Sabtu, 18 Januari 2014

konsep manajemen



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1         Konsep Manajemen
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Di dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan POAC (planning, Organizing, Actuating, Controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi. (Nursalam, 2007).
Manajemen didefinisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah. Manajemen juga merupakan proses pengumpulan dan mengorganisasi sumber-sumber dalam mencapai tujuan (melalui kerja orang lain) yang mencerminkan dinamika suatu organisasi.tujuan ditetapkan berdasarkan misi,filosofi dan tujuan organisasi.proses manajemen meliputi kegiatan mencapai tujuan organisasi melalui perencanaan organisasi,pengarahan dan pengendalian sumber daya manusia,fisik,dan teknologi.semua perawat yang terlibat dalam manajemen keperawatan dianggap perlu memahami misi,Filosofi dan tujuan pelayanan keperawatan serta kerangka konsep kerjanya. (Anonim, 2011).
Manajemen didefinisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah. Manajemen juga merupakan proses pengumpulan dan mengorganisasi sumber-sumber dalam mencapai tujuan (melalui kerja orang lain) yang mencerminkan dinamika suatu organisasi.tujuan ditetapkan berdasarkan misi,filosofi dan tujuan organisasi.proses manajemen meliputi kegiatan mencapai tujuan organisasi melalui perencanaan organisasi,pengarahan dan pengendalian sumber daya manusia,fisik,dan teknologi.semua perawat yang terlibat dalam manajemen keperawatan dianggap perlu memahami misi,Filosofi dan tujuan pelayanan keperawatan serta kerangka konsep kerjanya. (Anonim, 2011).

2.2         Sejarah dan Teori Manajemen
Manajemen sebagai sebuah ilmu, berkembang dari berbagai ilmu yang melatar belakanginya seperti ilmu psikologi dan sebagainya. Berbagai ilmu tersebut saling berinteraksi dan menghasilkan dasar – dasar manajemen yang berkembang hingga saat ini termasuk cabang – cabang keilmuan seperti: Manajemen keperawatan, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen resiko, manajemen industri dan sebagainya. Manajemen juga mempelajari bagaimana meningkatkan hasil kerja dengan memperhatikan faktor motivasi dan kepuasan. Hal ini dipelajari oleh Mc Gregon (1960) dalam Suyanto (2008: 3),  yang menyatakan bahwa kepuasan dan motivasi kerja seseorang sangatberpengaruh terhadap hasil kerja yang dicapai. Jika harga diri, otonomi dan kebutuhan staf terpenuhi maka akan tercapai kepuasan dan motivasi kerja yang tinggi sehingga produktifitas akan meningkat.
Perkembangan teori manajemen sampai saat ini telah berkembang dengan pesat. Tapi sampai saat ini juga belum ada teori yang bersifat umum atau berupa kumpulan-kumpulan hukum bagi manajemen yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi.Terdapat tiga aliran pemikiran manajemen, yaitu aliran klasik,aliran hubungan manusiawi dan aliran modern.

2.3         Prinsip-prinsip Manajemen
Menurut Suyanto (2008) Prinsip yang mendasari manajemen keperawatan yaitu:
a.              Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan, karena melalui fungsi perencanaan pimpinan dapat menurunkan resiko kesalahan, memudahkan pemecahan masalah.
b.             Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai waktu yang telah ditentukan.
c.              Manajemen keperawatan melibatkan para pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi saat mengelola kegiatan keperawatan memerlukan keterlibatan pengambil keputusan diberbagai tingkatan manajerial.
d.             Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer keperawatan dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan point utama dari seluruh tujuan keperawatan.
e.              Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
f.              Devisi keperawatan yang baik dapat memotivasi perawat untuk memperlihatkan penampilan kerja yang terbaik.
g.             Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif.
h.             Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perawat.
i.               Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi: penilaian pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi, menetapkan standar dan membandingkannya dengan penampilan serta memperbaiki kekurangan yang terjadi.

2.4         Ruang Lingkup Manajeman
Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang melibatkanberbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian menjadi hak yangpaling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadaiakan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem yang ada. Pelayanan kesehatanyang memadai ditentukan sebagian besar oleh gambaran pelayanan keperawatan yangterdapat didalamnya.
Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer keperawatan yang efektifseyogyanya memahami hal ini dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Kegiatanperawat pelaksana meliputi:
a.    Menetapkan penggunaan proses keperawatan
b.    Melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan diagnose
c.    Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat
d.   Menerima akuntabilitas untuk hasil– hasil keperawatan
e.    Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan
Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa di inisiasi oleh para manajer keperawatanmelalui partisipasi dalam proses manajemen keperawatan dengan melibatkan paraperawat pelaksana. Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatanterdiri dari:
1.    Manajemen operasional
Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh bidang keperawatan yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu: Manajemen puncak,  Manajemen menengah, dan  Manajemen bawah. Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki oleh orang– orang tersebut agar  penatalaksanaannya berhasil. Faktor– faktor tersebut adalah:
a.    Kemampuan menerapkan pengetahuan
b.    Ketrampilan kepemimpinan
c.    Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
d.   Kemampuan melaksanakan fungsi manajemen
2.    Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep– konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi. Persyaratan Ruangan Menjalankan MPKPSyarat-syarat Ruangan menjalankan MPKP adalah sebagai berikut:
a.    Memiliki fasilitas perawatan yang memadai.
b.    Memiliki jumlah perawat minimal sejumlah tempat tid ur yang ada.
c.    Memiliki perawat pendidikan yang telah terspesialisasi
d.   Seluruh perawat telah memiliki kompetensi dalam perawatan primer.

2.5         Fungsi-fungsi Manajemen
Fungsi manajemen diantaranya adalah sebagai berikut :
2.5.1   Perencanaan
a.      Pengertian Perencanaan
Fungsi perencanaan adalah fungsi terpenting dalam manajemen karena fungsi ini akan menentukan fungsi-fungsi manajemen yang lainya. Fungsi perencanaan ini merupakan landasan dasar dari fungsi manajemen secara keseluruhan dan juga merupakan tuntutan terhadap proses pencapaian tujuan secara efisien dan efektif.
Menurut Douglas (1996, dalam Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan) mendefinisikan perencanaan sebagai tindakan dengan tujuan spesifik.  Menurut Mintzberg (1994, dalam Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan) menyatakan bahwa perencanaan merupakan satu pendekatan untuk membuat strategi. Menurut Porter-O’Grady (1994, dalam Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan), perencanaan mencerminkan aktivitas spesifik yang mengarah pada pencapaian tujuan.

Perencanaan manajerial terdiri dari dua bagian utama (Muninjaya, 1999), yaitu:
1)        Perumusan strategi
Pada bagian ini ditetapkan tujuan dan kebijaksanaan umum organisasi. Di sini dibutuhkan keterampilan manajerial yang bersifat konseptual. Perumusan strategi ini biasanya dikerjakan oleh pimpinan puncak suatu organisasi.
2)        Penerapan Strategi
Pada bagian penerapan strategi ini ditentukan upaya pencapaian tujuan. Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan manajerial yang bersifat teknis.  Penerapan strategi ini dikerjakan sepenuhnya oleh para manajer pelaksana dikoordinir oleh manajer tingkat menengah.

2.5.2   Manfaat dan Keuntungan/Kerugian Sebuah Perencanaan
1.    Manfaat Perencanaan (Muninjaya, 1999)
Melalui perencanaan program akan dapat diketahui:
a)   Tujuan dan cara mencapainya
b)   Jenis/struktur organisasi yang dibutuhkan
c)   Jenis dan jumlah staf yang diinginkan dan uraian tugasnya
d)  Sejauh mana efektifitas kepemimpinan dan pengarahan yang diperlukan
e)   Bentuk dan standar pengawasan yang akan dilakukan.
2.    Keuntungan dan Kerugian Perencanaan (Muninjaya, 1999)
1)   Keuntungan dengan tersusunnya sebuah perencanaan:
a)    Perencanaan menyebabkan berbagai macam aktifitas organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dapat dilakukan secara teratur.
b)   Perencanaan akan mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak produktif.
c)    Perencanaan dapat dipakai sebagai alat pengukur hasil kegiatan yang ingin dicapai.
d)   Perencanaan memberikan suatu landasan pokok fungsi manajemen lainnya, terutama fungsi pengawasan.
2)   Kerugiannya:
a)    Perencanaan mempunyai keterbatasan dalam hal ketepatan informasi dan fakta-fakta tentang masa yang akan depan.
b)   Perencanaan memerlukan biaya yang cukup banyak.
c)    Perencanaan mempunyai hambatan psikologis.
d)   Perencanaan menghambat timbulnya inisiatif.
e)    Perencanaan menyebabkan terhambatnya tindakan yang perlu diambil.




3.    Hirearki Perencanaan













Gambar 1. Hirearki Perencanaan
(Marquis&Huston.2010.Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan)
a.    Visi/Misi
1)   Visi
Visi adalah suatu hal yang terlihat dalam mimpi. Suatu visi memberikan informasi tentang bentuk dan gambaran suatu hal pada masa yang akan datang yang terkait dengan misi yang bermanfaat bagi organisasi dan orang yang bekerja sama di dalamnya (Swansburg & Swansburg, 1999).
Contoh visi bidang keperawatan :
Pelayanan Keperawatan Prima Pilihan utama Masyarakat.
2)   Misi
Pernyataan misi suatu organisasi menggambarkan manfaat keberadaan organisasi tersebut. Misi ini bagi organisasi merupakan suatu alat/ cara untuk mengarahkan setiap individu dalam organisasi tersebut untuk berperan secara produktif. Pernyatan misi merupakan alasan keberadaan organisasi dan tujuan atau fungsi organisasi, termasuk visi organisasi di masa yang akan datang.
Contoh Misi bidang keperawatan:
1)   Memberikan asuhan keperawatan bermutu tinggi dengan biaya terjangkau dan dapat dievaluasi.
2)   Memfasilitasi lingkungan untuk dapat melakukan pendidikan dan riset keperawatan untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
3)   Menciptakan iklim kerja yang mendorong pertumbuhan profesionalisme dan kepuasan kerja setiap perawat.
4)   Memelihara dan membina citra keperawatan yang positif dan profesional kepada masyarakat melalui pengembangan hubungan perawat pasien yang baik dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
b.    Filosofi
Menurut Tuck dan rekan (2000), pernyataan filosofi mencakup nilai-nilai, konsep, keyakinan yang dianut suatu organisasi. Pernyataan nilai-nilai konsep dan keyakinan menggambarkan atau mewarnai bagaimana isi suatu organisasi dicapai.
Contoh fiosofi bidang keperawatan
Kami meyakini bahwa:
1)   Filosofi bidang keperawatan konsisten dengan filosofi Rumah Sakit atau Universitas.
2)   Kami mempunyai dedikasi untuk memberikan asuhan keperawatan, pendidikan, dan riset yang unggul dan dengan biaya yang efektif dan efisien.
c.    Tujuan Umum
Tujuan umum didefinisikan sebagai hasil yang didinginkan melalui usaha yang dilakukan secara terarah. Tujuan umum juga merupakan tujuan filosofi. Tujuan umum sama seperti filosofi dan nilai yang berubah sejalan dengan waktu serta memerlukan evaluasi ulang dan penetapan prioritas secara periodik. Tujuan umum harus secara jelas menggambarkan produk akhir jika tujuan tidak jelas, kesalahpahaman kecil dapat menjadi rumit dan komunikasi dapat terganggu.
Contoh tujuan umum yaitu:
1)   Semua staff keperawatan akan mengenali kebutuhan pasien terhadap kemandirian dan hak privasi serta akan mengkaji tingkat kesiapan belajar pasien tekait dengan penyakitnya.
2)   Staff keperawatan akan memberi asuhan yang efektif kepada pasien dan memenuhi kebutuhannya berdasarkan fasilitas rekomendasi di komunitas dan rumah sakit dengan penerapan rencana perawatan, perawatan pasien secara individual, dan perencanaan pemulangan, termasuk perawatan tindak lanjut.

d.   Tujuan Khusus
Tujuan khusus merupakan tujuan yang lebih spesifik dan dapat diukur dibandingkan tujuan umum karena tujuan khusus mengidentifikasi bagaimana dan kapan tujuan umum dapat tercapai. Tujuan khusus dapat berfokus pada proses yang diinginkan atau berfokus pada hasil yang diinginkan. Tujuan khusus yang berfokus pada proses ditulis dalam konteks metode yang digunakan, sedangkan tujuan khusus berfokus pada hasil yaitu menyebabkan hasil yang diinginkan.
Contoh tujuan khusus berfokus pada proses yaitu “100% staff perawat akan mengorientasikan pasien baru pada sistem panggil cahaya (call-ligth system), dalam 30 menit sejak pasien masuk. Hal yang dilakukan adalah mendemonstrasikan penggunaannya dengan benar dan meminta pasien untuk mengulangi demonstrasi tersebut.” Sedangkan contoh tujuan khusus berfokus pada hasil yaitu “Semua pasien pasca operasi akan mengalami penurunan derajat nyeri setelah pemberian obat nyeri parenteral.”
e.    Kebijakan
Kebijakan adalah rencana dalam bentuk pernyataan atau instruksi yang mengarahkan organisasi dalam pengambilan keputusan. Pernyataan komprehensif ini diambil dari filosofi, tujuan umum dan tujuan khusus yang dimiliki organisasi. Kebijakan menjelaskan pencapaian tujuan umum dan menuntun kegiatan secara umum dan lingkup aktivitas organisasinya.
Kebijakan dapat tersurat dan tersirat. Kebijakan tersirat dibuat bukan dalam bentuk tertulis tetapi tidak juga dinyatakan secara verbal dan biasanya telah lama dikembangkan. Contohnya, rumah sakit secara tersirat telah mengambil kebijakan bahwa karyawan harus didorong dan didukung utnk bekerja di organisasi pelayanan kesehatan di tingkat komunitas regional dan nasional. Sedangkan kebijakan tersurat dinyatakan secara verbal atau dalam bentuk tertulis. Kebijakan tersurat meliputi cara berpakaian formal, kebijakan untuk tidak masuk karena sakit atau libur, dan prosedur yang terkait dengan kedisiplinan.
f.     Prosedur
Prosedur adalah rencana yang menghasilkan metode lazim atau mudah diterima dalam melaksanakan tugas spesifik dalam bentuk urutan langkah suatu tindakan. Prosedur mengidentifikasikan proses atau langkah yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan kebijakan dan biasanya terdapat pada manual di tingkat unit organisasi. Penyusunan prosedur harus berhubungan erat dengan perencanaan karena perencanaan merupakan landasan semua prosedur tanpa memandang letak penyusunannya.
g.    Aturan
Aturan atau regulasi adalah rencana yang membatasi tindakan spesifik atau sesuatu yang bukan tindakan. Aturan adalah jenis perencanaan yang paling kurang fleksibel dalam hirearki perencanaan, sebaiknya jumlah aturan dalam organisasi dibatasi. Namun, aturan yang ada harus ditekankan untuk menjaga moral dari kehancuran dan memfasilitasi struktur organisasi.

4.        Model-Model Perencanaan
Perencanaan biasanya berorientasi pada masa kini atau masa depan. Walaupun terjadi kesimpangsiuran diantara tipe perencanaan dalam organisasi, umumnya digunakan satu dari 4 model perencanaan (Marquis & Huston, 2010);
a.         Perencanaan reaktif.
Perencanaan ini terjadi setelah muncul masalah. Ini terjadi karena terdapat ketidakpuasan dengan keadaan saat ini, perencanaan diarahakan pada usaha mengembalikan organisasi ke situasi yang lebih kondusif seperti sebelumnya. Dalam perencanaan rekatif, komponen pemasalahan seringkali diatasi secara terpisah tanpa integrasi dengan seluruh komponen organisasi.
b.        Perencanaan inaktivisme
Merupakan tipe perencanaan konvensional yang lain. Penggunaan model perencanaan ini menganggap status quo sebagai situasi yang stabildan mereka menghabiskan banyak tenaga untuk mencegah perubahan dan mempertahankan kecocokan. Jika terjadi perubahan, sifatnya lambat dan lama.
c.         Perencanaan Preaktivisme
Perencanaan yang preaktif menggunakan teknologi untuk mempercepat perubahan dan berorientasi masa depan. Jika tidak puas dengan masa lalu dan    masa kini, orang yang preaktif tidak menghargai pengalaman dan mempercayai masa depan selalu lebih baik.
d.        Perencanaan interaktif atau proaktif
Pembuat rencana meyakini masa lalu, sekarang, dan masa depan serta berusaha merencanakan  masa depan dan organisasinya, bukan bereaksi terhadapnya. Perencanaan proaktif bersifat dinamis. Adaptasi merupakan kunci dalam perencanaan proaktif karena seringnya perubahan lingkungan sekitar. Perencanaan proaktif dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan atau meningkatkan pertumbuhan dalam organisasi (Tappen, 1996). Perencanaan proaktif diperlukan oleh semua pemimpin/manajer untuk memenuhi tujuan dan kebutuhan individu organisasi.

5.        Konsep Perencanaan Strategis
a.        Pengertian Perencanaan Strategis
Menurut Kast dan Rosenzweig (dalam Modul Manajemen Strategis Rumah Sakit, 2005/2006), perencanaam strategis adalah proses memutuskan di depan. Apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukan.
Sedangkan menurut Olsen dan Eadie (1982, dalam Modul Manajemen Strategis Rumah Sakit), perencanaan strategis adalah upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memandu bagaimana enjadi organisasi, apa yang dikerjakan organisasi dan mengapa organisasi mengerjakan hal seperti itu.
Menurut Marquis & Huston (2010), perencanaan strategis adalah rencana jangka panjang (termasuk tujuan khusus) yang mengkaji tujuan, misi, filosofi, dan tujuan umum organisasi dalam konteks lingkungan eksternalnya.
b.        Dasar Rencana Strategis
Menurut Berry (1994, dalam Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan) menyatakan bahwa rencana strategis merupakan proses manajemen yang memadukan 4 fitur dasar berikut:
1)   Pernyataan misi organisasi yang jelas.
2)   Identifikasi konstituen eksternal atau stakeholder lembaga tersebut dan determinasi telaan tujuan dan operasional lembaga tersebut.
3)   Penjelasan tujuan umum dan tujuan khusus strategis lembaga tersebut, khususnya dalam rencana 3-5 tahun.
4)   Penyusunan strategi untuk mencapai tujuan.
6.        Langkah-Langkah Perencanaan
Sebagai suatu proses, perencanaan mempunyai beberapa langkah penting. Ada lima langkah penting yang perlu dilakukan pada setiap menjalankan fungsi perencanaan (Muninjaya, 1999):
a.         Analisis Situasi
Langkah ini bertujuan untuk mencari data atau fakta yang setelah diolah dan dianalisis akan menjadi informasi yang dibutuhkan untuk penyusunan rencana sebuah program. Langkah analisis ini juga menganalisis semua potensi dan kendala yang dimiliki dan dihadapi oleh organisasi dalam rangka pengembangan kegiatan program.
b.        Mengidentifikasi masalah dan penetapan prioritas masalah.
Data yang diperoleh dari langkah analisis situasi kemudian diproses dan dianalisis lebih lanjut untuk menjadi informasi yaitu informasi tentang jenis dan besarnya masalah.
c.         Merumuskan Tujuan program dan besarnya target yang ingin dicapai.
Setelah prioritas masalah ditetapkan kemudian dilakukan penetapan tujuan pemecahannya yang akan dijadikan dasar penyusunan tujuan rencana program.
d.        Mengkaji kemungkinan adanya hambatan dan kendala dalam pelaksanan program.
Kajian terhadap adanya hambatan dan kendala dalam pelaksanaan program. Kajian terhadap hambatan ditujukan yang bersumber di dalam organisasi dan yang bersumber dari lingkungan masyarakat dan sektor lain.
e.         Menyusun rencana kerja operasional.
Sebuah rencana kerja operasional yang baik perlu dilengkapi dengan berbagai informasi sebagai berikut:
1)        Mengapa kegiatan ini penting dilaksanakan?
2)        Apa yang akan dicapai?
3)        Bagaimana cara mengerjakannya?
4)        Siapa yang akan mengerjakan dan siapa sasaran kegiatannya?
5)        Sumber daya pendukung
6)        Dimana kegiatan akan dilaksanakan?

2.6         Pengorganisasian
2.6.1   Definisi Organisasi
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
1)        Organisasi Menurut Stoner Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
2)        Organisasi Menurut James D. Mooney Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3)        Organisasi Menurut Chester I. Bernard Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Pengorganisasian menyatukan berbagai macam sumber daya dan mengatur orang-orang dengan teratur, selain mempersatukan orang-orang pada tugas yang saling berkaitan. Pengorganisasian berasal dari istilah Organisme yang merupakan sebuah lembaga dengan bagian-bagian yang terintergasi dinama hubungan mereka satu sama lain saling berkaitan secara utuh. Bisa juga di artikan sebagai sebuah tindakan yang mengupayakan hubungan prilaku efektif antara orang-orang yang dapat bekerjasama secara efesien sehingga memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas tertentu dalam lingkungan tertentu untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu.
2.6.2   Teori Pengorganisasian
Suatu organisasi dibentuk ketika pekerja cukup banyak sehingga membutuhkan seorang penyelia. Organisasi diperlukan karena dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada yang dapat dilakukan oleh individu (Fayol, 1949).
Setiap organisasi memiliki struktur organisasi formal dan informal. Struktur formal biasanya direncanakan dan dipublikasikan, sementara struktur informal tidak direncanakan dan sering sekali tidak dipublikasikan (Hein, 1998).

2.6.3   Ciri-ciri Organisasi
5 hal yang menjadi ciri-ciri organisasi, yaitu :
1.    Terdiri atas sekelompok orang
2.    Ada kegiatan-kegiatan yang berbeda tapi saling berkaitan
3.    Tiap anggota mempunyai  sumbangan usaha
4.    Adanya kewenangan ,koordinasi, dan pengawasan
5.    Adanya satu tujuan

2.6.4   Jenis-Jenis Organisasi
1.    Berdasarkan jumlah orang yang memegang pucuk pimpinan.
a.       Bentuk tunggal, yaitu pucuk pimpinan berada ditangan satu orang, semua kekuasaan dan tugas pekerjaan bersumber kepada satu orang.
b.      Bentuk komisi, pimpinan organisasi merupakan suatu dewan yang terdiri dari beberapa orang, semua kekuasaan dan tanggung jawab dipikul oleh dewan sebagai suatu kesatuan.
2.    Berdasarkan lalu lintas kekuasaan.
a.       Organisasi lini atau bentuk lurus, kekuasaan mengalir dari pucuk pimpinan organisasi langsung lurus kepada para pejabat yang memimpin unit-unit dalam organisasi.
b.      Bentuk lini dan staff, dalam organisasi ini pucuk pimpinan dibantu oleh staf pimpinan ahli dengan tugas sebagai pembantu pucuk pimpinan dalam menjalankan roda organisasi.
c.       Bentuk fungsional, bentuk organisasi dalam kegiatannya dibagi dalam fungsi-fungsi yang dipimpin oleh seorang ahli dibidangnya, dengan hubungan kerja lebih bersifat horizontal.
3.    Berdasarkan sifat hubungan personal.
a.       Organisasi formal, adalah organisasi yang diatur secara resmi, seperti: organisasi pemerintahan, organisasi yang berbadan hokum.
b.      Organisasi informal, adalah organisasi yang terbentuk karena hubungan bersifat pribadi, antara lain kesamaan minat atau hobby, dll.
4.    Berdasarkan tujuan
a.       Organisasi yang tujuannya mencari keuntungan atau ‘profit oriented
b.      Organisasisosial atau ‘non profit oriented
5.    Berdasarkan kehidupan dalam masyarakat
a.       Organisasipendidikan
b.      Organisasikesehatan
c.       Organisasipertanian
6.    Berdasarkan fungsi dan tujuan yang dilayani
a.       Organisasiproduksi, misalnya organisasi produk makanan,
b.      Organisasi berorientasi pada politik, misalnya partai politik
c.       Organisasi yang bersifat integratif, misalnya serikat pekerja
d.      Organisasipemelihara, misalnya organisasi peduli lingkungan
7.    Berdasarkan pihak yang memakai manfaat.
a.       Mutual benefit organization, yaitu organisasi yang kemanfaatannya terutama dinikmati oleh anggotanya, seperti koperasi.
b.      Service organization, yaitu organisasi yang kemanfaatannya dinikmati oleh pelanggan, misalnya bank.
c.       Business organization, organisasi yang bergerak dalam dunia usaha, seperti perusahaan-perusahaan
d.      Commonwealth organization, adalah organisasi yang kemanfaatannya terutama dinikmati oleh masyarakat umum, seperti organisasi pelayanan kesehatan. Contohnya rumah sakit, Puskesmas, dll.

2.6.5   Fungsi Pengorganisasian
Fungsi pengorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dansumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telahditetapkan serta menggapai tujuan bersama.

2.6.6   Tujuan Pengorganisasian
Tujuan pengorganisasian adalah agar dalam pembagian tugas dapat dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Dengan pembagian tugas diharapkan setiap anggota organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara khusus (spesialisasi) dalam menangani tugas-tugas yang dibebankan. Apabila pengorganisasian itu dilakukan secara tidak sesuai dengan bidang keahlian seseorang, maka tidak mustahil dapat menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan itu.
Ada beberapa tujuan pengorganisasian, yaitu:
1.    Membantu koordinasi, yaitu memberi tugas pekerjaan kepada unit kerja secara koordinatif agar tujuan organisasi dapat melaksanakan dengan mudah dan efektif. Koordinasai dibutuhkan karena harus membagi unitkerja yang terpisah dan tidak sejenis, tetapi berada dalam satu organisasi.
2.    Memperlancar pengawasan, yaitu dapat membantu pengawasan dengan menempatkan seorang anggota manajer yang berkompetensi dalam setiap unit organisasi. Dengan demikian sebuah unit dapat ditempatkan di dalam organisasi secara keseluruhan sedemikian rupa agar dapat mencapai sasaran kerjanya walaupun dengan lokasi yang tidak sama. Unit-unit operasional yang identik dapat disatukan dengan sistem pengawasan yang identik pula secara terpadu.
3.    Maksimalisasi manfaat spesialisasi, yaitu dengan konsentrasi kegiatan, maka dapat membantu seorang menjadi lebih ahli dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. Spesialisasi pekerjaan dengan dasar keahlian dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, sehingga kemanfaatan produk dapat memberikan kepuasan dan memperoleh kepercayaan masyarakat pengguna.
4.    Penghematan biaya, artinya dengan pengorganisasian, maka akan tumbuh pertimbangan yang berkaitan dengan efisiensi. Dengan demikian pelaku organisasi akan selalu berhati-hati dalam setiap akan menambah unit kerja baru yang menyangkut penambahan tenaga kerja yang relatif banyak membutuhkan biaya tambahan berupa gaji/upah. Penambahan unit kerja sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan nilai sumbangan pekerja baru dengan tujuan untuk menekan upah buruh yang berlebihan.
5.    Meningkatkan kerukunan hubungan antar manusia, dengan pengorganisasian, maka masing-masing pekerja antar unit kerja dapat bekerja saling melengkapi, mengurangi kejenuhan, menumbuhkan rasa saling membutuhkan, mengurangi pendekatan materialistis. Untuk ini pihak manajer harus mampu mengadakan pendekatan sosial dengan penanaman rasa solidaritas dan berusaha menampung serta menyelesaikan berbagai perbedaan yang bersifat individual.
2.6.7   Prinsip Organisasi
Adapun prsip dari organisasi sebagai berikut :
1.    Organisasi mempunyai tujuan yang jelas
2.    Adanya skala hirarki
3.    Adanya kesatuan komando/ perintah
4.    Perlimpahan wewenang
5.    Adanya pertanggung jawaban
6.    Pembagian kerja
7.    Rentang kendali
8.    Fungsionalisasi
9.    Adanya pemisahan tugas
10.                        Fleksibilitas/ kelenturan
11.                        Keseimbangan
12.                        Kepemimpinan
2.6.8   Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah suatu kerangka kerja yang dipikirkan oleh manager untuk membagi-bagi dan mengkoordinasikan aktifitas anggota suatu organisasi.
a.      Jenis-jenis struktur organisasi:
1.        Rancangan organisasi birokratik
Umumnya disebut struktur garis atau organisasi garis. Mereka yang memiliki kewenangan staf dapat disebut sebagai organisasi staf.  Rancangan formal ini memiliki beberapa kerugian. Rancangan ini sering menghasilkan kemonotonan, mengisolasikan pekerja, dan membuat penyesuaian secara cepat untuk memperbaiki kesulitan suatu situasi. Masalah lain dalam struktur garis dan garis-garis staf adalah kedekatannya sengan rantai komando komunikasi, yang membatasi komunikasi eatas. Pemimpin yang baik mendorong komunikasi ke atas untuk memperbaiki kerugian ini. Namun, ketika posisi garis didefinisikan dengan jelas, keluar dari rantai komando untuk melakukan komunikasi ke atas biasanya tidak tepat.
2.        Rancangan ad hoc
Merupakan modifikasi struktur birokratis dan kadangkala digunakan rancangan awal yang sementara untuk memfasilitasi penyelesaian proyek dalam organisasi garis formal. Struktur ad hoc adalah sarana mengatasi ketidakfleksibelan struktur garis dan bertindak sebagai jalan bagi professional untuk mengatasi semakin meningkatnya jumlah informasi yang tersedia. Struktur ad hoc menggunakan pendekatan tim atau ugas proyek dan biasanya dibubarkan setelah proyek selesai. Kerugian struktur ini adalah berkurangnya kekuatan dalam rantai komando formal dan berkurangnya kesetiaan terhadap organisasi induk.
3.        Rancangan matriks
Dirancang untuk berfokus pada produk dan fungsi. Fungsi dijelaskan sebagai semua tugas yang diperlukan untuk menghasilkan produk, dan non prodk adalah hasil akhir fungsi. Sebagai contoh hasil akhir yang memuaskan dari masalah klien adalah produk, dan semua tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan hasil akhir adalah fungsi. (Brooks, 1995).


 



Wakil Direktur layanan Kep
 
         Manajer   Fungsional








 



Wakil Direktur Sumber Daya Manusia
 
Manajer       Produk   
 









4.    Rancangan organisasi datar
Upaya menghilangkan lapisan hierarki dengan cara mendatarkan rantai skalar dan desentralisasi organisasi. Garis kewenangan tetap dipertahankan, tetapi karena struktur organisasi dibuat datar, lebih banyak kewenangan dan pengambilan keputusan dapat terjadi di tempat pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Kepala Perawat


 


Perawat                       perawat                                                 perawat        perawat
      manager                 manager                                                 manger        manager


 
Staf                 staf                           staf                             staf          staf     
            Gambar 2.2 Struktur Organisasi Datar

2.6.9   Langkah Pengorganisasian
a)        Manajer harus mengetahiu tujuan organisasi yang ingin dicapai
b)        Penentuan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengetahui, merumuskan, dan mengspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi dan menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
c)        Pengelompokan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengelompokan kegiatan-kegiatan kedalam beberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama. Kegiatan-kegiatan yang bersamaan dan berkaitan erat disatukan kedalam satu departemen atau satu bagian.
d)       Pendelegasian wewenang, artinya manager harus menetapkan besarnya wewenang yang akan didelegasikan kepada setiap departemen.
e)        Rentang kendali, artinya manajer harus menetapkan jumlah karyawan pada setiap departemen atau bagian.
f)         Peranan perorangan, artinya manager harus menetapkan dengan jelas tugas-tugas setiap individu karyawan, supaya tumpang-tindih tugas dihindarkan.

2.6.10         Langkah Membuat Keputusan Pengorganisasian
Empat langkah mendasar ketika memulai membuat keputusan mengenai pengorganisasian :
1.    Membagi seluruh beban pekerjaan menjadi banyak tugas yang secara wajar dan nyaman dapat dilaksanakan oleh individu atau kelompok. Hal ini disebut pembagian pekerjaan.
2.    Menggabungkan tugas secara logis dan efisien. Pengelompokan karyawan dan tugas biasanya disebut departementalisasi.
3.    Menetapkan siapa yang memberi laporan kepada siapa dalam organisasi. Hubungan departemen ini menghasilkan hierarkhi organisasi.
4.    Menetapkan mekanisme yang menyatukan aktivitas departemental menjadi suatu kesatuan dan memonitor keefektifan integrasi tersebut. Proses ini disebut koordinasi.

2.6.11         Bagan Organisasi
Bagan organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatandan  bagan juga disebut dengan gambar rancangan, gambar denah, skema. Bagan ialah alat berupa gambaran secara analisis dan statistik tentang proses yg terjadi dalam alam, teknologi dan masyarakat.
Bagan tidak menunjukan stuktur informal suatu organisasi.Setiap instansi memilki struktur informal dinamis yang dapat sangat berpengaruh dan memberikan motivasi. Pemimpin yang cakap tidak pernah menganggap remeh pentingnya hubugnan informal karena struktur informal mencakup hubungan interpersonal pegawai, pembentukan kelompok primer dan sekunder, dan pengidentifikasian pemimpin kelompok tanpa kewenangan formal.
Tanggung gugat sama dengan tanggung jawab. Tanggung gugat melibatkan kesepakatan kontrak tentang tanggung jawab dan tugas moral (Strader &Decker, 1995).

2.6.12         Kelebihan bagan organisasi
1.        Memetakan garis kewenangan pengambilan keputusan.
2.        Membantu pekerja memahami tugas mereka dan rekan kerja mereka.
3.        Menunjukan pada menajer dan personil baru bagaimana mereka menyesuaikan diri dalam organisasi.
4.        Beperan dalam struktur organisasi yang baik.
5.        Menujukan garis komunikasi formal.

2.6.13         Keterbatasan bagan organisasi
1.        Menujukan hanya hubungan formal.
2.        Tidak mengidikasikan derajat kewenangan .
3.        Dapat menujukan hal yang seharusnya terjadi atau dilakukan, bukan yang terjadi sebenarnya.
4.         
2.7         Ketenagaan
2.7.1   Pengertian
Manajemen sumber daya manusia (ketenagaan) didefinisikan  sebagai proses serta upaya untuk merekrut, mengembangkan, memotivasi,  serta mengevaluasi keseluruhan sumber daya manusia yang diperlukan perusahaan dalam mencapai tujuannya (Tisnawati, 2008).
Kegiatan manajemen sumber daya manusia, atau disebut juga manajemen ketenagaan di rumah sakit meliputi berbagai proses, seperti penerimaan pegawai, penempatan pegawai, kompensasi kerja, pengembangan mutu dan karier pegawai serta akhirnyapenghentian kerja dari rumah sakit (Yoga, 2007).
Koontz H dan Weirich H (1990 dalam Yoga, 2007) menyebutkan ruang lingkup manajemen ketenagaan meliputi:
1.    analisis kini dan masa datangtentang kebutuhan tenaga,
2.    rekruitment,
3.    seleksi,
4.    penempatan yang sesuai,
5.    promosi,
6.    separation, atau pensiun/ pmutusan hubungan kerja,
7.    untuk menjalankan proses ini dengan baik diperlukan kegiatan appraisal, strategi pengembangan karier serta pendidikan dan pelatihan.

2.7.2   Proses Manajemen Sumber Daya Manusia
Proses manajemen sumber daya manusia adalah sgala proses yang berkaitan dengan upaya yang dilakukan dari mulai perencanaan sumber daya manusia, perekrutan, penandatanganan kontrak kerja, penempatan tenaga kerja, hingga pembinaan dan pengembangan tenaga kerja guna menempatkan dan tetap memelihara tenaga kerja pada posisi dan kualifikasi tertentu serta bertanggung jawab sesuai dengan persyaratan yang diberikan kepada tenaga kerja tersebut (Tisnawati, 2008).
Dalam Tisnawati (2008) secara garis besar proses manajemen sumber daya manusia dibagi ke dalam lima bagian fungsi utama yang terdiri dari:
1.    Human Resource Planning. Merencanakan kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya manusia bagi perusahaan.
2.    Pesonnel Procurement. Mencari dan menempatkan sumber daya manusia, termasuk didalamnya rekrutmen, seleksi dan penempatan serta kontrak tenaga kerja.
3.    Personne Development. Mengembangkan sumber daya manusia, termasuk didalamnya program orienrasi tenaga kerja, pendidikan dan pelatihan.
4.    Personnel Maintenance. Memelihara sumber daya manusia, termasuk didalamnya pemberian penghargaan, insentif, jaminan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, dan lain sebagainya.
5.    Personnel Utilization. Memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya manusia, termasuk di dalamnya promosi, demosi, transfer dan juga reparasi.
2.7.3   Perencanaan Sumber Daya Manusia
Perencanaan sumber daya manusia adalah perencanaan strategis untuk mendapatkan dan memelihara kualifikasi sumber daya manusia yang diperlukan bagi organisasi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan (Tisnawati, 2008). Sekalipun sebuah perusahaan telah memiliki sumber daya manusia yang memadai dan handal, namun perusahaan juga harus memastikan keterpeliharaan dan ketersediaannya, dimasa yang akan datang.
2.7.4   Penyediaan Sumber Daya Manusia
Rekrutmen adalah upaya perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja yang diperlukan sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan dalam perencanaan tenaga kerja (Tisnawati, 2008).
Rekrutmen dapat dilakukan melalui pemasangan iklan dalam media massa, pengajuan permohonan pada institusi-institusi pendidikan, dan lain-lain.
Seleksi adalah upaya untuk memperoleh tenaga kerja yang memenuhi syarat kualifikasi dari sekian banyak pendaftar atau calon tenaga kerja yang dimiliki oleh perusahaan  dari proses rekrutmen (Tisnawati, 2008).
Penempatan adalah proses pemilihan tenaga kerja yang disesuaikan dengan kualifikasi yang dipersyaratkan serta menempatkannya  pada tugas yang telah ditetapkan (Tisnawati, 2008).
Proses seleksi meliputi seleksi administrasi, seleksi kualifikasi, dan seleksi sikap dan perilaku.
Proses yang dapat dilakukan untuk menyeleksi pegawai baru dalam Yoga (2007), dapat meliputi:
1.    Wawancara
2.    Tes tertulis yang sesuai dengan kerjanya maupun pengetahuan lain secara umum,
3.    Mempelajari curriculum vitae
4.    Menghubungi pimpinan kerja sebelumnya,
5.    Tes langsung kemampuan yang dimiliki.
2.7.5   Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sumber daya manusia merupakan kelanjutan dari proses penyediaan tenaga kerja yang pada dasarnya bertujuan untuk memastikan dan memelihara tenaga kerja yang tersedia tetap memenuhi kualifikasi yang dipersyarakatkan sehingga selaras dengan perencanaan strategis perusahaan serta tujuan perusahaan serta tujuan perusahaan dapat tercapai sebagaimana mestinya (Tisnawati, 2008).
Kegiatan pengembangan staf dapat dilakukan dengan dua cara utama yaitu pengalaman pekerjaan dan pendidikan tambahan. Pengalaman kerja dapat dilakukan denga bimbingan oleh pimpinan, rotasi kerja, rapat-rapat evaluasi serta upaya pemecahan masalah.
Kegiatan pendidikan tambahan  dapat dilakukan dengan melakukan on the job training, ceramah-ceramah di rumah sakit, mengikuti seminar-seminar, serta mengikuti pendidikan formal di kampus pendidikan.

2.7.6   Pemeliharaan Tenaga Kerja
Perusahaan perlu mengadakan program pemeliharaan tenaga kerja melalui konsep pemeliharaan yang selain memberikan penghargaan yang sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh tenaga kerjanya, juga mampu untuk tetap memelihara tenaga kerja yang terbaik untuk perusahaan untuk jangka panjang.
Bentuk pemeliharaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah pemberian kompensasi dan benefit. Pemberian kompensasi adalah penghargaan yang diberikan perusahaan sebagai balasan atas prestasi kerja yang telah diberikan oleh tenaga kerja. Benefitadalah penghargaan selain kompensasi yang diprogramkan bagi tenaga kerjadengan tujuan agar kebutuhan tenaga kerja tetap dapat terpelihara sehingga tenaga dapat tetap memberikan kinerja yang terbaik bagi perusahaan.

2.7.7   Pemanfaatan Sumber Daya Manusia
Perusahaan melakukan berbagai program untuk tetap memastikan tenaga kerjanya senantiasa sesuai dengan perencanaan strategis perusahaan. Program-program tersebut dalam Tisnawati (2008) antara lain:
a.    Promosi, adalah proses pemnindahan tenaga kerja ke posisi yang lebuh tinggi, secara struktural di dalam organisasi perusahaan.
b.    Demosi, adalah penurunan tenaga kerja kepada bagian kerja yang lebih rendah yang biasanya disebabkan oleh penurunan kualitas tenaga kerja dalam pekerjaaannya.
c.    Transfer merupakan upaya untuk memindahkan tenaga kerja ke bagian yang lain yang diharapkan tenaga kerja tersebut bisa lebih produktif setelah mengalami proses transfer.
d.   Separasi adalah upaya perusahaan untuk melakukan pemindahan lingkunan kerja tertentu dari teanga kerja ke lingkungan yang lain. Separasi dilakukan untuk meminimalkan atau menghilangkan konflik yang timbul dari tenaga kerja sehingga tidak mengganggu proses operasional perusahaan.

2.7.8   Cara Perhitungan Jumlah Tenaga Keperawatan
1.    Metode Douglas
Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu unit perawatan berdasarkan klasifikasi klien, dimana masing-masing kategori mempunyai nilai standar per shift nya, yaitu sebagai berikut :
Jml
klien

Klasifikasi Klien
Minimal
Parsial
Total
Pagi
Sore
Malam
Pagi
Sore
Malam
Pagi
Sore
Malam
1.
0,17
0,14
0,07
0,27
0,15
0,10
0,36
0,30
0,20
2.
0,34
0,28
0,14
0,54
0,30
0,20
0,72
0,60
0,40
3.
0,51
0,42
0,21
0,81
0,45
0,30
1,08
0,90
0,60
Dst









Contoh :
Ruang rawat dengan 17 orang klien, dimana 3 orang dengan ketergantungan minimal 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6 orang dengan ketergantungan total. Maka jumlah perawat yang dibutuhkan :

Minimal
Partial
Total
Jumlah
Pagi
0.17x3= 0.51
0.27x8= 2.16
0.36x6= 2.16
4.83(5) orang
Sore
0.14x3= 0.42
0.15x 8= 1.2
0.3 x 6= 1.8
3.42(4) orang

Malam
0.07x3= 0.21
0.10x8= 0.8
0.2 x 6= 1.2
2.21(2) orang
Jumlah secara keseluruhan perawat perhari                     =11 orang

2.    Metode Swansburg
Contoh :
Pada suatu unit dengan 24 tempat tidur dan 17 klien rata rata perhari .
Jumlah jam kontak langsung perawat – klien = 5 jam /klien/hari.
a.    Total jam perawat /hari : 17 x 5 jam = 85 jam
Jumlah perawat yang dibutuhkan : 85 / 7 = 12,143 ( 12 orang) perawat/hari
b.   Total jam kerja /minggu = 40 jam
Jumlah shift perminggu = 12 x 7 (1 minggu) = 84 shift/mingguJumlah staf yang dibutuhkan perhari = 84/6 = 14 orang
(Jumlah staf sama bekerja setiap hari dengan 6 hari kerja perminggu dan 7 jam/shift).
Menurut Warstler dalam Swansburg dan Swansburg (1999), merekomendasikan untuk pembagian proporsi dinas dalam satu hari → pagi : siang : malam = 47 % : 36 % : 17 %
Sehingga jika jumlah total staf keperawatan /hari = 14 orang
-       Pagi : 47% x 14 = 6,58 = 7 orang
-       Sore : 36% x 14 = 5,04 = 5 orang
-       Malam : 17% x 14 = 2,38 = 2 orang

3.    Metode Gillies
Gillies (1994) menjelaskan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di suatu unit perawatan adalah sebagai berikut :
Jumlah jam keperawatan         rata rata           jumlah
Yang dibutuhkan klien/hari x klien/hari x hari/tahun
Jumlah hari/tahun - hari libur x jumlah jam kerja
                        Masing-masing tiap perawat
                                         Perawat
jumlah keperawatan yang dibutuhkan /tahun
=
jumlah jam keperawatan yang di berikan perawat/tahun

= jumlah perawat di satu unit

Prinsip perhitungan rumus Gillies :
Jumlah Jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari adalah :
1.   Waktu keperawatan langsung (rata rata 4-5 jam/klien/hari) dengan spesifikasipembagian adalah : keperawatan mandiri (self care) = ¼ x 4 = 1 jam , keperawatanpartial (partial care ) = ¾ x 4 = 3 jam , keperawatan total (total care) = 1-1.5 x 4 = 4-6jam dan keperawatan intensif (intensive care) = 2 x 4 jam = 8 jam.
2.   Waktu keperawatan tidak langsung
·      menurut RS Detroit (Gillies, 1994) = 38 menit/klien/hari
·      menurut Wolfe & Young ( Gillies, 1994) = 60 menit/klien/hari = 1 jam/klien/hari.
3.   Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15 menit/hari/klien = 0,25 jam/hari/klien.
4.   Rata rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatu unit berdasarkan rata-rata biaya atau menurut Bed Occupancy Rate (BOR) dengan rumus :
Jumlah hari perawatan RS dalam waktu tertentu x 100 %
                      Jumlah tempat tidur x 365 hari
·      Jumlah hari pertahun yaitu : 365 hari.
·      Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu : 73 hari ( hari minggu/libur =52 hari ( untuk hari sabtu tergantung kebijakan rumah sakit setempat, kalau inimerupakan hari libur maka harus diperhitungkan , begitu juga sebaliknya ), harilibur nasional = 13 hari, dan cuti tahunan = 8 hari).
·      Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif 6hari maka 40/6 = 6.6 = 7 jam per hari, kalau hari kerja efektif 5 hari maka 40/5 = 8jam per hari).
·      Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan disatu unit harus ditambah 20%(untuk antisipasi kekurangan /cadangan ).
·      Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional = 55% : 45 %
Contoh :
Rata rata jam perawatan klien per hari = 5 jam/hari
Rata rata = 17 klien / hari (3 orang dengan ketergantungan minimal, 8 orang denganketergantungan partial dan 6 orang dengan ketergantungan total)
Jumlah jam kerja tiap perawat = 40 jam/minggu ( 6 hari/minggu ) jadi jumlah jam kerjaperhari 40 jam dibagi 6 = 7 jam /hari
Jumlah hari libur : 73 hari ( 52 +8 (cuti) + 13 (libur nasional).
·      Jumlah jam keperawatan langsung
ü Ketergantungan minimal = 3 orang x 1 jam = 3 jam
ü Ketergantungan partial = 8 orang x 3 jam = 24 jam
ü Ketergantungan total = 6 orang x 6 jam = 36 jam
Jumlah jam= 63 jam
·      Jumlah keperawatan tidak langsung
17 orang klien x 1 jam = 17 jam
·      Pendidikan Kesehatan = 17 orang klien x 0,25 = 4,25 jam
Sehingga Jumlah total jam keperawatan /klien/hari :

63 jam + 17 jam + 4,25 jam = 4,96 Jam/klien/hari
               17 orang
Jumlah tenaga yang dibutuhkan :
·      4,96 x 17 x 365 = 30.776,8 = 15,06 orang ( 15 orang )
(365 – 73) x 72044
Untuk cadangan 20% menjadi 15 x 20% = 3 orang
Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan secara keseluruhan 15 + 3 = 18 orang
/hari
Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional =55% : 45 % =
10     8 orang.
2.8     Pengarahan
2.8.1   Konsep Dasar Pengarahan
Rowland dan Rowland menyatakan bahwa pengarahan “berhubungan erat dengan kepemimpinan.” Mereka menganjurkan pemilihan gaya kepemimpinan oleh manajer merupakan faktor utama dalam latihan fungsi pengarahan. Dia antara aktivitas pengarahan adalah sebagai berikut: pendelegasian, komunikasi, pelatihan dan motivasi.
Fulmer dan Franklin mendefinisikan manajer dan penyedia sebagai “seseorang yang bertanggung jawab untuk pengarahan kinerja satu atau lebih karyawan, sehingga organisasi dapat mencapai tujuannya.”
Menurut Donovan, standar-standarnya adalah suatu dasar untuk pengarahan dan pengendalian. Sumber-sumber lain untuk pengarahan ialah prosedur dan manual. Perawat manajer  mengorientasikan perawat baru, untuk menggunakan manual tersebut dan memfasilitasi untuk mengikuti standar kinerja perawatan.
Pengarahan adalah tindakan fisik dari manajemen keperawatan, proses interpersonal dimana personel keperawatan mencapai objektif keperawatan. Pengarahan merupakan proses penerapan, rencana manajemen, untuk mencapai tujuan perawatan. Hal tersebut merupakan proses dimana personel perawatan mendapatkan inspirasi atau motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Tiga elemen penting dalam pengarahan adalah mewujudkan pengawasan dalam personel perawatan: motivasi, kepemimpinan dan komunikasi.
Pengarahan adalah suatu proses pembimbingan, pemberian petunjuk, dan instruksi kepada bawahan agar mereka bekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengarahan mencakup beberapa proses operasi standar, pedoman dan buku panduan, bahkan manajemen berdasarkan sasaran (management by objective). Pengarahan dapat disebut juga dengan pengimplementasian (Directing), yaitu proses implementasi program agar bisa dijalankan oleh seluruh pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.

2.8.2   Tujuan Pengarahan
Adapun tujuan dari pengarahan adalah sebagai berikut :
1)        Menjamin Kontinuitas perencanaan
2)        Membudayakan prosedur standar
3)        Menghindari kemungkinan yang tak berarti
4)        Membina disiplin kerja (naiknya produktivitas kerja)
5)        Membina motivasi yang terarah

2.8.3   Fungsi Pengarahan (Leading)
1)        Menggerakkan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan
2)        Membina moral
3)        Memotivasi bawahan




2.8.4   Kegiatan Fungsi Pengarahan
Jika kita menggunakan fungsi-fungsi manajemen menurut Nickels, McHugh and McHugh, maka beberapa kegiatan yang terkait dengan fungsi pengarahan adalah sebagai berikut:
1)        Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
2)        Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
3)        Menjelaskan kebijakan yang diterapkan
Peran Komunikasi dalam pengarahan
a.         Sistem Komunikasi vertikal, berlangsung dari atas maupun dari bawah.
b.        Sistem komunikasi horizontal, antar departemen, unit dan bagian dalam satu hierarki.
c.         Sistem komunikasi diagonal, laporan khusus secara langsung kepada sumber yang membutuhkan

2.8.5   Delapan Elemen penting Komunikasi
Adapun delapan elemen penting komunikasi sebagai berikut :
a.         Pengirim (sender atau source)
b.        Penyandian (encoding)
c.         Pesan (message)
d.        Saluran (channel)
e.         Penerima (receiver)
f.         Pengurai sandi
g.        Gaduh (noise)
h.        Umpan Balik (feedback)



2.8.6   Faktor Pendukung Komunikasi
Adapun faktor pendukung komunikasi adalah sebagai berikut :
a.         Koordinasi, penyelaras atas aktivitas secara teratur dan disatukan utk tujuan tertentu.
b.        Integrasi, penggabungan bagian menjadi satu kesatuan yg bulat dan utuh.
c.         Sinkronisasi, menyatukan berbagai aktivitas utk dilaksanakan secara bersamaan.

2.9         Pengendalian / pengawasan
2.9.1   Definisi Pengawasan/ Pengendalian
Pengawasan adalah suatu proses untuk mengetahui apakah hasil pelaksananan kegiatan/pekerjaan sesuai denga rencana, pedoman, ketentuan, kebijaksanaan, tujuan, sasaran yang sudah ditentukan sebelumnya (Suarli, S. dan Bahtiar, Y. 2007).
2.9.2   Maksud dan Tujuan Pengawasan
Adalah untuk mencegah atau memperbaiki kesalahan, penyimpangan, dan ketidaksesuaian yang dapat mengakibatkan tujuan/sasaran organisasi tidak tercapai dengan baik, karena pelaksanaan pekerjaan/kegiatan tidak efisien dan efektif (Suarli, S. dan Bahtiar, Y. 2007).
2.9.3   Macam dan Tipe Pengawasan
Macam dan tipe pengawasan terbagi menjadi 3:
1)        Dilihat dari kedudukan unit pengawasan, yang terdiri atas pengawasan dari dalam (internal control) dan pengawasan dari luar (eksternal control).
2)        Dilihat dari sasarannya, yang terdiri atas pengawasan preventif (pencegahan) yang dilakukan sebelum pelaksanaan dan pengawasan represif yang dilakukan pada saat atau sesudah pelaksanaan.
3)        Dilihat dari sifat tugas (peranan) pengawasan, yang terdiri atas pengawasan politis/ masyarakat yang dilakukan oleh misalnya DPR dan pengawasan fungsional yang dilakukan oleh aparatur/ lembaga ynag tugas pokoknya melaksanakan pengawasan.
2.9.4   Komponen Pengendalian
a.             Kendali Mutu
Kendali mutu merupakan suatu jenis pengendalian spesifik, mengacu pada aktivitas yang digunakan untuk mengevaluasi, memantau, atau mengatur layanan yang diberikan kepada konsumen (Bessie L. Marquis dan Carol J. Huston, 2010).
b.            Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia yang produktifitas (Swanburg, 1987 dalam buku Bessie L. Marquis dan Carol J. Huston, 2010). Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. Perawat manajer dapat menggunakan proses kinerja untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih, bimbingan perencanaan karir, serta memberikan penghargaan kepada perawat yang berkompeten.
Satu ukuran pengawasan yang digunakan oleh manajer perawat guna mencapai hasil organisasi adalah sistem penilaian pelaksanaan kerja perawat. Melalui evaluasi reguler dari setiap pelaksanaan kerja pegawai, manajer harus dapat mencapai beberapa tujuan. Hal ini berguna untuk membantu kepuasan perawat dan untuk memperbaiki pelaksanaan kerja mereka, memberitahu perawat bahwa kerja mereka kurang memuaskan serta mempromosikan jabatan dan kenaikan gaji, mengenal pegawai yang memenuhi syarat penugasan khusus, memperbaiki komunikasi antara atasan dan bawahan serta menentukan pelatihan dasar untuk pelatihan karyawan yang memerlukan bimbingan khusus.

2.10     Gaya dan Peran Kepemimpinan
Gaya diartikan sebagai suatu cara penampilan karakteristik atau tersendiri. Menurut follet (1940), gaya didefinisikan sebagai hak istimewa yang tersendiri dari ahli dengan hasil akhir yang dicapai tanpa menimbulkan isu sampingan. Gillies (1970), mengatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat diidentifikasikan berdasarkan perilaku pemimpin itu sendiri. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh adanya pengalaman bertahun-tahun dalam kehidupannya. Oleh karena itu, keperibadian seseorang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang digunakan. Gaya kepemimpinan seseorang cenderung sangat bervariasi dan berbeda-beda. Menurut para ahli, terdapat beberapa gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam suatu organisasi antara lain :
1.    Gaya kepemimpinan menurut Tannenbau dan Warrant H. Schmitdt
Menurut kedua ahli tersebut, gaya kepemimipan dapat dijelaskan melalui dua titik ekstrim yaitu kepemimpinan yang berfokus pada atasan dan kepemimpinan berfokus pada bawahan. Gaya tersebut dipengaruhi oleh faktor manajer, faktor karyawan, faktor situasi. Jika pemimpin memandang bahwa kepentingan organisasi harus didahulukan jika dibandingkan dengan kepentingan individu, maka pemimpin akan lebih otoriter, akan tetapi jika bawahan mempunyai pengalaman yang lebih dan menginginkan partisipasi, maka pemimpin dapat menerapkan gaya partisipasinya.
2.    Gaya kepemiminan menurut Likert
Likert dalam Nursalam (2002) mengelompokkan gaya kepemimpinan dalam empat sistem yaitu :
a.         System Otoriter-Eksploitatif
Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan satu arah kebawah (top-down).
b.        Sistem Benevolent-Authoritative
Pemimpin mempercayai bawahan sampai pada tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancaman dan hukuman tetapi tidak selalu dan membolehkan komunikasi ke atas. ­­­­­­­­­­Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilan keputusan masih melakukan pengawasan yang ketat.
c.         Sistem Konsultatif
Pemimpin mempunyai kepercayaan terhadap bawahan cukup besar. Pemimpin menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dan kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan menerima keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
d.        Sistem Partisipatif
Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, selalu memamfaatkan ide bawahan, menggunakan intensif ekonomi untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.
3.    Gaya Kepemimpinan Menurut Teori X Dan Teori Y
Teori dikemukakan oleh Douglas Mc Gregor dalam bukunya The Human Side Enterprise (1960), dia menyebutkan bahwa perilaku seseorang dalam suatu organisasi dapat dikelompokkan dalam dua kutub utama, yaitu sebagai Teori X dan Teori Y. Teori X mengansumsiakan bahwa bawahan itu tidak mempunyai pekaryaan, kurang ambisi, tidak mempunyai tanggungjawab , cenderung menolak perubahan, dan lebih suka dipimpin daripada memimpin. Sebaliknya teori Y mengansumsikan bahwa bawahanitu senang bekerja, bisa menerima tanggung jawab, mampu mandiri, mampu mengawasi diri, mampu berimajinasi, dan kreatif. Dari teori ini, gaya kepemimpinan dibedakan menjadi empat macam yaitu :
a.         Gaya Kepemimpinan Diktator
Gaya kepemimpinan yang dilakukan dengan dengan menimbulkan ketakutan serta menggunakan ancaman dan hukuman merupakan bentuk dari pelaksanaan teori X.
b.        Gaya kepemimpinan Autokrasis
Pada dasarnya gaya kepemimpinan ini hamper sama dengan gaya kepemimpinan dictator namun bobotnya agak kurang. Segala keputusan berada di tangan pemimpin, pendapat dari bawahan tidak pernah dibenarkan. Gaya ini juga merupakan pelaksanaan dari teori X.
c.         Gaya Kepemimpinan Demokratis
Ditemukan adanya peran serta dari bawahan dalam pengambilan sebuah keputusan yang dilakukan dengan cara musyawarah. Gaya kepemimpinan ini pada dasarnya sesuai dengan teori Y.
d.        Gaya Kepemimpinan Santai
Peranan dari pemimpin hamper tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan pada bawahan. Gaya kepemimpinan ini sesuai dengan teori Y. (Azwar, 1996).
4.    Gaya kepemimpinan menurut Robert House
Berdasarkan teori motivasi pengharapan, Robert house dalam Nursalam (2002) mengemukakan 4 gaya kepemimpinan yaitu :
a.         Direktif
Pemimpin menyatakan kepada bawahan tentang bagaimana melaksanakan suatu tugas. Gaya ini mengandung arti bahwa pemimpin selalu berorientasi pada hasil yang dicapai oleh bawahannya.
b.        Suportif
Pemimpin berusaha mendekatkan diri kepada bawahan dan sikap ramah terhadap bawahan.
c.         Partisipatif
Pemimpin berkonsultasi dengan bawahan untuk mendapatkan masukan dan saran dalam rangka pengambilan sebuah keputusan.
d.        Berorientasi tujuan
Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dengan seoptimal mungkin (Sujak 1990)
5.    Gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard
Ciri-ciri gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard (1997) meliputi :
1.        Instruksi
a.    Tinggi tugas dan rendah hubungan
b.    Komunikasi sejarah
c.    Pengambilan keputusan berada pada pimpinan dan peran bawahan sangat minimal.
d.   Pemimpin banyak memberikan pengarahan atau instruksi yang spesifik serta mengawasi dengan ketat.
2.        Konsultasi
a.    Tinggi tugas dan tinggi hubungan.
b.    Komunikasi dua arah.
c.    Peran pemimpin dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan cukup besar, bawahan diberi kesempatan untuk member masukan, dan menampung keluhan.

3.        Partisipasi
a.         Tinggi hubungan tapi rendah tugas
b.        Pemimpin dan bawahan bersama-bersama member gagasan dalam pengambilan keputusan
4.        Delegasi
a.         Rendah hubungan dan rendah tugas
b.        Komunikasi dua arah, terjadi diskusi antara pemimpin dan bawahan dalam pemecahan masalah serta bawahan diberi delegasi untuk mengambil keputusan
5.        Gaya kepemimpinan menurut Lippits dan K. White
Menurut Lippith dan White, tersapat tiga gaya kepemimpinan, yaitu :
1.        Otoriter
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.    Wewenang mutlak berada pada pimpinan
b.    Keputusan selalu dibuat oleh pemimpin
c.    Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pemimpin
d.   Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
e.    Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara ketat
f.     Prakarsa harus selalu berasal dari pemimpin
g.    Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat
h.    Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif
i.      Lebih banyak kritik daripada pujian
j.      Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat
k.    Pimpinan menuntut kesetiaan tanpa syarat
l.      Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman
m.  Kasar dalam bersikap
n.    Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan
2.    Demokratis
Kepemimpinan gaya demokrasi adalah kemampuan dalam mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan.
Gaya kepemimpinan ini memiliki cirri sebagai berikut :
a.    Wewenang pimpinan tidak mutlak
b.    Pimpinan bersedia melimpahkan sebagaian wewenang kepada bawahan
c.    Komunikasi berlangsung timbal balik
d.   Pengawasan dilakukan secara wajar
e.    Prakarsa dapat datang dari bawahan
f.     Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan saran dan pertimbangan
g.    Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan daripada instruktif
h.    Pujian dan kritik seimbang
i.      Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas masing-masing
j.      Pimpinan meminta kesetiaan bawahan secara wajar
k.    Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertidak
l.      Terdapat suasana saling percaya, saling hormat menghormati, dan saling menghargai
m.  Tanggug jawab keberhasilan organisasi ditanggung secara bersama-sama




3.    Liberal atau Laissez Faire
Kepemimpina gaya liberal atau laissez faire adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan dengan cara berbagai kegiatan dan pelaksanaanya dilakukan lebih banyak diserahkan kepada bawahan.
Gaya kepemimpinan ini bercirikan sebagai berikut :
a.    Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan
b.    Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
c.    ­­­Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh bawahan
d.   Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan
e.    Hampir tiada pengawasan terhadap tingkah laku bawahan
f.     Prakarsa selalu berasal dari bawawahan
g.    Hamper tiada pengarahan dari pimpinan
h.    Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
i.      Kepentingan pribadi lebih penting dari kepentingan kelompok
j.      Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh perorangan
4.        Gaya kepemimpinan berdasarkan kekuasaan dan wewenang
Menurut Gillies (1996), kepemimpinan berdasarkan wewenang dan kekuasaan dibedakan menjadi 4 yaitu :
1.         Otoriter
Merupakan kepemimpinan yang berorintasi pada tugas atau pekaryaan. Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam pemimpin. Pemimpin menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan. Informasi diberikan hanya pada kepentingan tugas. Motivasi dengan reward dan punishment.
2.         Demokrasi
Merupaka kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide dari staf, memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri. Membuat rencana dan pengontrolan dalam penerapannya. Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka.
3.         Partisipattif
Merupakan gabungan antara otoriter dan demokratis, yaitu pimpinan yang menyampaikan hasil analisis masalah dan kemudian mengusulkan tindakan tersebut pada bawahannya. Staf diminta saran dan kritikanya serta mempertimbangkan respons staf terhadap usulannya, dan keputusan akhir ada pada kelompok.
4.         Bebas tindak
Merupakan pimpinan ofisial, karyawan menetukan sendiri kegiatan tanpa pengarahan, supervisi dan koordinasi. Staf/bawahan mengevaluasi pekaryaan sesuai dengan caranya sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber informasi dan pengendalian secara minimal.

2.11     ANALISA SWOT
2.11.1    Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang cespleng bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi. Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1.         Strength(S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2.         Weakness(W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3.         Opportunity(O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.
4.         Threat(T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.
Selain empat komponen dasar ini, analisa SWOT, dalam proses penganalisaannya akan berkembang menjadi beberapa Subkomponen yang jumlahnya tergantung pada kondisi organisasi. Sebenarnya masing-masing subkomponen adalah pengejawantahan dari masing-masing komponen, seperti Komponen Strength mungkin memiliki 12 subkomponen,
Komponen Weakness mungkin memiliki 8 subkomponen dan seterusnya.
Adapun Jenis-Jenis Analisis SWOT, adalah sebagai berikut:
1.        Model Kuantitatif
Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan Weakness (W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu pasangan satu Threath (T).


2.        Model Kualitatif
Urut-urutan dalam membuat Analisa SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh dengan urut-urutan model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah pada saat pembuatan subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada model kuantitatif setiap subkomponen S memiliki pasangan subkomponen W, dan satu subkomponen O memiliki pasangan satu subkomponen T, maka dalam model kualitatif hal ini tidak terjadi. Selain itu, SubKomponen pada masing-masing komponen (S-W-O-T) adalah berdiri bebas dan tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ini berarti model kualitatif tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian, karena mungkin saja misalnya, SubKomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara subkomponen W hanya 6 buah.
Sebagai alat analisa, analisa SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan peta. Ketika telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan berguna jika tujuan telah ditetapkan. Bagaimana menetapkan tujuan adalah bahasan selanjutnya yaitu membangun visi-misi organisasi atau program.

2.11.2    Tujuan
Tujuan dari kegiatan analisa situasi kesehatan berkaitan dengan tahapan perencanaan. Pada tahap penyusunan rencana, analisa situasi dimaksudkan untuk mengadakan analisa masalah, hambatan dan potensi dari keadaan yang lampau, yang sedang berjalan dan kecendrungan atau proyeksi dimasa mendatang. Pada tahap rencana program, analisa situasi terutama dimaksudkan untuk menganalisa tentang masalah dan prioritas masalah. Pada tahap pelaksanaan perencanaan, analisa situasi dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang keadaan saat ini, potensi yang mendukung pelaksanaan, hambatan-hambatan yang ada.
Pada dasarnya dimaksudkan untuk memperoleh gambaran berbagai hal tentang :
a.         Needs (kebutuhan)
b.        Policies (Kebijakan)
c.         Demand (Tuntutan/permintaan)
d.        Prioritas
e.         Trends (Kecendrungan)
f.         General standards (Standar umum)
g.        Costraints and problem (Masalah dan hambatan)
h.         Allocation of resources (alokasi sumber daya)
i.          Goals (Tujuan)
j.          Objektives (Sasaran)
Tujuan dari kegiatan analisa situasi dalam penyusunan program kesehatan adalah untuk mengadakan analisa terhadap kelompok-kelompok data (data keadaan umum danlingkungan, data derajat kesehatan masyarakat, data upaya kesehatan) yang ditemukan pada saat ini, lampau maupun kecenderungan proyeks masa mendatang.
Ruang lingkup analisa situasi mencakup :
a.         Analisa terhadap keadaan saat ini, keadaan masa lampau, dan kecendrungan (trend) atau proyeksi masa yang akan datang.
b.        Analisa masalah dari prioritas masalah
c.         Analisa hambatan
d.        Analisa potensi/penunjang.



2.11.3    Langkah-langkah analisa
Dalam mengadakan analisa terhadap data yang dikumpulkan,dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.         Mengadakan penilaian mutu data yang dikumpulkan.
b.        Memilih data yang memang betul-betul diperlukan
c.         Menyusun data yang telah dipilih secara sistematis sesuai keperluan
d.        Menyajikan informasi secara jelas, sehingga dapat menunjukkan situasi/ keadaan dan masalah yang dihadapi dalam uraian kalimat (narasi) yang mudah dipahami.
Analisa masalah merupakan bagian dari analisa situasi meliputi Identitas masalah/perumusan masalah.:
a.    Masalah adalah terdapatnya suatu kesenjangan (Gap) antara aa yang diharapkan denga yang terjadi.
b.    Masalah menjadi titik awal dari suatu kegiatan, suatu proses perencanaan dimulai dari identifikasi masalah yang ada.
c.    Masalah kesehatan adalah adanya kesenjangan (gap) antara hidup sehat yang diinginkan atau diharapkan dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Syarat adanya masalah kesehatan:
1)        Ada kesenjangan atau administrator kesehatan tidak puas karena adanya gap dan ia merasa bertanggungjawab atas masalah tersebut.
2)        Lokasi masalah ; provider (masalah manajemen).









2.11.4    Perumusan Masalah
Perumusan Masalah yaitu bagaimana menyatakan kesenjangan yang ada sesuai dengan definisi masalah tersebut. Perumusan masalah yang baik mencakup 2 unsur sebagai berikut:
a.         Kesenjangan (gap) tersebut sedapat mungkin dinyatakan secara kuantitatif, pernyataan yang bersifat kualitatif hendaknya dikonversikan menjadi kuantitatif contoh :
Perawat RSU itu bekerja secara produktif (kualtitatif). BOR RSU mencapai 80 % (Kuantitatif).
b.        Unsur kedua dalam perumusan masalah adalah pendekatan sistem. Dijelaskan hubungan masalah tersebut denga faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
2.11.5    Masalah manajemen
Masalah yang berkaitan dengan manajemen dapat terjadi pada setiap fungsi/ unsur manajemen, beberapa atau pada salah satu unsur saja.
Masalah tersebut dapat terjadi pada salah satu/sebagian atau keseluruhan dari aspek manajemen apakah pada aspek perencanaannya, pengorganisasiannya, pengarahannya,koordinasinya, penganggarannya maupun aspek penilaiannya dan lain sebagainya.
2.11.6    Analisa potensi : pendukung dan hambatan
a.         Pendukung
Potensi apa saja yang dapat diharapkan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan perlu diketahui dengan baik. Apakah itu berupa sifat perilaku masyarakat, yang suka gotong royong, dermawan, pendidikan masyarakat yang menunjang, kemauan untuk berperan serta, ataupun status ekonomi masyarakat yang bisa dimanfaatkan, sumber daya (dana) lain yang mendukung.

b.        Penghalang/hambatan
Demikian pula tentang hal-hal yang diperkirakan akan dapat menjadi penghalang atau penghambat pelaksanaan suatu rencana perlu dikaji dan dicarikan pemecahan masalahnya, apakah itu karena belum adanya aturan atau kebijakan yang mengatur, sumber daya terbatas, hambatan komunikasi dengan masyarakat dan sebagainya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar