dan modal karakter. Untuk mencari modal finansial kita boleh menjadi karyawan dulu (employer). Setelah gaji kita ditabungkan maka kita mulai punya modal finansial yang akan kita rubah menjadi mesin pencetak uang (aset). Kemudian hasilnya dapat diinvestasikan.


5.      Mampu  Berpikir Untung  (Think Benefit) Merubah Paradigma Berpikir (Change Thinking Paradigm)

Perawat sering berhadapan dengan berbagai masalah saat bekerja misalnya macet saat mau dinas ke Rumah sakit, mencuci baju putih yang gampang kotor, sampah medis yang berserakan, sulitnya meninggalkan anak saat dinas, jauhnya kantin saat makan siang, tidak keburu masak di rumah, mahalnya biaya berkomunkasi dengan suami.

Seorang perawat yang berjiwa Entrepreneur akan mulai berpikir beda dan berpikir untung. Tahap selanjutnya mungkin muncul gagasan-gagasan segar dan ide – ide kreatif misalnya perawat menciptakan CD rekaman English for nurse saat macet, laundry for nursing staf, Re-use machine for waste medical, katering siap antar bagi perawat atau penitipan bayi bagi perawat. Ide – ide tersebut harus dibiasakan muncul. Seberapa jeleknya ide itu atau seberapa sepelenya ide itu tetap harus dimunculkan. Di luar negeri justru ide sepele itulah yang menghasilkan royalti jutaan, misalnya ide tentang alat penjepit kuping anjing jenis tertentu, yang telinganya menjuntai saat makan dan tercelup pada makanan

6. Model Enterpreneurship

Model Entrepreneurship secara sederhana dimulai dengan diketahui adanya peluang, mampu menggunakannya, kemudian jika terdapat hambatan, mampu mengatasi hambatan yang ada. Diperlukan juga kemampuan cara melakukan Entrepreneurship itu sendiri sehingga tercipta usaha baru (peluang menjadi usaha baru).
Peluang perawat menjadi Entrepreneur dibagi menjadi:
Trend demografi : Jumlah lansia yang semakin banyak tentunya memerlukan perawatan dalam menjalani hidupnya. Dalam menjalani pengobatan mungkin beberapa klien memerlukan penjagaan atas privacynya sehingga memerlukan pelayanan secara khusus.

Kesempatan di falitas kesehatan :Terlibat dalam produksi atau pendistribusian suplemen yang baik untuk pasien di rumah sakit. Mungkin kedepannya tidak menutup kemungkinan rumah sakit akan melakukan outsourcing tenaga perawat untuk memotong besarnya biaya rumah sakit, hal ini tentunya rumah sakit tidak akan memaksakan tenaga perawat yang sedikit untuk merawat pasien yang sangat banyak dan sebaliknya jika pasien sedikit rumah sakit bisa menyesuaikan kebutuhan tenaga perawat.
Trend sosial : Gaya hidup yang sibuk berdampak buruk terhadap kesehatan seseorang sehingga untuk tetap sehat membutuhkan perawatan untuk mempertahankan kesehatanny, dalam hal ini focus kepada kelompok – kelompok tertentu seperti klub jantung sehat.
Peluang – peluang diatas sangat mungkin dimanfaatkan oleh perawat karena perawat di rumah sakit sangat dekat dengan pasien, namun untuk memanfatkan peluang tersebut perawat sering menghadapi hambatan – hambatan diantaranya: isu malpraktek, tidak punya hak istimewa dari rumah sakit, padangan skeptis dari beberapa dokter tentang peran independen perawat, dan ketakutan rumah sakit akan menurunnya kedisiplinan perawat.

Aspek legal : Perawat dalam menjalankan Entrepreneurship-nya sering dihantui oleh sangsi hukum, oleh karena itu banyak perawat berharap untuk disahkannya RUU praktik keperawatan. Tetapi tentunya aspek hukum yang harus dikuasai bukan hanya tentang perawat tentunya undang – undang atau peraturan hukum lainnya juga harus dikuasai oleh perawat.
Etik dan konflik personal : Banyak perawat beranggapan bahwa berbisnis bertentangan dengan kode etik dan nilai perawat dimana berbisnis maka akan menurunkan penilaian masyarakat terhadap perawat. Dan untuk menghindari terjadinya konflik personal perawat lebih suka bekerja di klinik tempat praktek dokter, hal ini menyebabkan fungsi mandiri dari perawat dinilai tidak ada oleh masyarakat atau dengan kata lain tidak kompeten dan menjadi perawat tidak survive untuk menunjukan eksistensi tindakan keperawatan mandiri.

Hambatan dari pengetahuan : Kemampuan perawat dalam memulai bisnis belum terlihat hal ini disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan perencanaan bisnis (akutansi, pemasaran, manajeriar, asuransi, hukum, perencanaan, insurance, anggaran, pendanaan, negosiasi, penagihan, keterampilan klinik dan keperawatan). Manajemen perawat lebih difokuskan kepada manajemen pasien tidak kepada manajemen perusahaan dan masih banyak perawat beranggapan bahwa masyarakat hanya membutuhkan rumah sakit dan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan, kalau berbisnis mempunyai risiko yang tinggi. Hal ini berdampak banyak perawat kesulitan dalam memulai usaha baru.

Solusi : Untuk mengatasi masalah diatas diantaranya dengan cara :
(1) Untuk memulai harus mempunyai mentor , dan tentunya kepada perawat yang sudah menjadi Entrepreneur sejati harus terpanggil jika menginginkan terbentuk perawat yang berjiwa Entrepreneur. Sehingga perawat berani memulai bisnis baru. 

(2) Perawat harus membuat komuniti perawat Entrepreneurship sehingga dapat menggali potensi bisnis perawat, mengetahui tren bisnis perawat yang baru dan membuat arahan – arahan yang positif untuk meningkatkan income bagi bisnis perawat. 

(3) Organisasi profesi harus mampu membuat dan mengembangkan area – area Entrepreneurship perawat termasuk perlindungan hukumnya. 

(4)  Membuat komuniti untuk mengidentifikasi portensi bisnis perawat, terhubung dengan trend bisnis baru dan meningkatkan arahan – arahan untuk meningkatkan praktek. 

(5) Perawat harus memperbaiki mental Entrepreneurnya dan mempelajari peran – peran seorang Entrepreneur.

(6) Kerjasama dengan pihak – pihak lain seperti rumah sakit, pemerintah dan swasta yang dapat dijembatani oleh organisasi profesi.

7. Langkah Perawat Menjadi Nursepreneur

Isu kesejahteraan perawat saat ini masih gencar dihembuskan selain isu profesionalisme. Kesejahteraan perawat yang berbanding lurus dengan gaji perawat konon berbanding terbalik dengan beban kerja perawat. Mengharapkan pemerintah untuk melihat hal itu, rasanya tidak mungkin (tampak pada ketidakjelasan RUU Keperawatan) karena saat ini perawat di Indonesia masih belum memiliki bargaining position di mata pemerintah.
Salah satu solusi yang bisa diambil untuk membackup kesejahteraan perawat tanpa perlu menggantungkan pada gaji dari pemerintah, adalah dengan menjadi Nursepreneur (Perawat Pengusaha). 

Konsep Nursepreneur sudah lama muncul dalam dunia keperawatan. Namun, di Indonesia konsep ini belum begitu familiar. Ada satu hal yang sangat menarik dari konsep ini, yaitu untuk menjadi perawat pengusaha atau perawat pebisnis kita hanya perlu 5 langkah. Uniknya 5 langkah ini sangat sering dilakukan oleh perawat. 5 langkah itu adalah bagian dari PROSES – KEPERAWATAN yang terdiri dari (1) pengkajian, (2) diagnosa, (3) perencanaan, (4) implementasi, dan (5) evaluasi. Jika dikaitkan dengan NURSEPRENEUR, proses keperawatan itu akan menjadi 5 langkah awal untuk menjadi perawat pengusaha atau perawat pebisnis, yaitu :
1.PENGKAJIAN :Langkah pertama untuk memulai berbisnis adalah kita melakukan pengkajian. Masalah adalah hal pertama yang kita ingin dapatkan dari proses pengkajian. Maka untuk memulai bisnis, kita harus mengetahui masalah apa yang terjadi. Saat ini yang paling berkuasa dalam dunia bisnis adalah pasar (market). Maka pengkajian yang kita lakukan untuk memulai berbisnis adalah mengkaji kebutuhan pasar. Pasar memerlukan apa? Ada masalah apa?

2.DIAGNOSA : Langkah kedua setelah melakukan pengkajian adalah menetapkan diagnosa. Dalam dunia bisnis, setelah kita mengetahui kebutuhan pasar maka yang selanjutnya dilakukan adalah memetakan potensi yang bisa kita masuki untuk menjawab kebutuhan pasar. Pemetaan potensi itu dalam langkah ini adalah tahap diagnosa.

3.PERENCANAAN : Setelah kita mengetahui potensi pasar yang bisa kita masuki, maka langkah selanjutya adalah menyusun rencana untuk bisa masuk kedalam pasar yang sesungguhnya. Tahap perencaan ini merupakan tahap ketika kita harus memiliki konsep usaha yang jelas dan detail. Apa yang kita jual? Apa yang kita berikan kepada konsumen? Apa solusi yang bisa dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar?

4.IMPLEMENTASI : Langkah ini adalah tahap bagi kita untuk take action. Konsep usaha yang jelas harus diwujudkan dalam bentuk nyata. Tahap ini merupakan tahap yang paling inti dalam proses berbisnis dan tentu saja merupakan tahap yang paling sulit. Semua orang bisa punya ide, namun tidak semua orang berani take action.

5.EVALUASI :
Dalam sistem apapun, evaluasi merupakan bagian penting dan tidak boleh terlupakan. Dari evaluasi ini, kita bisa mengetahui apakah implementasi yang kita lakukan berhasil atau tidak. Sama dalam dunia bisnis, evaluasi akan memberikan gambaran kepada kita apakah konsep yang sudah kita jalankan berhasil atau tidak. Jika berhasil, maka kita bisa lakukan peningkatan, namun jika tidak, perubahan rencana dan strategi bisa dilakukan.

5 langkah diatas merupakan gambaran umum dan sederhana untuk memulai menjadi Nursepreneur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar