BAB II
TINJAUAN
TEORITIS
A. Teori
dan Model Konsep Keperawatan
1.
FLORENCE
NIGTINGALE, 1895
Florence
merupakan salah satu pendiri yang meletakkan dasar-dasar teori keperawatan yang
melalui filosofi keperawatan yaitu dengan mengidentifikasi peran perawat dalam
menemukan kebutuhan dasar manusia pada klien serta pentingnya pengaruh
lingkungan di dalam perawatan orang yang sakit yang dikenal teori
lingkungannya.
Florence
juga membuat standar pada pendidikan keperawatan serta standar pelaksanaan
asuahan keperawatan yang efisien. Beliau juga membedakan praktek keperawatan
dengan kedokteran dan perbedaan perawatan pada orang yang sakit dengan yang
sehat Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam
kontek lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan
psikologis dan lingkungan sosial.
a. Lingkungan fisik (physical enviroment)
Merupakan lingkungan dasar/alami yan gberhubungan dengan
ventilasi dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik
yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam
ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan. Tempat tidur
pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari
bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik
bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur
harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup,
jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posiis pasien ditempat tidur harus diatur
sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.
b. F.
Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan
stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu
ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar
matahari, makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua
Lingkungan psikologi (psychologi enviroment) faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan
emosinya. Komunikasi dengan p[asien dipandang dalam suatu konteks lingkungan
secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau
terputus-putus. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya
sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar
lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan
harapan yang terlalu muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi
penyakitnya. Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungna dimana dia
berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik
dapat memberikan rasa nyaman.
c.
Lingkungan
sosial (social environment)
Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik, kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya.
Seperti juga
hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam
hubungna individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya
meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi
juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.
2.
DOROTHEA
OREM 1978
Pandangan
Teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan
individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam
kebutuhannya. Pandangan teori orem dalam tatanan pelayanan keperawatan
ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan
keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep
praktek keperawatan orem mengembangkan 3 bentuk teori self care , diantara
nya:
a. Keperawatan
diri sendiri (self care)
Orem mengemukakan bahwa self care
meliputi: diri sendiri, selft care agency, dan adanya tuntutan dalam perawatan
diri yang meruapakan tindakan mandiri dengan metode dan tindakan yang tepat
serta kebutuhan self care yang merupakan suatu tindakan keperawatan diri
sendiri yang bersifat universal dalam upaya mempertahan kan fungsi tubuh.
b. Self care deficit
Merupakan
bagian penting dalam keperawatan secara umum dimana segala perencanaan
keperawatan di berikan kepada saat perawatan di butuhkan yang dapat di terapkan
pada anak yang sebelum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta
perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan
self care.
c. Teori system keperawatan
Merupakan
teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien
terpenuhi oleh perawatatau pasien sendiri yang di dasari pada orem yang
mengemukakan tentan g kebutuhan diri sendiri kebutuhan pasien dan kemampuan
pasien dalam melakukan perawatan mandiri.
3. CALISTA
ROY, 1976
Menguraikan bagaimana
individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku
secara adaptif serta mampu merubah perilaku yang mal adapatif. Beliau
mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa
pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya diantaranya :
a.
Manusia
sebagai makhluk biologi, psikologi dan social yang selalu berinteraksi dengan
lingkungannya.
b.
Untuk
mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi
sesuai dengan perubahan yang terjadi.
c.
Tiga
tingkatan adaptasi pada manusia yang dikemukakan oleh Roy diantaranya :
1.
Focal
stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi dengan seseorang dan akan
mempunyai pengaruh kuat terhadap seseorang individu.
2.
Kontekstual
stimulus, merupakan stimulus lain yang dialami seseorang, dan baik stimulus
internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi, kemudian dapat dilakukan
observasi, diukur secara subjektif.
3.
Residual
stimulus, merupakan stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada atau
sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang sukar
dilakukan observasi.
d.
Sistem
adaptasi memiliki empat model adaptasi diantaranya :
1.
Pertama
: fungsi fisiologis ( komponennya diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi,
aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektroli), fungsi
neurologis dan fungsi endokrin.
2.
Kedua
: konsep diri yang mempunyai
pengertian bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi sosial dalam
berhubungan dengan orang lain.
3.
Ketiga : fungsi peran merupakan proses penyesuaian
yang berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola
interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain.
4.
Keempat :
interdependent merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang
kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada
tingkat individu maupun kelompok.
5.
Dalam
proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi agar mampu
melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan, perkembangan, reproduksi dan
keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan untuk meningkatkan respons
adaptif.
Roy
mengemukakan bahwa individu sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual
sebagai satu kesatuan yang utuh memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan sehingga individu selalu berinteraksi terhadap
perubahan lingkungan.
4.
VIRGINIA
HANDERSON, 1978
Model
konsep keperawatan yang dijelaskan adalah model konsep aktivitas sehari-hari
dengan memberikan gambaran tugas perawat yaitu mengkaji individu baik yang
sakit atau sehat dengan memberikan dukungan kepada kesehatan, penyembuhan serta
agara meninggal dengan damai.
Pemahaman
konsep tersebut dengan didasari kepada keyakinan dan nilai yang dimilinya
diantaranya :
a.
Manusia
akan mengalami perkembangan mulai dari pertumbuhan dan perkembangan dalam
rentang kehidupan.
b.
Dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari individu akan mengalami ketergantungan sejak
lahir hingga menjadi mandiri pada dewasa yang dapat dipengaruhi oleh pola asuh,
lingkungan dan kesehatan.
c.
Dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari individu dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok diantaranya terhambat dalam melakukan aktivitas, belum dapat
melaksanakan aktivitas dan tidak dapat melakukan aktivitas.
B.
Keperawatan
Perawatan
adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang di dasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk
pelayanan bio-psiko-sosio-spritual yang komprehensif serta di tujukan kepada
individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup
seluruh siklus kehidupan manusia (Lokakarya keperawatan Nasional 1986).
1.
Ciri-ciri
keperawatan ( Shortridge, ( 1985 )
Adapun ciri-ciri keperawatan adalah sebagai berikut:
a.
Berorientasi pada pelayanan masyarakat
Hal
ini berarti kepentingan masyarakat akan pelayanan keperawatan ada diatas
kepentingan pribadi agar kebutuhan klien ( individu, keluarga, dan masyarakat )
akan asuhan keperawatan terpenuhi. Keperawatan merupakan suatu pelayanan sosial
yang esensial dank lien mempunyai hak menggunakan pelayanan keperawatan dari
perawat secara professional.
b. Pelayanan
keperawatan yang diberikan didasarkan pada ilmu
Hal
ini berarti perawat harus mempunyai ilmu pengetahuan yang kokoh sebagai dasar
pemberian asuhan keperawatan. sebagai suatu profesi, keperawatan mempunyai
badan ilmu body of knowledge yaitu
ilmu terapan sebagai sintesa dari berbagai disiplin ilmu.
Ciri
utama pelayanan keperawatan didasari
ilmu pengetahuan, bila asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan metode
pemecahan masalah yaitu proses keperawatan. meliputi pengkajian, diagnose
keperawatan, pelaksanaan, evaluasi. Manfaatnya adalah menjamin efektifitas dan
efisiensi asuhan keperawatan serta menggambarkan tanggung jawab dan tanggung
gugat perawat.
c.
Adanya otonomi
Artinya profesi keperawatan mempunyai
kemandirian, wewenang, dan tanggung jawab untuk mengatur kehidupan profesi,
mencakup otonomi dalam menetapkan standar baku penyelenggara pendidikan,
pelayanan keperawatan serta praktik keperawatan dalam bentuk legislasi
keperawatan. hal ini penting artinya agar perkembangan profesi keperawatan
terarah dan terencana sehingga memudahkan proses evaluasi terhadap kemajuan
yang telah dicapai.
d.
Memiliki kode etik
Kode
etik adalah seperangkat norma dan peraturan yang diyakini oleh profesi dan menjadi pedoman
dan acuan perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai
kewenangan dan tanggung jawab yang diembannya.
2. Landasan Prinsip-Prinsip
Asuhan/Pelayanan dan Praktik Keperawatan
a.
Berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan
Artinya,
pelayanan keperawatan harus dilandasi dan menggunakan ilmu keperawatan dan kiat
keperawatan yang mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia serta upaya perawatan dan penyembuhan. Kiat keperawatan (Nursing Arts) lebih difokuskan pada
kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat-kiaat tertentu dalam upaya
memberikan kepuasan dan kenyamanan pada klien.
b.
Bersifat komprehensif
Pelayanan
keperawatan dikatakan bersifat komprehensif jika asuhan keperawatan yang diberikan
berifat menyeluruh meliputi aspek biologi, psikologi, sosial dan spiritual.
c.
Ditujukan kepada individu, keluarga dan
masyarakat sehat maupun sakit
Sesuai
dengan ilmu keperawatan yang melandasi praktek keperawatan, asuhan keperawatan
dapat diberikan kepada individu pada institusi pelayanan kesehatan seperti
puskesmas, poliklinik, klinik keperawatan mandiri dan rumah sakit.
d.
Merupakan bagian integral pelayanan
kesehatan
Pada
hakekatnya pelayanan kesehatan meliputi pelayanan medis (kedokteran), pelayanan
keperawatan dan pelayanan penunjang kesehatan ( gizi, farmasi, laboratorium,
dsb). Sebagai bagian integral pelayanan kesehatan, pelayanan keperawatan tidak
dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan lain. Hal ini bertujuan pemberian
asuhan keperwatan sejalan dengan tujuan pemberian pelayanan kesehatan.
e.
Mencakup siklus hidup manusia
Artinya,
asuhan keperawatan dapat diberikan kepada klien sejak dalam kandungan sampai
tutup usia. Yaitu sejak konsepsi (pertemuan sperma dan ovum), setelah lahir
(bayi), anak, remaja, dewasa, usia lanjut sampai menjelang kematian.
3. Fokus Praktek Keperawatan
Profesional
Praktek
keperawatan tidak boleh terlepas dari upaya kesehatan masyarakat dunia dan
sistem kesehatan nasional. focus utama keperawatan saat ini adalah kesehatan
masyarakat dengan target populasi total. Manusia tidak hanya dipandang dari
aspek fisik tetapi manusia dipandang sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual.
tujuan praktek keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985) harus diupayakan
pada pencegahan primer, peningkatan kesehatan pasien, keluarga dan masyarakat,
perawatan diri dan peningkatan kepercayaan diri.
Praktik
keperawatan meliputi empat area yang terkait dengan kesehatan (Kozier,
Erb,1990) :
a.
Peningkatan kesehatan (Health Promotion).
Dalam kegiatan ini, perawat membantu
masyarakat mengembangkan sumber–sumber atau meningkatkan kesejahteraan/kesehatan.
Tujuannya adalah mencapai kesehatan yang optimal, dengan contoh menjelaskan
manfaat program latihan bagi pasien.
b. Pemeliharaan
kesehatan (Health Maintenance).
Perawat melakukan aktivitas untuk
membantu masyarakat mempertahankan status kesehatannya. Contoh kegiatan disini
adalah mengajarkan atau menganjurkan seseorang usia lanjut melakukan latihan untuk mempertahankan
kekuatan dan mobilitas otot.
c. Pemulihan
Kesehatan (Health restoration).
Perawat membantu pasien meningkatkan
kesehatan setelah pasien memiliki masalah kesehatan atau penyakit. Sebagai
contoh adalah mengajarkan pasien merawat luka atau membantu orang cacat
mempertahankan kekuatan fisik seoptimal yang dapat dilakukan.
d. Perawatan
orang yang menjelang ajal.
Perawat memnerikan rasa nyaman dan
merawat orang dalam keadaan menjelang ajal. kegiatan dapat dilakukan dirumah
sakit, rumah, dan fasilitas kesehatan yang lain.
C.
Enterpreneur
Entrepreneurship atau kewirausahaan,
berasal dari entrepreneur (wirausahawan) berasal dari bahasa Perancis entreprende
yang berarti mengambil pekerjaan (to undertake). Konsep mengenai
entrepreneur adalah: the entrepreneur is one who undertakes to organize,
manage, and assume the risk of business.
Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya
berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang
menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan
pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru. Sementara, istilah
Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha. (Hisrich, R.D. dkk., 2005. Entrepreneurship.
sixth edition. New York: McGraw-Hill
Entrepreneurship adalah jiwa entrepreneur yang dibangun untuk
menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi
pembentukan perusahaan baru, aktivitas serta kemampuan managerial yang
dibutuhkan seorang entrepreneur. (Hisrich, R.D. dkk., 2005. Entrepreneurship.
sixth edition. New York: McGraw-Hill)
Menurut
Para Ahli :
Peter F
Drucker
Kemampuan untuk menciptakan
sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) .
Thomas W Zimmerer
Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan
keinovasian untuk permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang
dihadapi orang setiap hari.
Andrew J
Dubrin
Seseorang
yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif
Robbin
& Coulter
Entrepreneurship is the process whereby an individual or
a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities
to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and
uniqueness, no matter what resources are currently controlled.
Dari definisi tentang
Entrepreneurship diatas terdapat 3 tema penting yang dapat di identifikasi:
1. The
Pursue of Opportunities ,
2. Innovation,
3. Growth
a.
Pursuit
of Opportunities , (entrepreneurship adalah berkenaan dengan mengejar
kecenderungan dan perubahan-perubahan lingkungan yang orang lain tidak melihat
dan memperhatikannya).
b.
Innovation, (entrepreneurship mencakup perubahan perombakan,
pergantian bentuk, dan memperkenalkan pendekatan-pendekatan baru Yaitu produk
baru atau cara baru dalam melakukan bisnis)
c.
Growth (Pasca entrepreneur mengejar pertumbuhan, mereka tidak
puas dengan tetap kecil atau tetap dengan ukuran yang sama. Entrepreneur
menginginkan bisnisnya tumbuh dan bekerja keras untuk meraih pertumbuhan
sambil secara berkelanjutan mencari kecenderungan dan terus melakukan innovasi
produk dan pendekatan baru .
Istilah kewirausahaan pada dasarnya merupakan suatu
disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku
seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan
berbagai risiko yang mungkin dihadapinya, maka definisi:
“Entrepreneurship is the result of a disiplined,
systimatic process of applying creativity and innovations to satisfy need and
opportunities of the marketplace“
Kewirausahaan
/ Entrepreneurship adalah suatu
kemampuan untuk mengelola sesuatu yang ada pada diri kita untuk dimanfaatkan
dan ditingkatkan agar lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup
kita.
Kewirausahaan
juga berarti, proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan mengabdikan
seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung risiko keuangan,
kejiwaan, sosial dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan kepuasan
pribadinya.
Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship, entrepreurial
dan entrepreneur yaitu:
1)
Entrepreneurship
adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan
kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru,
aktivitas kewirausahaan juga kemampuan manajerial yang dibutuhkan seorang
entrepreneur.
2)
Intrapreneurship
didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang
merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
3)
Entrepreneur
didefinisikan
sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan
aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar dari
pada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi
dan aturan baru.
4)
Entrepreurial
adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.
Kewirausahaan mengacu
pada perilaku yang meliputi:
1)
Pengambilan inisiatif
2)
Mengorganisasi dan reorganisasi
mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada
perhitungan praktis.
3)
Penerimaan terhadap resiko dan
kegagalan.
Kewirausahaan meliputi
proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbulpengertian baru dalam
kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai
sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan
memperkirakan dana pendukung, fisik, dan resiko sosial, dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta
kemandirian personal. Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang
dimiliki oleh seorang wirausahawan yaitu:
1)
Proses berkreasi yakni mengkreasikan
sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak
hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan
hasil kreasi tersebut.
2)
Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan
waktu dan usaha yang diberikan. Semakin besar fokus dan perhatian yang
diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul
dalam kewirausahaan.
3)
Memperkirakan resiko yang mungkin
terjadi, dalam hal ini resiko yang mugkin terjadi pada resiko keuangan, fisik
dan resiko sosial.
4)
Memperoleh reward, dalam hal ini reward terpenting adalah independensi atau kebebasan
yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reeward berupa uang biasanya
dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.
1. Pendidikan Kewirausahaan
Anggapan lama mengatakan “ Entrepreneurship are born not made”
sehingga kewirausahaan tidak dapat dipelajari atau diajarkan. Sementara
anggapan sekarang “ Entrepreneurship are
not only born also made”. Sehingga kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan
sejak lahir atau urusan pengalaman di lapangan saja, tetapi merupakan disiplin
ilmu yang dapat dipelajari.
Transformasi
pengetahuan kewirausahaan telah berkembang pada akhir-akhir ini. Pendidikan dan
pelatihan kewirausahaan tumbuh pesat. Mata kuliah kewirausahaan diberikan dalam
bentuk kuliah umum ataupun bentuk konsentrasi program studi.
Kewirausahaan merupakan
disiplin ilmu tersendiri karena berisi:
a. Body
of knowledge yang utuh dan nyata, ada objek, konsep dan modelnya.
b.
Kewirausahaan memiliki dua konsep,
posisi venture start up dan venture growth, tidak memisahkan antara manajemen
dan kepemilikan usaha.
c.
Merupakan disiplin ilmu yang memiliki
objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda.
d.
Merupakan alat untuk menciptakan
pemerataan usaha dan pendapatan atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
e.
Kewirausahaan telah dijadikan kompetensi
inti dalam menciptakan perubahan, perbaharuan dan kemajuan.
f.
Objek studi kewirausahaan adalah
kemampuan merumuskan bertujuan hidup, memotivasi diri, berinisiatif, membentuk
modal, mengatur waktu, dan membiasakan diri untuk belajar dari pengalaman.
g.
Kewirausahaan pada hakikatnya adalah
sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan
gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.
2. Motivasi berwirausaha
![]() |
![]() |
![]() |


![]() |
Gambar 2.1 Motivasi Berwirausaha
Teori
3 kebutuhan David McClelland:
N’Ach,
need for achievment, wirausaha yang
memiliki motivasi ini selalu ingin berprestasi/ meraih yang terbaik, umumnya
memiliki ciri-ciri:
a. Ingin
mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada
dirinya.
b. Selalu
memerlukan umpan balik yang segera untuk dapat mengukur keberhasilan atau
kegagalan.
c. Memiliki
tanggung jawab personal yang tinggi.
d. Berani
menghadapi resiko dengan penuh tantangan.
e. Menyukai
tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.
N’Pow,
need for power, yaitu hasrat untuk
mempengaruhi, mengendalikan dan menguasai orang lain. Ciri umum adalah senang
bersaing, berorientasi pada status dan menguasai orang lain.
N’Aff,
need for affilitation, yaitu hasrat
untuk dapat diterima dan disukai oleh orang lain. Wirausaha yang berfiliasi
tinggi lebih menyukai persahabatan, bekerjasama, dan saling pengertian.
3. Prinsip-Prinsip Kewirausahaan
a.
Prinsip
Wirausaha I
Kekuatan yang mendorong kesuksesan
perusahaan strart up terdiri dari tiga macam: peluang, tim dan sumber daya.
Proses kewirausahaan diawali bukan dari ketersediaan uang, strategi, network,
tim ataupun rencana bisnis, melainkan dari adanya peluang. Peluang yang
berpotensi tinggi terkadang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari pada
ketersediaan sumbe daya atau tim pada saat itu. Peran entrepreneur dan tim
adalah menjaga keseimbangan antara tiga kekuatan tersebut dalam lingkungan yang
terus berubah. Ketidakpastian dan resiko menjadi teman sejati para
entrepreneur.
Adanya keseimbangan akan membantu
entrepreneur dalam mencapai keberlanjutan atau sustanbility perusahaan tanpa
harus merusak lingkungan, komunitas atau masyarakat. Rencana bisnis berfungsi
sebagai komunikator kualitas dan keseimbangan kekuatan pada saat tertentu.
b.
Prinsip
Wirausaha II
Dunia
kewirausahaan bersifat dinamis, cair, ambigu, dan chaos. Perubahan yang konstan
terjadi menyebabkan dunia kewirausahaan berkaitan erat dengan paradoks.
1) Untuk bisa sukses, jangan takut
untuk gagal.
Kasus yang biasanya terjadi adalah jika
perusahaan pertama gagal, entrepreneur belajar dari pengalaman dan kemudian
membentuk perusahaan lagi yang ternyata sangat sukses di masa depan.
2) Rencana bisnis akan cepat menjadi
uang.
Kondisi persaingan, teknologi, dan pasar
yang sangat dinamis menyebabkan kita kesulitan untuk mengetahui semua kondisi
kompetisi. Hasilnya adalah rencana bisnis cepat menjadi uang begitu ia selesai
dicetak. Entrepreuneur harus melatih kebiasaan berencana dan bereaksi secara
cepat, mengkombinasikan logika dan intuisi sampai kebiasaan ini menjadi sesuatu
yang refleks.
3) Agar kreativitas dan inovasi
berhasil, harus ada disiplin ilmu yang mengimbangi.
Penemuan-
penemuan produk harus dibarengi dengan ilmu mengenai komersialiasi teknologi
atau produk, jika tidak, maka penemuan ini tidak akan mampu memberikan nilai
tambah bagi perusahaan dan masyarakat.
4) Entrepreneur harus bisa bertindak
cepat, tetapi juga harus sabar.
Sementara kompetitor bergerak cepat, entrepreneur
harus belajar menentukan kapan ia harus bertindak dan kapan ia harus bertahan.
5) Semakin besar ukuran dan kontrol
terhadap perusahaan, semakin rendah kinerja.
Kewirausahaan memerlukan fleksibilitas
tingggi dalam strategi dan taktik. Kontrol dan keteraturan yang berlebih dapat
menghambat kemajuan perusahaan
c.
Prinsip
Wirausaha III
Setiap manusia akan menghadapi resiko
dalam hidupnya. Begitupun dengan entrepreneur, berikut adalah beberapa resiko
yang umum di hadapi entrepreneur yaitu:
1) Resiko
Finansial
Pada perusahaan yang baru berdiri,
entrepreneur memberikan sebagian simpanannya untuk modal. Uang ataupun aset
lain yang disimpan ini akan hilang jika perusahaan ternyata gagal. Entrepreneur
akan bertangggung jawab menanggung kewajiban perusahaan yang nilainya mungkin
jauh melebihi jumlah simpanan. Oleh karena itu, entrepreneur beresiko
kebangkrutan.
2) Resiko
karir
Pertanyaan yang sering ada di benak
entrepreneur adalah apakah mereka akan menemukan pekerjaan atau kembali ke
pekerjaannya yang dulu jika bisnisnya gagal. Resiko ini merupakan pertimbangan
utama bagi manajer yang bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang menarik.
3)
Resiko keluarga dan social
Memulai usaha baru akan menyerap banyak
energi dan waktu dari entrepreneur. Konsekuensinya adalah bidang kehidupan yang
lain akan dikorbankan. Entrepreneur yang sudah menikah, terutama yang memiliki
anak, akan beresiko tidak bisa hadir sepenuhnya untuk keluarganya. Kehidupan
sosialnya mungkin akan terganggu juga.
4) Resiko
kesehatan
Jam kerja yang panjang menyebabkan
terancamnya kesehatan entrepreneur. Uang dapat digantikan, keluarga dapat
beradaptasi, namun kesehatan yang terganggu lebih sulit untuk diperbaiki.
D.
PENGERTIAN NURSEPRENEUR
1. Secara konseptual
Nursepreneur termasuk dalam pengembangan karir dari peran dan fungsi perawat.
pengembngan karir tersebut dapat menjadi pengelola klinik atau sarana kesehatan
lainnya. Misalnya manager spa, manager fisioterapi, manager Nursing Center,
manager Balai kesehatan swasta, pemilik massage dan refleksi, meskipun dalam
pelaksanaan teknisnya banyak melibatkan profesi lain sebagai pelaksana, dalam
hal ini perawat dapat bertindak sebagai pemilik modal, penggagas ide, pemilik
saham, atau owner yang akan menggaji karyawannya. Hal seperti ini sudah mulai
ada di Indonesia, misalnya Saat pembubaran Konas jiwa. Di Bali perawat memiliki
balai Keperawatan yang dipadukan dengan fisioterapi.
Selain peran tersebut perawat juga dapat melakukan penelitian-penelitian, sebagai contoh adanya tim riset yang meneliti perawatan luka, cara ganti balutan efektif, kompres modern, terapi modalitas, tehnik relaksasi dsb. Masalah penelitian direkomendasikan dari Rumah sakit atau intistusi kesehatan yang membutuhkan solusi. Misalnya kenapa kunjungan ke RS tertentu sangat rendah, maka perawat manajemen akan melakukan riset yang didanai rumah sakit yang bersangkutan, termasuk riset kepuasan klien.
Disamping peran-peran di atas perawat dapat juga bergerak dalam bidang pendidikan atau menyediakan pelatihan-pelatihan atau sebagai konsultan. Misalnya pelatihan baby siter, pelatihan perawat lansia, perawat anak di rumah atau perawat yang akan mendampingi klien saat ibadah haji.
Nursepreneur adalah rangkaian dari dua kata kata yaitu “nurse’ dan “Entrepreneur”. Nurse artinya seorang perawat, sedangkan Entrepreneur sendiri memiliki berbagai pengertian dan sifat, salah satunya yang disampaikan oleh John G. Burch, Entreprenuer memiliki sifat :
Selain peran tersebut perawat juga dapat melakukan penelitian-penelitian, sebagai contoh adanya tim riset yang meneliti perawatan luka, cara ganti balutan efektif, kompres modern, terapi modalitas, tehnik relaksasi dsb. Masalah penelitian direkomendasikan dari Rumah sakit atau intistusi kesehatan yang membutuhkan solusi. Misalnya kenapa kunjungan ke RS tertentu sangat rendah, maka perawat manajemen akan melakukan riset yang didanai rumah sakit yang bersangkutan, termasuk riset kepuasan klien.
Disamping peran-peran di atas perawat dapat juga bergerak dalam bidang pendidikan atau menyediakan pelatihan-pelatihan atau sebagai konsultan. Misalnya pelatihan baby siter, pelatihan perawat lansia, perawat anak di rumah atau perawat yang akan mendampingi klien saat ibadah haji.
Nursepreneur adalah rangkaian dari dua kata kata yaitu “nurse’ dan “Entrepreneur”. Nurse artinya seorang perawat, sedangkan Entrepreneur sendiri memiliki berbagai pengertian dan sifat, salah satunya yang disampaikan oleh John G. Burch, Entreprenuer memiliki sifat :
1.
Berhasrat mencapai prestasi
2.
Seorang Pekerja keras
3.
Ingin bekerja untuk dirinya
4.
Mencapai kualitas
5.
Berorientasi kepada Reward dan Kesempurnaan
6.
Optimis
7.
Berorganisasi
8.
Berorientasi kepada keuntungan
Seseorang yang berprofesi apapun, asal mampu menerapkan 8 aspek
sifat Entrepreneur dalam kehidupan sehari-harinya, maka dapat dikategorikan
sebagai Entrepreneur, termasuk seorang perawat. Dengan jiwa Entrepreneur
masalah sehari-hari yang dihadapi perawat di ruangan akan menjadi uang. Karena
perawat yang berjiwa entreperneur memilki cirri berorientasi pada keuntungan.
Sebagai contoh masalah menumpuknya botol infus bekas, abocate yang tak terpakai,
sisa makanan pasien, cucian keluarga perawat, penunggu pasien, terpisahnya
hubungan secara langsung antara orang tua yang sakit dengan anak.
Disamping hal tersebut ada fenomena menarik seperti apa-apa yang
dilakukan oleh perawat yang tergabung dalam asosiasi perawat Indonesia yang
bekerja di malaysia, Saudi Arabia, Qatar dan Kuwait. Mereka mencoba
berorganisasi sebagai ciri Nursepreneur dan memiliki keberanian untuk hijrah
dengan Berorientasi kepada keuntungan berupa besarnya gaji yang diperoleh, gaji
tersebut selanjutnya dijadikan aset yang akan menjadi mesin uang
2. Secara konseptual
Nursepreneur memiliki ciri sebagai berikut :
a.
Pengerahan Diri : Pendisiplinan diri dan secara menyeluruh merasa
nyaman bekerja untuk diri sendiri.
b.
Pengasuhan Diri : Antusiasme tak terbatas untuk ide-ide Anda saat
tak seorang pun memilikinya.
c.
Orientasi pada Tindakan : Hasrat menyala untuk memujudkan,
mengaktualisasi kan dan mengubah ide – ide Anda menjadi kenyataan.
d.
Energi Tingkat Tinggi : Mampu bekerja dalam waktu lama secara emosional,
mental dan fisik.
e.
Toleransi atas Ketidakmenentuan : Secara psikologis mampu
menghadapi resiko
Entrepeneur bagi perawat sebetulnya bisa
dipelajari sambil melakukannya (learning by doing), namun harus diingat bahwa
wawasan tentang jenis usaha yang akan dipilih tetap sangat diperlukan karena
jika tanpa hal itu sama dengan menyelam ke dasar laut tanpa tabung gas.
Jadi yang terpenting dari seorang Nursepreneur adalah inovasi dan keberanian untuk mengambil risiko serta siap bekerja keras mencapai tujuan dengan optimis. Inilah yang membuat entreprenur selalu tampil dengan gagasan–gagasan baru yang segar, melawan arus pemikiran orang banyak atau kreatif.
Jadi yang terpenting dari seorang Nursepreneur adalah inovasi dan keberanian untuk mengambil risiko serta siap bekerja keras mencapai tujuan dengan optimis. Inilah yang membuat entreprenur selalu tampil dengan gagasan–gagasan baru yang segar, melawan arus pemikiran orang banyak atau kreatif.
Perawat entrepreneur mungkin bisa diartikan sebagai perawat yang mempunyai jiwa wirausaha. Entrepreneur/wirausaha/pebisnis, yang tidak dikenali seperempat abad lalu, saat ini diajarkan sebagai mata kuliah di universitas di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, ratusan perguruan tinggi mengajarkan itu. Apakah ini benar-benar fenomena baru? Tidak persis demikian. Kita sebenarnya dilahirkan sebagai entreperneur.
Keberanian, kreativitas, dan inisiatif semuanya adalah sifat yang dimiliki seseorang sejak lahir. Itu alami, melekat dalam diri kita, Tinggal masalahnya, buatlah kemampuan itu muncul dan bekerja optimal.
Kita sebagai perawat sudah pernah memenangkan
persaingan yang paling akbar di jagat raya ini yaitu 700 juta sel sperma yang
bersaing membuahi ovum. Kitalah pemenangnya. Lalu berkembang menjadi bayi, bayi
manapun di dunia ini, sebelum mereka dibanjiri nilai-nilai dan peraturan
masyarakat, tanpa perlu ikut seminar tentang ”berjalan”, ia belajar berjalan
sampai bisa. Setiap kali si bayi yang belajar berjalan, ia tersandung dan
terjatuh kemudian bangkit lagi. Bayi itu pun belajar berbicara tanpa perlu
mengikuti kurus bahasa. Sayangnya, semua kelebihan itu hilang ketika ia
memasuki institusi yang kita sebut sekolah.
Pertanyaannya adalah adakah institusi di dunia ini yang bisa mengajari cara menjalankan bisnis kita sendiri? Kalau kita sebut beberapa kursus atau jurusan bisnis dengan nama-nama tetentu yang ditawarkan oleh universitas atau sebuah lembaga kursus. Terus terang, itu semua tidak mengajarkan kita bagaimana menjalankan bisnis untuk diri kita sendiri. Mereka hanya mengajarkan kita bagaimana menjalankan bisnis untuk orang lain. Kalau kita mengikuti kursus akuntansi, yang diajarkan adalah bagaimana kita menghitung uang orang lain.
Entrepreneur bagi perawat bisa dipelajari sambil melakukannya (learning by doing), namun harus diingat bahwa wawasan tentang jenis usaha yang akan dipilih tetap sangat diperlukan karena jika tanpa hal itu sama dengan menyelam ke dasar laut tanpa tabung gas.
Dalam bidang pekerjaan apapun, yang namanya income harian, mingguan, bulanan, tahunan dan “dadakan”, semuanya penting terpenuhi. Tetapi selain itu kita masih bisa melakukan hal lain, banyak bisnis/usaha yang bisa dilakukan perawat, jadi sambil bekerja sebagai perawat, namun memiliki usaha sampingan di bidang wirausaha.
Bekerja di luar negeri bisa menjadi langkah awal menjadi pebisnis dan investor. Perawat di luar negeri rata-rata mencapai gaji 10 x lipat perawat di Indonesia. Sebelum menjadi pengusaha kita memang perlu modal finansial dan modal karakter. Setiap orang, siap atau tidak, kondisi akan mendorongnya menjadi seorang entrepreneur, sekarang jaman sudah berubah.
3.
Kiat Menjadi Nursepeneur
Seorang perawat dapat menjadi nurse Entrepreneur
atau menjadi nurse Intrapreneur. Seorang perawat nurse Entrepreneur adalah
seorang perawat yang menjalankan wirausahanya sendiri atau dengan beberapa
teman dalam bisnis keperawatan. Sebaliknya seorang perawat Intrapreneur adalah
seorang perawat yang menjalankan “bisnis” dalam divisi atau bagian dari satu
perusahaan yang telah ada. Menjadi seorang Intrapreneur lebih aman, mendapatkan
karir, dan dapat melangkah menjadi Entrepreneur. Tentu saja ini berbeda dengan
apa yang umumnya perawat lakukan, dan bukan bekerja di RS yang tentu saja yang
secara alamiah bukan tempat “berbisnis”.
Ketrampilan dan karakter
perawat yang diperlukan berbeda sekali, mesti memiliki semangat wirausaha,
memulai sendiri, bertanggung jawab secara keuangan, mencoba hal baru, dan
berani. Anda sebagai perawat juga dituntut memiliki jiwa sales, customer
services, budgeting, forecasting dan manajemen.
Secara mudahnya lebih baik menjadi perawat Intrapreneur dulu, sambil bekerja dalam satu institusi bisnis atau sambil bekerja sebagai perawat, namun memiliki usaha sampingan di bidang wirausaha. Setelah kita yakin siap, maka bisa langsung terjun dalam Entrepreneurship untuk mengurus bisnis sendiri.
Secara mudahnya lebih baik menjadi perawat Intrapreneur dulu, sambil bekerja dalam satu institusi bisnis atau sambil bekerja sebagai perawat, namun memiliki usaha sampingan di bidang wirausaha. Setelah kita yakin siap, maka bisa langsung terjun dalam Entrepreneurship untuk mengurus bisnis sendiri.
4.
Menjadi Employer Kemudian Investor
Menurut Robert Kiyosaki tingkatan terendah dalam
bekerja menurut penghasilannya adalah Employer (pekerja), tingkatan kedua
adalah owner (pemilk) dan tingkatan ketiga adalah investor (pemilik modal).
Jawaban menarik yang disampaikan oleh para perawat yang bekerja di Kuwait kalau
ditanyakan apakah ingin bekerja sebagai perawat kembali di Indonesia nanti
(saat resign)?, Sebagaian besar mereka menjawab ”tidak”. Sehingga banyak dari
mereka yang telah merintis berbagai jenis usaha bisa berhubungan dengan dunia
keperawatan/kesehatan atau bahkan tidak sama sekali. Banyak teman perawat yang
selalu setiap annual leave (cuti tahunan) mulai merintis bidang usaha baru,
yang dikelola keluarga/teman, atau membuat kontrakan, transportasi, buka toko
obat, bisnis fotocopy, makanan, property, wartel/warnet, usaha komputer,
service Hp, bengkel, dsb.
Mereka memiliki keyakinan
bahwa dalam bidang pekerjaan apapun, yang namanya income harian, mingguan,
bulanan, tahunan dan “dadakan”, serta income antar negara (income di LN dan di
Indonesia ) semuanya penting terpenuhi. Bekerja di LN bisa menjadi langkah awal
menjadi pebisnis dan investor. Perawat di luar negeri rata-rata mencapai gaji
10 x lipat perawat di Indonesia. Sebelum menjadi pengusaha kita memang perlu
modal finansial dan modal karakter. Untuk mencari modal finansial kita boleh
menjadi karyawan dulu (employer). Setelah gaji kita ditabungkan maka kita mulai
punya modal finansial yang akan kita rubah menjadi mesin pencetak uang (aset).
Kemudian hasilnya dapat diinvestasikan.
5.
Mampu Berpikir Untung (Think Benefit) Merubah Paradigma Berpikir (Change
Thinking Paradigm)
Perawat sering berhadapan dengan berbagai
masalah saat bekerja misalnya macet saat mau dinas ke Rumah sakit, mencuci baju
putih yang gampang kotor, sampah medis yang berserakan, sulitnya meninggalkan
anak saat dinas, jauhnya kantin saat makan siang, tidak keburu masak di rumah,
mahalnya biaya berkomunkasi dengan suami.
Seorang perawat yang berjiwa Entrepreneur akan mulai berpikir beda dan berpikir untung. Tahap selanjutnya mungkin muncul gagasan-gagasan segar dan ide – ide kreatif misalnya perawat menciptakan CD rekaman English for nurse saat macet, laundry for nursing staf, Re-use machine for waste medical, katering siap antar bagi perawat atau penitipan bayi bagi perawat. Ide – ide tersebut harus dibiasakan muncul. Seberapa jeleknya ide itu atau seberapa sepelenya ide itu tetap harus dimunculkan. Di luar negeri justru ide sepele itulah yang menghasilkan royalti jutaan, misalnya ide tentang alat penjepit kuping anjing jenis tertentu, yang telinganya menjuntai saat makan dan tercelup pada makanan
6. Model Enterpreneurship
Model Entrepreneurship secara sederhana dimulai dengan diketahui adanya peluang, mampu menggunakannya, kemudian jika terdapat hambatan, mampu mengatasi hambatan yang ada. Diperlukan juga kemampuan cara melakukan Entrepreneurship itu sendiri sehingga tercipta usaha baru (peluang menjadi usaha baru).
Peluang perawat menjadi Entrepreneur dibagi
menjadi:
Trend demografi : Jumlah lansia yang semakin banyak tentunya memerlukan perawatan dalam menjalani hidupnya. Dalam menjalani pengobatan mungkin beberapa klien memerlukan penjagaan atas privacynya sehingga memerlukan pelayanan secara khusus.
Trend demografi : Jumlah lansia yang semakin banyak tentunya memerlukan perawatan dalam menjalani hidupnya. Dalam menjalani pengobatan mungkin beberapa klien memerlukan penjagaan atas privacynya sehingga memerlukan pelayanan secara khusus.
Kesempatan di falitas kesehatan :Terlibat dalam produksi atau pendistribusian suplemen yang baik untuk pasien di rumah sakit. Mungkin kedepannya tidak menutup kemungkinan rumah sakit akan melakukan outsourcing tenaga perawat untuk memotong besarnya biaya rumah sakit, hal ini tentunya rumah sakit tidak akan memaksakan tenaga perawat yang sedikit untuk merawat pasien yang sangat banyak dan sebaliknya jika pasien sedikit rumah sakit bisa menyesuaikan kebutuhan tenaga perawat.
Trend sosial : Gaya hidup yang sibuk berdampak buruk terhadap kesehatan seseorang sehingga untuk tetap sehat membutuhkan perawatan untuk mempertahankan kesehatanny, dalam hal ini focus kepada kelompok – kelompok tertentu seperti klub jantung sehat.
Peluang – peluang diatas sangat mungkin dimanfaatkan oleh perawat karena perawat di rumah sakit sangat dekat dengan pasien, namun untuk memanfatkan peluang tersebut perawat sering menghadapi hambatan – hambatan diantaranya: isu malpraktek, tidak punya hak istimewa dari rumah sakit, padangan skeptis dari beberapa dokter tentang peran independen perawat, dan ketakutan rumah sakit akan menurunnya kedisiplinan perawat.
Aspek legal : Perawat dalam menjalankan Entrepreneurship-nya sering dihantui oleh sangsi hukum, oleh karena itu banyak perawat berharap untuk disahkannya RUU praktik keperawatan. Tetapi tentunya aspek hukum yang harus dikuasai bukan hanya tentang perawat tentunya undang – undang atau peraturan hukum lainnya juga harus dikuasai oleh perawat.
Etik dan konflik personal : Banyak perawat beranggapan bahwa berbisnis bertentangan dengan kode etik dan nilai perawat dimana berbisnis maka akan menurunkan penilaian masyarakat terhadap perawat. Dan untuk menghindari terjadinya konflik personal perawat lebih suka bekerja di klinik tempat praktek dokter, hal ini menyebabkan fungsi mandiri dari perawat dinilai tidak ada oleh masyarakat atau dengan kata lain tidak kompeten dan menjadi perawat tidak survive untuk menunjukan eksistensi tindakan keperawatan mandiri.
Hambatan dari pengetahuan : Kemampuan perawat dalam memulai bisnis belum terlihat hal ini disebabkan karena ketidakmampuan mengembangkan perencanaan bisnis (akutansi, pemasaran, manajeriar, asuransi, hukum, perencanaan, insurance, anggaran, pendanaan, negosiasi, penagihan, keterampilan klinik dan keperawatan). Manajemen perawat lebih difokuskan kepada manajemen pasien tidak kepada manajemen perusahaan dan masih banyak perawat beranggapan bahwa masyarakat hanya membutuhkan rumah sakit dan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan, kalau berbisnis mempunyai risiko yang tinggi. Hal ini berdampak banyak perawat kesulitan dalam memulai usaha baru.
Solusi : Untuk mengatasi masalah diatas diantaranya dengan cara :
(1) Untuk memulai harus mempunyai mentor , dan
tentunya kepada perawat yang sudah menjadi Entrepreneur sejati harus terpanggil
jika menginginkan terbentuk perawat yang berjiwa Entrepreneur. Sehingga perawat
berani memulai bisnis baru.
(2) Perawat harus membuat komuniti perawat Entrepreneurship sehingga dapat menggali potensi bisnis perawat, mengetahui tren bisnis perawat yang baru dan membuat arahan – arahan yang positif untuk meningkatkan income bagi bisnis perawat.
(3) Organisasi profesi harus mampu membuat dan mengembangkan area – area Entrepreneurship perawat termasuk perlindungan hukumnya.
(4) Membuat komuniti untuk
mengidentifikasi portensi bisnis perawat, terhubung dengan trend bisnis baru
dan meningkatkan arahan – arahan untuk meningkatkan praktek.
(5) Perawat harus memperbaiki mental
Entrepreneurnya dan mempelajari peran – peran seorang Entrepreneur.
(6) Kerjasama dengan pihak – pihak lain seperti
rumah sakit, pemerintah dan swasta yang dapat dijembatani oleh organisasi profesi.
7. Langkah Perawat Menjadi Nursepreneur
Isu kesejahteraan perawat saat ini masih gencar dihembuskan selain isu profesionalisme. Kesejahteraan perawat yang berbanding lurus dengan gaji perawat konon berbanding terbalik dengan beban kerja perawat. Mengharapkan pemerintah untuk melihat hal itu, rasanya tidak mungkin (tampak pada ketidakjelasan RUU Keperawatan) karena saat ini perawat di Indonesia masih belum memiliki bargaining position di mata pemerintah.
Salah satu solusi yang bisa diambil untuk membackup kesejahteraan perawat tanpa perlu menggantungkan pada gaji dari pemerintah, adalah dengan menjadi Nursepreneur (Perawat Pengusaha).
Konsep Nursepreneur sudah lama muncul dalam dunia keperawatan. Namun, di Indonesia konsep ini belum begitu familiar. Ada satu hal yang sangat menarik dari konsep ini, yaitu untuk menjadi perawat pengusaha atau perawat pebisnis kita hanya perlu 5 langkah. Uniknya 5 langkah ini sangat sering dilakukan oleh perawat. 5 langkah itu adalah bagian dari PROSES – KEPERAWATAN yang terdiri dari (1) pengkajian, (2) diagnosa, (3) perencanaan, (4) implementasi, dan (5) evaluasi. Jika dikaitkan dengan NURSEPRENEUR, proses keperawatan itu akan menjadi 5 langkah awal untuk menjadi perawat pengusaha atau perawat pebisnis, yaitu :
1.PENGKAJIAN :Langkah pertama untuk memulai
berbisnis adalah kita melakukan pengkajian. Masalah adalah hal pertama yang
kita ingin dapatkan dari proses pengkajian. Maka untuk memulai bisnis, kita
harus mengetahui masalah apa yang terjadi. Saat ini yang paling berkuasa dalam
dunia bisnis adalah pasar (market). Maka pengkajian yang kita lakukan untuk
memulai berbisnis adalah mengkaji kebutuhan pasar. Pasar memerlukan apa? Ada
masalah apa?
2.DIAGNOSA : Langkah kedua setelah melakukan
pengkajian adalah menetapkan diagnosa. Dalam dunia bisnis, setelah kita
mengetahui kebutuhan pasar maka yang selanjutnya dilakukan adalah memetakan
potensi yang bisa kita masuki untuk menjawab kebutuhan pasar. Pemetaan potensi
itu dalam langkah ini adalah tahap diagnosa.
3.PERENCANAAN : Setelah kita mengetahui potensi
pasar yang bisa kita masuki, maka langkah selanjutya adalah menyusun rencana
untuk bisa masuk kedalam pasar yang sesungguhnya. Tahap perencaan ini merupakan
tahap ketika kita harus memiliki konsep usaha yang jelas dan detail. Apa yang
kita jual? Apa yang kita berikan kepada konsumen? Apa solusi yang bisa
dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar?
4.IMPLEMENTASI : Langkah ini adalah tahap bagi
kita untuk take action. Konsep usaha yang jelas harus diwujudkan dalam bentuk
nyata. Tahap ini merupakan tahap yang paling inti dalam proses berbisnis dan
tentu saja merupakan tahap yang paling sulit. Semua orang bisa punya ide, namun
tidak semua orang berani take action.
5.EVALUASI :
Dalam sistem apapun, evaluasi merupakan bagian
penting dan tidak boleh terlupakan. Dari evaluasi ini, kita bisa mengetahui
apakah implementasi yang kita lakukan berhasil atau tidak. Sama dalam dunia
bisnis, evaluasi akan memberikan gambaran kepada kita apakah konsep yang sudah
kita jalankan berhasil atau tidak. Jika berhasil, maka kita bisa lakukan
peningkatan, namun jika tidak, perubahan rencana dan strategi bisa dilakukan.
5 langkah diatas merupakan gambaran umum dan
sederhana untuk memulai menjadi Nursepreneur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar