BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
A.
Konsep
Keperawatan
1. Pengertian Keperawatan
Keperawatan
adalah diagnosis dan penanganan respon manusia terhadap masalah kesehatan
aktual maupun potensial (ANA,2000). Dalam keperawatan moderen respon manusia
yang didefinisikan sebagai pengalaman dan respon orang terhadap sehat dan sakit
yang merupakan suatu fenomena perhatian perawat. Perawat atau nurse berasal
dari kata nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Keperawatan adalah suatu
bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan
bio-psiko-sosial-spriritual yang komprehensif, ditujukan pada individu,
keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses
kehidupan manusia (Kusnanto, 2003).
Keperawatan
merupakan profesi, dimana kedepan perlu semakin tertib, menurut word medical
association (1991) yaitu semakin tertibnya pekerjaan profesi yang apabila
semakin terus dipertahankan pada gilirannya akan berperan besar dalam turut
meningkatkan kulitas hidup serta derajat kesehatan masyarakat secara
menyeluruh. Keperawatan dalam menjalankan pelayanan sebagai pelayanan
keperawatan secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk membantu
orang sakit maupun yang sehat dalam bentuk peningkatan pengetahuan, kemampuan
yang dimiliki sehingga seseorang dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara
mandiri tanpa memerlukan bantuan atau tergantung orang lain ( Henderson, 1980).
2. Pengertian Perawat
Perawat
(nurse) berasal dari bahasa latin yaitu kata nutrix yang berarti
merawat atau memelihara. Menurut Kusnanto (2003), perawat adalah seseorang
(seorang profesional) yang mempunyai kemampuan, tanggung jawab dan kewenangan
melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan pada berbagai jenjang pelayanan
keperawatan. Perawat (nurse) berasal dari bahasa latin yaitu kata nutrix
yang berarti merawat atau memelihara. Sedangkan perawat menurut Wardhono
(1998) adalah orang yang telah menyelesaikan pendidikan professional
keperawatan, dan diberi kewenangan untuk melaksanakan peran serta fungsinya.
Perawat (nurse) berasal dari bahasa latin yaitu kata nutrix yang
berarti merawat atau memelihara. Menurut Harlley, (1997) menjelaskan pengertian
dasar seorang perawat yaitu seseorang yang berperan dalam merawat atau
memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit, injuri, dan proses
penuaan. Perawat profesional adalah perawat yang bertanggungjawab dan berwenang
memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan atau berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan kewenangannya. ( Depkes RI,2002).
Perhatian
perawat profesional dalam pelayanan keperawatan adalah pada pemenuhan kebutuhan
dasar manusia. Profil perawat professional adalah gambaran dan penampilan
menyeluruh dimana dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai dengan kode etik
keperawatan, dimana aktifitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberi
asuhan keperawatan, praktek keperawatan, pengelolaan institusi keperawatan,
pendidikan dalam keperawatan.
3. Peran dan Fungsi Perawat
Fungsi
perawat didalam melakukan pengkajian pada individu yang sehat maupun sakit
dimana segala aktifitas yang dilakukan dengan berbagai cara untuk mengendalikan
kepribadian pasien secepat mungkin dalam bentuk proses keperawatan yang terdiri
dari pengkajian, identifikasi masalah (diagnosa keperawatan), perencanaan,
implementasi dan evaluasi.
Adapun
peran perawat dalam pelayanan kesehatan :
a.
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran
sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Pemberian asuhan
keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
b. Peran
sebagaia dvokat (pembela) klien
Peran ini dilakukan perawat
dalam membantu klien dan keluarga dalam meninterpresentasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan yang di berikan kepada pasiennya, juga dapat berperan
mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang
meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang
penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak
untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
c. Peran
Sebagai Edukator
Peran ini dilakukan untuk :
1) Meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan dan kemampuan klien mengatasi kesehatanya.
2) Perawat
memberi informasi dan meningkatkan perubahan perilaku klien
d. Peran
sebagai Koordinator
Pelayanan kesehatan dari tim
kesehatan sehingga pemeberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai
dengan kebutuhan klien.
Tujuan Perawat sebagi
coordinator adalah :
1) Untuk
memenuhi asuhan kesehatan secara efektif, efisien dan menguntungkan klien.
2) Pengaturan
waktu dan seluruh aktifitas atau penanganan pada klien.
3) Menggunakan
keterampilan perawat untuk :
a) Merencanakan
b) Mengorganisasikan
c) Mengarahkan
d) Mengontrol
e. Peran
sebagai Kolaborator
Perawat disini dilakukan
karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter
fisioterapis, ahli gizi, dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat
dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.
f. Peran
Sebagai Konsultan
Peran disini adlah sebagai
tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk
diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang
tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
g. Peran
Sebagai Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat
dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis
dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
Peran perawat sebagai
pembeharu dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya :
1) Kemajuan
teknologi
2) Perubahan
Lisensi-regulasi
3) Meningkatnya
peluang pendidikan lanjutan
4) Meningkatnya
berbagai tipe petugas asuhan kesehatan.
Selain
peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan, terdapat pembagian peran
perawat menurut hasil lokakarya keperawatan tahun 1983 yang membagi menjadi 4
peran diantaranya peran perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan, peran
perawat sebagai pengelola pelayanan dan institusi keperawatan, peran perawat
sebagai pendidik dalam keperawatan serta peran perawat sebagai peneliti dan
pengembang pelayanan keperawatan.
Adapun
peran perawat secara umum yaitu :
1) Meyakinkan
bahwa perusahaan memenuhi peraturan dan perundangan.
2) Mengembangkan
program surveilance kesehatan
3) Melakukan
konseling
4) Melakukan
koordinasi untuk kegiatan promosi kesehatan dan fitnes
5) Melakukan
penilaian bahaya potensial kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.
6) Mengelola
penatalaksanaan penyakit umum dan penyakit akibat kerja dan pertolongan pertama
pada kecelakaan serta masalah kesehatan primer di perusahaan.
7) Melaksanakan
evaluasi kesehatan dan kecelakaan kerja
8) Konsultasi
dengan pihak manajemen dan pihak lain yang diperlukan
9) Mengelola
pelayanan kesehatan, termasuk merencakan, mengembangkan dan menganalisa
program, pembiayaan, staffing serta administrasi umum.
B.
Konsep
Manajer Kasus
1. Pengertian Manajemen Kasus
Manajemen
kasus merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang ditujukan untuk
menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat memperoleh
semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat. Kasus di sini adalah orang
dalam situasi meminta atau mencari pertolongan. Dalam manajemen kasus ini,
pekerja sosial melaksanakan peranan sebagai manajer kasus (case manager).
Manajemen
kasus (case management) adalah merupakan salah satu keterampilan Pekerja sosial
yang berhubungan dengan ketentuan-ketentuan atau cara-cara masyarakat,
mensuvervisi dan petunjuk-petunjuk menggunakan sumber-sumber internal dan
eksternal untuk mencapai maksud atau tujuan dari suatu proses pertolongan.
Manajemen
kasus merupakan kegiatan yang memiliki prosedur untuk mengkoordinasi seluruh
aktivitas pertolongan yang diberikan kepada klien secara perorangan maupun
group. Koordinasi
disini dilakukan secara professional teamwork yaitu antara pekerja sosial satu
dengan yang lainnya atau dengan profesi lain sehingga upayanya dapat diperluas
terhadap peningkatan pelayanan sesuai kebutuhan klien. Beberapa kaidah dalam
manajemen kasus:
a. Tumbuhkan
rasa perhatian terhadap klien
b. Ciptakan
kepecayaan antar team
c. Tanggung
jawab terhadap persoalan yang dihadapi klien
d. Terbuka
e. Focus
pada tujuan pemecahan masalah.
2. Fungsi Manajemen Kasus
Terdapat
beberapa fungsi dasar manajemen kasus
a. Identifikasi
klien dan orientasi (Client Identification and Orientation).
Dalam hal ini manajer kasus
terlibat identifikasi secara langsung dan menyeleksi orang-orang yang menjadi
tujuan pelayanan yang ingin dicapai, kualitas hidup, atau berapa biaya untuk
suatu perawatan dan pelayanan yang dapat dipengaruhi dengan positif oleh
manajemen kasus.
b. Asesmen
klien (Client Assessment).
Fungsi ini mengacu pada pengumpulan
informasi dan perumusan suatu asesmen dari kebutuhan-kebutuhan komprehensif
klien, situasi kehidupan, dan sumber-sumber. Dalam hal ini termasuk jua
melakukan penggalian atas potensi klien, baik kekuatan dan kelemahannya, mana
yang memerlukan pelayanan dan mana yang tidak.
1) Menyadari
kebutuhan komprehensif kliennya, termasuk kekuatan dan kelemahannya.
2) Memahami
hasil kontak dan pengkajian awal, walaupun belum tentu harus terlibat secara
langsung.
3) Selalu
dekat dengan tenaga pelayanan langsung untuk meyakinkan bahwa informasi mereka
menyeluruh (komprehensif) dan terkini (aktual).
4) Selalu
kontak secara teratur dengan klien sehingga dapat memahami perubahan kemampuan
dan kebutuhannya.
c. Rencana
Intervensi/Pelayanan. Pekerja sosial sebagai manajer kasus
Mengidentifikasi
pelayanan-pelayanan atau sumber yang bervariasi yang dapat dijangkau untuk
membantu penanganan masalah klien.
1) Memiliki
daftar lengkap tentang lembaga/organisasi pelayanan di dalam masyarakat serta
memahami pelayanan yang diberikan masing-masing lembaga/organisasi, termasuk
kebijakan dan prosedurnya.
2) Memberikan
informasi yang dimilikinya kepada perencanaan kasus tentang sumber-sumber yang
tersedia.
3) Menginterprestasikan
tujuan dan fungsi rencana kasus kepada pemberi pelayanan.
d. Koordinasi
hubungan dan pelayanan.
Seorang manajemen kasus harus
menghubungkan klien dengan sumber-sumber yang sesuai. Selain itu juga harus
menekankan adanya koordinasi diantara sumber-sumber yang digunakan oleh klien
dengan menjadi sebuah saluran serta poin utama dari komunikasi yang
teriintegrasi.
e. Tindak
lanjut dan Monitoring pelaksanaan pelayanan.
Seorang manajer kasus membuat
peraturan dan kontak tindak lanjut yang terus menerus dengan klien dan penyedia
pelayanan untuk menyaknkan baha pelayanan yang diperlukan memang benar-benar
diterima/diperoleh dengan baik, serta digunakan oleh klien secara tepat.
Apabila ditemukan adanya penyimpangan atau ketidaksesuaian, manajer kasus harus
segera mengambil tindakan perbaikan atau memodifikasi rencana pelayanan.
Manajer kasus juga menyelesaikan laporan termasuk didalamnya dokumen klien,
kemajuan yang dicapai dalam perkembangan kasus klien, pelaksanaan pelayanan
serta kesesuaian terhadap rencana yang telah disusun.
f. Mendukung
klien.
Selama masa pelayanan yang
diberikan oleh berbagai jenis penyedia pelayanan atau sumber, manajer kasus
membantu klien dan keluarganya pada saat mereka menghadapi masalah yang tidak
diharapkan dalam mendapatkan pelayanan. Kegiatan ini termasuk mengatasi konflik
pribadi, konseling, penyediaan informasi, memberikan dukungan emosional, dan
apabila sesuai, melakukan pembelaan atas nama klien untuk menjamin bahwa mereka
menerima pelayanan sesuai dengan haknya.
Jangkauan fungsi manajemen kasus
tergantung kontekstualnya, seperti misalnya:
a. Karakteristik
populasi sasaran, maksudnya adalah seorang manajer kasus harus mengetahui benar
permasalahan, siapa saja yang terlibat di dalam masalah ini, bagaimana
sifat-sifatnya, besaran masalah serta berbagai alternatif penanganan.
b. Kendala
lingkungan. Lingkungan yang melingkupi suatu kasus dapat berbeda-beda antara
satu kasus dengan kasus yang lain. Misalnya konteks individu, kelompok kecil,
komunitas tertentu dan masyarakat secara luas. Masing-masing lingkungan
seringkali memiliki kendala sendiri-sendiri. Hal ini perlu dipahami benar oleh
seorang manajer kasus.
c. Jenis
lembaga yang mempekerjakan manajer kasus. Maksudnya adalah lembaga apa atau
siapa yang mempekerjakan manajer kasus (jenis, sifat dan sebagainya) membawa
implikasi bagi pelaksanaan peran manajer kasus.
d. Beban
kasus. Jenis dan sifat kasus yang ditangani masing-masing klien juga sangat
bervariasi, sehingga akan sangat mempengaruhi pelaksanaan pelayanan manajemen
kasus.
e. Hakekat
sistem pelayanan. Maksudnya adalah apa saja pelayanan yang tersedia oleh suatu
sumber, jenis, tujuan pelayanan, sistem dan cara penjangkauannya.
3. Langkah Kegiatan Manajemen Kasus
a. Orientasi
dan identifikasi klien.
Manajemen kasus
merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang ditujukan untuk
menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat memperoleh
semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat. Kasus di sini adalah orang
dalam situasi meminta atau mencari pertolongan. Dalam masalah penyalahgunaan
NAPZA, orang yang mencari pertolongan dapat para penyalahguna NAPZA langsung,
keluarga atau orang lain. Dalam manajemen kasus ini, pekerja sosial
melaksanakan peranan sebagai manajer kasus (case manager). Manajemen kasus
merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang ditujukan untuk
menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat memperoleh
semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat. Kasus di sini adalah orang
dalam situasi meminta atau mencari pertolongan. Dalam manajemen kasus ini,
pekerja sosial melaksanakan peranan sebagai manajer kasus (case manager).
ntifikasi dan menyeleksi kepada individu untuk mendapatkan hasil pelayanan ,
yang dapat berdampak positif pada kualitas hidup melalui managemen kasus
b. Assessment
informasi dan memahami situasi klien.
Fungsi ini merujuk pada pengumpulan
informasi dan memformulasikan suatu asesment kebutuhan klien, situasi kehidupan
dan sumber-sumber yang ada serta penggalian potensi klien.
c. Merencanakan
program pelayanan.
Pekerja social mengidentifikasi
berbagai pelayanan yang dapat diakses untuk memenuhi kebutuhan klien. Klien dan
keluarganya serta orang lain yang berpengaruh secara bersama-sama merumuskan
tujuan dan merancangnya dalam suatu rencana intervensi yang terintegrasi.
d. Menghubungkan
dan Mengkoordinaksikan pelayanan.
Seperti peranannya sebagai broker,
manaer kasus harus menghubungkan klien dengan sumber-sumber yang tepat. Peranan
manager kasus dapat berbeda –beda walaupun pekerja social yang utamanya sebagai
partisipan aktif dalam menyampaikan pelayanan kepada individu atau keluarga.
Manager kasus menekankan pada koordinasi dengan sumber sumber yang digunakan
klien dengan menjadi saluran dan berkomunikasi dengan sumber-sumber pelayanan.
e. Memberikan
pelayanan tindak lanjut dan monitoring.
Manager kasus secara regular
menindaklanjuti hubungan dengan klien dan penyedia pelayanan untuk menjamin
bahwa pelayanan yang dibutuhkan dapat diterima dan dimanfaatkan oleh klien.
f. Memberikan
support pada klien
Selama pelayasnan berlangsung yang
disediakan oleh berbagai sumber, manager kasus membantu klien dan keluarganya
yang meliputi pemecahan konflik pribadi, konseling, menyediakan informasi,
memberi dukungan emosional dan melakukan pembelaan yang tepat untuk menjamin
bahwa mereka menerima pelayanan yang tepat.
4. Tugas Pendamping Sebagai Manajer
Kasus
a. Mengumpulkan
informasi dan menilai situasi klien agar dapat mengidentifikasi kebutuhan dan
masalah serta apa yang dapat dilakukan terhadap mereka.
b. Memformulasikan
suatu rencana pelayanan yang memungkinkan untuk pemenuhan kebutuhan dan masalah
klien.
c. Menempatkan
dan menyediakan pelayanan, menyusun dan menyampaikan pelayanan yang dibutuhkan
bagi kien serta mengkoordianasikan bantuan dari pelayanan-pelyanan tersebut.
d. Memonitor
keefektifan dari rencana pelayanan dalam memenuhi kebutuhan klien, dan membuat
penyesuaian yang dibutuhkan dalam rencana untuk memberikan pelayanan yang lebih
baik.
e. Pelayanan
sebagai titik central dari tanggungjawab dan komunikasi sehingga klien dan
berbagai penyedia pelayanan akan mempunyai akses yang cepat pada seseorang yang
dapat membantu mereka ketika muncul pertanyaan dan masalah selama pemberian
pelayanan.
f. Pembelaan
bagi klien terutama apabila pelayanan yang ada menjadi system yang sulit
dimanfaatkan atau diakses.
g. Bekerja
dengan orang-orang lain dalam masyarakat untuk mengembangkan pelayanan dan
program yang dibutuhkan oleh klien tetapi tidak tersedia dalam masyarakat
tersebut.
Peran
Manajer dapat mempengaruhi faktor motivasi dan lingkungan. Tetapi faktor lain
yang mungkin mempengaruhi tergantungnya tugas, khususnya bagaimana manajer
bekerja dalam suatu organisasi. Secara umum peran manajer dapat dinilai dari
kemampuannya dalam memotivasi dan meningkatkan kepuasan staf. Kepuasan kerja
staf dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan fisik, psikis, dimana kebutuhan
psikis tersebut dapat terpenuhi melalui peran manajer dalam memperlakukan
stafnya. Hal ini dapat ditanamkan kepada manajer agar diciptakan suasana keterbukaan
dan memberikan kesempatan kepada staf untuk melaksanakan tugas dengan sebaik –
baiknya.
C.
Konsep
Tuberkulosis
1. Pengertian
a. Tuberculosis (TB) adalah penyakit
infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga
ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningens, ginjal, tulang, dan
nodus limfe (Suddarth, 2003). Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang bervariasi,
akibat kuman mycobacterium tuberkulosis sistemik sehingga dapat mengenai semua
organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi
infeksi primer (Mansjoer, 2000).
b. Tuberkulosis paru adalah penyakit
infeksi yang menyerang pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri
yaitu mycobacterium tuberculosis, (Smeltzer, 2002). dapat menyimpulkan
bahwa, TB Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobakterium
tuberculosis yang menyerang saluran pernafasan terutama parenkim paru.
2. Etiologi
Penyebabnya adalah kuman
microorganisme yaitu: mycobacterium tuberculosis dengan ukuran panjang 1-4 UM
dan tebal 1.3-0.6 UM termasuk golongan bakteri aerobgram positif serta tahan
asam atau basil tahan asam. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus
yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan (basil tahan asam). Kuman TB cepat
mati dengan sianar matahari langsung tetapi bertahan hidup beberapa jam
ditempat yang gelap dan lembek. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dominan
selama beberapa tahun. Kuman dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif
kepada orang yang berada disekitarnya, terutama kontak yang erat TBC
merupakan penyakit yang sangat infensius. Seorang penyakit TBC dapat menularkan
penyakit kepada 10 orang disekitarnya.
3. Patofisiologi
Individu rentan yang menghirup basil
tuberculosis dan terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas ke alveoli
untuk memperbanyak diri, basil juga dipindahkan melalui system limfe dan
pembuluh darah ke area paru lain dan bagian tubuh lainnya.Sistem imun tubuh
berespon dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit menelan banyak bakteri,
limfosit specific tuberculosis melisis basil dan jaringan normal, sehingga
mengakibatkan penumpukkan eksudat dalam alveoli dan menyebabkan bronkopnemonia.
Massa jaringan paru/granuloma (gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah
mati) dikelilingi makrofag membentuk dinding protektif. Granuloma diubah
menjadi massa jaringan fibrosa, yang bagian sentralnya disebut komplek Ghon.
Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju.
Massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri
menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif. Individu dapat mengalami
penyakit aktif karena gangguan atau respon inadekuat sistem imun, maupun karena
infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini tuberkel ghon
memecah, melepaskan bahan seperti keju ke bronki. Bakteri kemudian menyebar di
udara, mengakibatkan penyebaran lebih lanjut. Paru yang terinfeksi menjadi
lebih membengkak mengakibatkan bronkopnemonia lebih lanjut (Smeltzer, 2001).
4. Klasifikasi
a. TBC
Paru
Tuberculosis yang menyerang
jaringan paru, tidak termasuk pleora (selaput paru). Berdasarkan hasil
pemeriksaan dahak, TBC paru dibagi dalam:
1) TBC Paru BTA (+)
2) TBC Paru BTA (-)
b. TBC
Ekstra Paru
Tuberculosis yang menyerang organ
tubuh lain selain paru misalnya: pleura (selaput paru), selaput otak, selaput
jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendihan, kuilit, usus,
ginjal, saluran kemih, alat kelamin, dan lain-lain. Berdasarkan tingkat
kepercayaannya, TBC Ekstra Paru dibagi menjadi 2 yaitu:
1) TBC Ekstra Paru Ringan
Misalnya
: TBC
kelenjar limfe, pleuritis eksudative unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
2) TBC Ekstra Paru Berat
Misalnya
: Meningitis,
Perikarditis, peritonitis, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran Kemih dan
alat kelamin.
5. Manifestasi Klinis
Penderita TBC akan mengalami
berbagai gangguan kesehatan seperti batuk berdahak kronis, keringat tampa sebab
di malam hari, sesak napas, nyeri dada, dan penurunan napsu makan. Semuanya itu
dapat menurunkan produktifitas penderita bahakan kematian. Gejala umum TBC
adalah: batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Gejalah
lain yang sering dijumpai adalah: dahak bercampur darah, batuk darah, sesak
napas, dan rasa nyeri dada, badan lemah, napsu makan menurun, berat badan
menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa
kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala di atas dapat
dijumpai pula pada orang dengan penyakit paru selain TBC. Oleh karena itu,
orang yang datang dengan gejala di atas harus dianggap sebagai seorang yang
”suspek tuberculosis” atau tersangka penyakit TBC, dan perlu dilakukan
pemeriksaan dahak secara mokroskopis langsung. Selain itu, semua kontak
penderita TB paru BTA dengan gejala suma, harus diperiksa dahaknya.
Dari
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa gejala TBC adalah:
a. Batuk : Terjadi karena adanya
infeksi pada bronkus. Dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul
peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan
lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus.
b. Sesak nafas (Dyspnea) : Sesak nafas
akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah
setengah bagian paru.
c. Nyeri dada : Timbul bila
infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)
d. Demam : Biasanya menyerupai demam
influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita
dengan berat-ringannya infeksi kuman yang masuk.
e. Malaise (keadaan lesu) :
Dapat berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), berat badan menurun, sakit
kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.
6. Faktor-faktor Penyebab TBC
Penyakit TBC pada seseorang
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : status sosial ekonomi, status gizi,
umur dan jenis kelamin untuk lebih jelasnya dapat kita jelaskan seperti uraian
dibawah ini:
a. Faktor Sosial Ekonomi.
Disini
sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan tempat penghunian, lingkungan
perumahan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk dapat memudahkan penularan TBC.
Pendapatan keluarga sangat erat juga dengan penularan TBC, karena pendapatan
yang kecil membuat orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat-syarat
kesehatan.
b. Status Gizi.
Keadaan
kekurangan gizi akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga sehingga rentan
terhadap penyakit termasuk TB-Paru. Keadaan ini merupakan faktor penting yang
berpengaruh dinegara miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
c. Umur.
Penyakit
TB-Paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif (15 – 50) tahun.
Dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi menyebabkan usia harapan hidup
lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem
imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai
penyakit, termasuk penyakit TB-Paru.
d. Jenis Kelamin
Penyakit
TB-Paru cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan
perempuan. Menurut WHO, sedikitnya dalam jangka waktu setahun ada sekitar 1
juta perempuan yang meninggal akibat TB-Paru, dapat disimpulkan bahwa pada kaum
perempuan lebih banyak terjadi kematian yang disebabkan oleh TB-Paru
dibandingkan dengan akibat proses kehamilan dan persalinan. Pada jenis kelamin
laki-laki penyakit ini lebih tinggi karena merokok tembakau dan minum alkohol
sehingga dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah
terpapar dengan agent penyebab TB-Paru.
7. Pencegahan
Seseorang bisa terhindar dari
penyakit TBCdengan berpola hidup yang sehat dan teratur. Dengan system pola
hidup seperti itu diharapkan daya tubuh seseorang akan cukup kuat untuk
membersihkan perlindungan terhadap berbagai macam penyakit. Orang yang
benar-benar sehat meskipun ia diserang kuman TBC, diperkirakan tidak akan
mempan dan tidak akan menimbulkan gejala TBC.Menghindari kontak dengan orang yang
terinfeksi penyakit tuberkulosis, mempertahankan status kesehatan dengan asupan
nutrisi yang cukup, minum susu yang
telah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat
bakteri hingga dilakukan pengobatan, pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan
daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberkulosis virulen.
8. Cara Penularan
Cara penularan tuberkulosis paru
melalui percikan dahak (droplet) sumber penularan adalah penderita tuberkulosis
paru BTA(+), pada waktu penderita tuberkulosis paru batuk atau bersin. Droplet
yang mengandung kuman TB dapat bertahan di udara selama beberapa jam, sekali
batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi
dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi
dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat
membunuh kuman, percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang
gelap dan lembab.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam
tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke
bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe,
saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya. Daya penularan
dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahaknya maka makin
menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahaknya negatif maka
penderita tersebut dianggap tidak menular.
9. Diagnosa Penyakit Tuberkulosis
Yang menjadi petunjuk awal dari
tuberkulosis adalah foto rontgen dada. Penyakit ini tampak sebagai daerah putih
yang bentuknya tidak teratur dengan latar belakang hitam. Rontgen juga bisa
menunjukkan efusi pleura atau pembesaran jantung (perikarditis). Pemeriksaan
diagnostik untuk tuberkulosis adalah:Tes kulit tuberkulin, disuntikkan sejumlah
kecil protein yang berasal dari bakteri tuberkulosis ke dalam lapisan kulit
(biasanya di lengan). 2 hari kemudian dilakukan pengamatan pada daerah
suntikan, jika terjadi pembengkakan dan kemerahan, maka hasilnya adalah
positif.
Pemeriksaan dahak, cairan tubuh atau
jaringan yang terinfeksi. Dengan sebuah jarum diambil contoh cairan dari dada,
perut, sendi atau sekitar jantung. Mungkin perlu dilakukan biopsi untuk
memperoleh contoh jaringan yang terinfeksi. Untuk memastikan diagnosis
meningitis tuberkulosis, dilakukan pemeriksaan reaksi rantai polimerase (PCR)
terhadap cairan serebrospinalis. Untuk memastikan tuberkulosis ginjal, bisa
dilakukan pemeriksaan PCR terhadap air kemih penderita atau pemeriksaan rontgen
dengan zat warna khusus untuk menggambarkan adanya massa atau rongga abnormal
yang disebabkan oleh tuberkulosis. Kadang perlu dilakukan pengambilan contoh
massa tersebut untuk membedakan antara kanker dan tuberkulosis.Untuk memastikan
diagnosis tuberkulosis pada organ reproduksi wanita, dilakukan pemeriksaan
panggul melalui laparoskopi. Pada kasus-kasus tertentu perlu dilakukan
pemeriksaan terhadap contoh jaringan hati, kelenjar getah bening atau sumsum
tulang.
D.
Konsep
Gizi Buruk
1. Pengertian
a. Gizi
buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang buruk. Hal ini
bisa diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis makanan yang tidak
tepat ataupun karena sebab lain seperti adanya penyakit infeksi yang
menyebabkan kurang terserapnya nutrisi dari makanan. Secara klinis gizi buruk
ditandai dengan asupan protein, energi dan nutrisi mikro seperti vitamin yang
tidak mencukupi ataupun berlebih sehingga menyebabkan terjadinya gangguan
kesehatan.
b. Gizi
buruk adalah bentuk terparah (akut), merupakan keadaan kurang gizi tingkat
berat yang disebabkan oleh rendahnya tingkat konsumsi energi, protein serta
makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Itu ditandai
dengan status gizi sangat kurus ( menurut BB terhadap TB ) dan hasil
pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor atau
marasmic-kwashiorkor.
2. Etiologi
Menurut
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada
balita, yaitu:
a. Keluarga
miskin
b. Ketidaktahuan
orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak
c. Faktor
penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan
dan diare.
3. Pencegahan
Beberapa
cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak, yaitu:
a. Memberikan
ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai
dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan
tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
b. Anak
diberi makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya untuk lemak minimal 10% dari
total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
c. Rajin
menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program posyandu. Cermati
apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai,
segera konsultasikan hal itu ke dokter.
d. Jika
anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada
petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah
sakit.
e. Jika
anak menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi
dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa
diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu
meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting
lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi
yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan
secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang
permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
4. Penanganan
Orang
yang obesitas harus memilih program penurunan berat badan yang aman.
Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih program penurunan berat
badan yaitu:
a. Diet
aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang dianjurkan (vitamin, mineral dan
protein).
b. Program
penurunan berat badan harus diarahkan kepada penurunan berat badan secara
perlahan dan stabil.
c. Sebelum
sebuah program penurunan berat badan dimulai, dilakukan pemeriksaan kesehatan
secara menyeluruh.
Untuk diagnosa
terjadinya gizi buruk, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan:
a. Memeriksa
tinggi dan berat badan pasien untuk menentukan BMI (body mass index)
b. Melakukan
pemeriksaan darah untuk melihat ketidak normalan
c. Melakukan
pemeriksaan X-Ray untuk memeriksa apakah ada kelainan pada tulang dan organ
tubuh lain.
d. Memeriksa
penyakit atau kondisi lain yang dapat menyebabkan terjadinya gizi buruk
Untuk penanganan gizi
buruk. Dokter atau ahli gizi biasanya akan mengusulkan untuk pengaturan pola
makan, termasuk jenis dan jumlah makanan. Bila diperlukan dapat juga diberikan
suplemen atau vitamin untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin yang kurang
tersebut. Apabila penyebab gizi buruk karena penyakit atau kondisi medis
tertentu maka, terapi lain disarankan untuk menanganinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar