Senin, 23 September 2013

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN CITRA TUBUH


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
 KLIEN GANGGUAN CITRA TUBUH

A.    MASALAH UTAMA
Gangguan Citra tubuh

B.     PROSES TERJADINYA MASALAH            
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart-Laraia, 2005). Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. Kosep diri terdiri atas komponen : Citra tubuh (Body image), Ideal diri (Self ideal), Harga diri (Self esteem), Identitas diri (Personal identity) dan Penampilan peran (role performance).
Pengertian Citra Tubuh (Body image)
§  Citra tubuh adalah integrasi persepsi, pikiran dan perasaan individu tentang bentuk, ukuran, berat tubuh dan fungsi tubuh serta bagian-bagiannya yang digambarkan dalam bentuk penampilan fisik (Fontaine, 2003).
§  Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari   terhadap tubuhnya termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi tubuh (Stuart-Laraia, 2005).
Pengertian Gangguan Citra tubuh ( Body image, disturbed)
§  Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap perubahan bentuk, struktur dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan (Stuart-Laraia, 2005).
§    Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan diri dalam cara memandang dan menerima gambaran tubuh (Nanda, 2005).
§    Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan secara mental dalam memandang fisik diri sendiri (Nanda, 2008).

1. Faktor Predisposisi
            Adanya riwayat :
a.      Biologis :
Penyakit genetik dalam keluarga, Pertumbuhan dan perkembangan masa bayi, anak dan remaja, Anoreksia, bulimia, atau berat badan kurang atau berlebih dari berat badan ideal, perubahan fisiologi pada kehamilan dan penuaan, pembedahan elektif dan operasi, trauma, penyakit atau gangguan organ dan fungsi tubuh lain ; Stroke, Kusta, Asthma dan lain-lain, pengobatan atau kemoterapi, penyalahgunaan obat atau zat ; coccaine, Amphetamine, Halusinogen dan lain-lain.
b.      Psikologis :
 Gangguan kemampuan verbal, konflik dengan nilai masyarakat, pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, ideal diri tidak realistis.
c.       Sosial budaya :
Pendidikan masih rendah, masalah dalam pekerjaan, nilai budaya bertentangan dengan nilai individu, pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, kegagalan peran sosial.
2.   Faktor Presipitasi
§  Trauma
§  Penyakit, kelainan hormonal
§  Operasi atau pembedahahan
§  Perubahan masa pertumbuhan dan perkembangan ; maturasi
§  Perubahan fisiologis tubuh ; kehamilan, penuaan.
§  Prosedur medis dan keperawatan ; efek pengobatan ; radioterapi, kemoterapi.
3.  Sumber Koping :
1.      Hubungan interpersonal dengan orang lain.
2.      Support dari keluarga, teman dan masyarakat dan jaringan sosial.
3.      Bakat tertentu
4.      Pekerjaan, penghasilan.
5.      Keyakinan diri yang positif.
4.   Mekanisme Koping :
a.       Konstruktif
1)      Berfokus pada masalah : negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat/saran.
2)      Berfokus pada kognitif : perbandingan yang positif, penggantian rewards, antisipasi.
b.      Destruktif
Berfokus pada emosi : Denial, Proyeksi, Represi, Kompensasi, Isolasi.

C.    DATA YANG PERLU  DIKAJI
1.  Objektif  :
 .        Hilangnya bagian tubuh.
a.       Perubahan anggota tubuh baik bentuk maupun fungsi.
b.      Menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang terganggu.
c.       Menolak melihat bagian tubuh.
d.      Menolak menyentuh bagian tubuh.
e.       Aktifitas sosial menurun.
2.  Subjektif  :
a.       Menolak perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas dengan hasil operasi.
b.      Mengatakan hal negatif tentang anggota tubuhnya yang tidak berfungsi.
c.       Menolak berinteraksi dengan orang lain.
d.      Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi terhadap bagian tubuh yang terganggu.
e.       Sering mengulang-ulang mengatakan kehilangan yang terjadi.
f.       Merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang.
3.   Konsep diri :
Ideal diri ; tidak realistis, ambisius

4.  Sosial budaya :
a.       Nilai budaya yang ada di masyarakat.
b.      Nilai budaya yang dianut individu

D.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan yang muncul adalah : Gangguan Citra Tubuh  (Body  Image, Disturbed)

E.     TINDAKAN KEPERAWATAN
I.    INTERVENSI GENERALIS
Tindakan Keperawatan pada Individu
 a. Tujuan
1) Pasien dapat mengidentifikasi citra tubuhnya.
2) Paien dapat meningkatkan penerimaan terhadap citra tubuhnya
3) Pasien dapat mengidentifikasi potensi (aspek positif) dirinya.
4) Pasien dapat mengetahui cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
5) Pasien dapat melakukan cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
6) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa terganggu.
b. Tindakan Keperawatan
1)  Diskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya ; dulu dan saat ini, perasaan tentang citra tubuhnya dan harapan terhadap citra tubuhnya saat ini.
2) Motivasi pasien untuk melihat bagian yang hilang secara bertahap, bantu pasien menyentuh bagian tersebut.
3)   Diskusikan potensi bagian tubuh yang lain.
4)  Bantu pasien untuk meningkatkan fungsi bagian tubuh yang terganggu.
5)  Ajarkan pasien meningkatkan citra tubuh dengan cara :
a) Gunakan protesa, wig, kosmetik atau yang lainnya sesegera mungkin, gunakan pakaian yang baru.
b) Motivasi pasien untuk melakukan aktifitas yang mengarah pada pembentukan tubuh yang ideal

6)  Lakukan interaksi secara bertahap dengan cara :
a)   Susun jadwal kegiatan sehari-hari.
b) Dorong melakukan aktifitas sehari-hari dan terlibat dalam aktifitas keluarga dan sosial.
c) Dorong untuk mengunjungi teman atau orang lain yang berarti/mempunyai peran penting baginya.
d)  Beri pujian terhadap keberhasilan pasien melakukan interaksi.

Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
a. Tujuan   :
1)  Keluarga dapat mengenal masalah gangguan citra tubuh.
2)  Keluarga mengetahui cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.
3)  Keluarga mampu merawat pasien gangguan citra tubuh.
4) Keluarga mampu mengevaluasi kemampuan pasien dan memberikan  pujian atas keberhasilannya.
b. Tindakan Keperawatan :
1)  Jelaskan dengan keluarga tentang gangguan citra tubuh yang terjadi pada pasien.
2)  Jelaskan kepada keluarga cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.
3)  Ajarkan kepada keluarga cara merawat pasien :
a) Menyediakan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pasien di rumah.
b) Memfasilitasi interaksi di rumah.
c) Melaksanakan kegiatan di rumah dan sosial.
d) Memberikan pujian atas kegiatan yang telah dilakukan pasien.
4) Bersama keluarga susun tindakan yang akan dilakukan keluarga dalam gangguan citra   tubuh.
5)  Beri pujian yang realistis terhadap keberhasilan keluarga.

II. INTERVENSI SPESIALIS
1. Terapi Individu             : terapi CBT, Terapi Kognitif.
2. Terapi Keluarga : Family System Therapy, Terapi Komunikasi.
3. Terapi Kelompok          : Logoterapi, Terapi Suportif.
4. Terapi Komunitas          : Psikoedukasi

J.   EVALUASI
a. Evaluasi kemampuan pasien.
b. Evaluasi kemampuan keluarga
c. Evaluasi kemampuan perawat

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF


STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN
KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF

A.    PENGKAJIAN
1.      Pengertian
Koping keluarga tidak efektif adalah suatu keadaan dimana keluarga menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki.

2.      Tanda dan Gejala
Data berikut yang dapat ditemukan di dalam keluarga:
a.       Ketegangan dalam keluarga
b.      Menurunnya toleransi satu sama lain
c.       Permusuhan dalam keluarga
d.      Perasaan malu dan bersalah
e.       Perasaan tidak berdaya
f.       Agitasi
g.      Mengingkari masalah
h.      Harga diri rendah
i.        Penolakan

3.      Penyebab
a.       Orang yang penting atau berpengaruh dalam keluarga tidak mampu mengekspresikan perasaan seperti memendam rasa bersalah, kecemasan, permusuhan dan keputusasaan
b.      Pola pengambilan keputusan keluarga yang sewenang-wenang (otoriter)
c.       Hubungan antar anggota keluarga yang penuh keragu-raguan


B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data yang didapat melalui wawancara, observasi, maka perawat dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga sebagai berikut:
KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
 



C.    TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Terapi Generalis Untuk Keluarga
a.      Tujuan
1)      Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga
2)      Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga
3)      Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah
4)      Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru
5)      Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru
6)      Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif

b.      Tindakan
1)      Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar keluarga merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawat. Tindakan yang perawat lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a)      Mengucapkan salam terapeutik
b)      Berjabat tangan sambil mengenalkan nama
c)      Menjelaskan tujuan interaksi
d)     Membuat kontrak, waktu dan tempat setiap kali pertemuan dengan keluarga
2)      Identifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga
a)      Asal masalah
b)      Jumlah
c)      Sifat
d)     Waktu
3)      Diskusikan koping atau upaya yang biasa dilakukan keluarga
a)      Mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapai masalah
b)      Mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang biasa digunakan
4)      Diskusikan alternatif koping
a)      Keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas cara-cara menyelesaikan masalah dan membagi tugas penyelesaian masalah
b)      Melakukan kegiatan yang disukai (olahraga, jalan-jalan, dll) untuk mengembalikan energi dan semangat (break sesaat)
c)      Mencari dukungan sosial yang lain
d)     Memohon pertolongan pada Tuhan
5)      Latih keluarga menggunakan koping yang efektif
6)      Evaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif


2.      Terapi Spesialis Untuk Keluarga: Terapi Komunikasi
Sesi I : Membantu keluarga mengidentifikasi masalah dalam komunikasi
a.       Setiap anggota keluarga mengungkapkan perasaan masing-masing.
b.      Setiap anggota keluarga menyampaikan harapannya.
c.       Membantu keluarga mengidentifikasi masalah yang timbul dalam berkomunikasi yang biasa dilakukan.
d.      Membantu keluarga mengidentifikasi kemampuan positif yang dimiliki.
e.       Melatih keluarga dalam melakukan komunikasi terapeutik.
f.       Memberi kesempatan keluarga untuk mencoba berkomunikasi terapeutik.

Sesi II : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam berkomunikasi asertif
a.       Mengevaluasi kemampuan keluarga dalam berkomunikasi terapeutik lainnya.
b.      Melatih keluarga untuk melakukan teknik komunikasi terapeutik lainnya.
c.       Memberikan kesempatan keluarga untuk melakukan teknik komunikasi terapeutik yang diajarkan untuk menyampaikan keinginannya.
d.      Memberi pujian pada keluarga.

Sesi III : Terminasi
a.       Mengevaluasi kemampuan seluruh anggota keluarga dalam melakukan komunikasi secara terapeutik.
b.      Membantu keluarga untuk mengidentifikasi adanya hambatan yang dialami dalam melakukan komunikasi terapeutik.
c.       Mendiskusikan alternatif pemecahan masalah yang terjadi dalam berkomunikasi secara terapeutik.
d.      Memberi motivasi pada keluarga untuk mencoba alternatif pemecahan masalah.
e.       Memberikan pujian pada keluarga.

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
TINDAKAN

Koping keluarga tidak efektif

Tanda dan gejala:
§  Ketegangan dalam keluarga
§  Perasaan malu & bersalah
§  Mengingkari masalah
§  Menurunnya toleransi satu sama lain
§  Perasaan tidak berdaya
§  Harga diri rendah
§  Permusuhan dalam keluarga
§  Agitasi
§  Penolakan



TUM:
Koping keluarga menjadi lebih efektif.

TUK:
Keluarga mampu:
1.      Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga








2.      Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga

3.      Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah





·         Membina hubungan saling percaya (mengucapkan salam terapeutik, berjabat tangan sambil mengenalkan nama, menjelaskan tujuan interaksi dan membuat kontrak, waktu serta tempat setiap kali pertemuan dengan keluarga).
·         Mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga (asal masalah, jumlah masalah, sifat masalah dan waktu terjadinya masalah).

·         Mendiskusikan koping atau upaya yang biasa dilakukan keluarga.

·         Mendiskusikan mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapi masalah dan mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang biasa digunakan.


DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
TINDAKAN


4.      Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru









5.      Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru

6.      Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif


·         Mendiskusikan alternatif koping (keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas cara-cara menyelesaikan masalah dan membagi tugas penyelesaian masalah, melakukan kegiatan yang disukai seperti olahraga, jalan-jalan, dll untuk mengembalikan energi dan semangat/break sesaat, mencari dukungan sosial yang lain dan memohon pertolongan pada Tuhan).

·         Melatih keluarga menggunakan koping yang efektif.


·         Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif.





                                                                                                                                                                                               




KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
SP 1,  Membantu keluarga mengidentifikasi masalah dalam komunikasi

ORIENTASI:
“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Suster Indri dari STIK Immanuel........”
“Nama bapak/ibu siapa dan senang dipanggil apa?”
Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? Adakah yang sedang bapak/ibu pikirkan?”
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang perasaan atau masalah yang bapak/ibu hadapi dalam keluarga? Mau berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit? Mau duduk di mana?”

KERJA
“Apa masalah dalam keluarga yang bapak/ibu alami? Apakah ada anggota keluarga yang dirasakan menjadi sumber masalah?” (kaji semua anggota keluarga agar ditemukan asal, jumlah dan waktu terjadinya masalah).
“Dari berbagai masalah tersebut, mana yang paling berat bapak/ibu rasakan?” (fokus satu masalah yang paling berat).
“Apa yang telah bapak/ibu lakukan dalam mengatasi masalah tersebut? (tulis semua upaya keluarga).
“Bagaimana hasilnya? Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah melaksanakan upaya tersebut?” (perawat dapat menemukan cara yang efektif dan efisien).
“Baik, bapak/ibu kita akan bicarakan beberapa cara untuk mengatasi masalah dalam keluarga bapak/ibu
§  Keterbukaan dalam keluarga. Bapak/ibu dapat berbicara langsung dengan semua anggota keluarga untuk membahas semua masalah yang dihadapi, mendiskusikan jalan keluar bersama keluarga dan memilih jalan keluar yang terbaik menurut keluarga.
§  Mencari dukungan sosial. Bersama-sama keluarga mengidentifikasi sumber-sumber (keluarga lain, teman lain) yang dapat membantu menyelesaikan masalah, kemudian tugaskan anggota keluarga untuk menghubunginya.
§  Memohon pertolongan/kekuatan kepada Tuhan. Menyepakati untuk melakukan ibadah bersama-sama. Misalnya shalat berjamaah pada saat magrib.
§  Melakukan break. Bersama keluarga meninggalkan situasi sementara, misalnya jalan-jalan dan rekreasi agar dapat memulihkan tenaga baru dan kebersamaan untuk menghadapi masalah keluarga”
“Nah, yang mana yang ingin bapak/ibu coba?”
“Baiklah kalau perlu saya akan ikut dalam pertemuan keluarga tersebut”

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita bercakap-cakap?”
“Ada berapa cara untuk mengatasi masalah keluarga bapak/ibu?”
“Baik, bapak/ibu telah memilih cara yang mau dicoba, silakan coba ya”
“Seminggu lagi kita ketemu pada jam yang sama ya. Nanti kita bahas keberhasilan bapak/ibu dalam mencobanya dan membicarakan cara yang lainnya lagi.Selamat pagi”


KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
SP 2 : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam berkomunikasi asertif
(Latihan Bicara Terbuka)

ORIENTASI:
“Selamat pagi, sesuai janji saya hari ini kita akan bercakap-cakap lagi”
“Bagaimana pak/bu, apakah bapak/ibu sudah mencoba berbicara dengan keluarga tentnag masalah keluarga? Apa yang bapak/ibu rasakan setelah berbincang-bincang?”
“Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang  berbicara terbuka? Di mana kita duduk? Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit?”

KERJA
“Apakah bapak/ibu merasakan kesulitan menyampaikan pendapat dalam keluarga? Apa usaha mengatasinya? Apakah berhasil? Bagaimana kalau bapak/ibu mencoba untuk menyampaikan perasaan yang bapak/ibu rasakan?”
“Apakah bapak/ibu pernah merasakan tidak berdaya? Apakah bapak/ibu merasakan benci atau marah? Apakah bapak/ibu mengharap untuk mempunyai keberanian untuk berbicara? Atau mengharap orang lain yang berbicara?”
“Apakah bapak/ibu merasa tertekan?”
“Kalau bapak/ibu merasa tertekan, apa yang bapak/ibu lakukan?”
“Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah melakukannya? Apakah bapak/ibu merasa sulit berhadapan dengan orang lain?”
“Apakah bapak/ibu diam tetapi menggerutu dalam hati?”
“Apakah akhirnya bapak/ibu bicara tapi tampak sangat marah?”
“Apakah bapak/ibu mengatakan ‘ya’ padahal tidak?”
”Apakah bapak/ibu pernah perlu memberikan nasehat pada orang lain?”
“Apakah bapak/ibu menghindari masalah dan hanya berharap akan ada perubahan?”
“Apakah bapak/ibu pernah marah-marah menghabiskan tenaga?”
“Apakah bapak/ibu bersikap kasar untuk mendapatkan pembenaran?”
“Semua perasaan itu normal kita rasakan”
“Nah, mari kita belajar berbicara secara terbuka atau disebut asertif yaitu menyampaikan perasaan kita kepada orang lain yang bersangkutan secara spontan sesuai dengan situasi yang mendukung, sehingga orang lain memahami apa maksud dan tujuan kita serta memahami alasan keberatan yang disampaikan. Saya akan dampingi bapak/ibu untuk melatih tehnik ini. Mari kita latihan, bapak/ibu sampaikan masalah yang bapak/ibu rasakan kepada isteri/suami dengan nada baik tanpa emosional”
“Bagus sekali bapak/ibu telah mencoba. Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah bapak/ibu mengungkapkan masalah?”
“Bagaimana perasaan isteri/suami setelah bapak/ibu mendengar masalah bapak/ibu?”

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita berbincang-bincang?”
“Bisa bapak/ibu ulangi, apa saja yang sudah kita diskusikan?”
”Bagus sekali bapak/ibu telah mencoba latihan asertif. Jika nanti ada yang ingin disampaikan bapak/ibu bisa mencobanya lagi”
“Minggu depan saya akan datang ke sini untuk membicarakan tentang cara menyelesaikan masalah yang bapak/ibu rasakan. Selamat pagi”


KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
SP 3: Latihan Penyelesaian Masalah

ORIENTASI:
“Selamat pagi bapak/ibu, sesuai dengan janji, saya datang lagi”
“Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? Apakah sudah dicoba cara yang kita bahas kemarin?”
“Baik, sekarang kita akan membicarakan cara menyelesaikan masalah yang bapak/ibu anggap paling berat. Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit?”
“Di mana kita berbincang-bincang, bagaimana kalau di sini saja?”

KERJA
“Yang mana masalah keluarga yang palingberat menurut bapak/ibu?”
“Apa kira-kira penyebab masalah itu?”
“Apa usaha yang sudah bapak/ibu lakukan untuk menyelesaikannya?”
“Bagaimana hasilnya, apakah selalu berhasil? Masih adakah cara lain yang biasa bapak/ibu lakukan? Bagus sekali, bapak/ibu memiliki beberapa alternatif lain untuk menyelesaikan masalah bapak/ibu”
“Coba kita bicarakan keuntungan masing-masing alternatif”
“Nah...... yang mana yang akan bapak/ibu pilih untuk dicoba? Bagus sekali...”

TERMINASI
”Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita berbincang-bincang?”
“Apa saja tadi yang dapat menyelesaikan masalah bapak/ibu?’
“Minggu depan kita akan bertemu lagi dan cara yang bapak/ibu pilih tadi dicoba ya.....”
“Kita akan membicarakan masalah yang lain lagi yang masih belum terselesaikan. Sampai jumpa. Selamat pagi”


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Dx. KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
Definisi
Suatu keadaan dimana keluarga menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki

Tujuan
2)  Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga
3)  Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga
4)  Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah
5)  Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru
6)  Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru
7)  Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif
Indikasi
Keluarga yang menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki

Prosedur
a.   Persiapan pasien



b.   Persiapan alat



c.    Cara kerja

a.   Sudah terbina hubungan saling percaya antara perawat dan anggota keluarga
b. Keluarga memiliki kemauan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik

a.   Perawat membuat kontrak dengan keluarga
b.   Perawat menyiapkan diri dengan konsep koping keluarga inefektif
c.   Perawat mempersiapkan kondisi lingkungan yang kondusif

1.      Bina hubungan saling percaya dengan keluarga
2.      Identifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga
a.       Asal masalah
b.      Jumlah
c.       Sifat
d.      Waktu
3.      Diskusikan koping atau upaya yang biasa dilakukan keluarga
a.       Mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapai masalah
b.      Mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang biasa digunakan
4.      Diskusikan alternatif koping
a.       Keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas cara-cara menyelesaikan masalah dan membagi tugas penyelesaian masalah
b.      Melakukan kegiatan yang disukai (olahraga, jalan-jalan, dll) untuk mengembalikan energi dan semangat (break sesaat)
c.       Mencari dukungan sosial yang lain
d.      Memohon pertolongan pada Tuhan
5.      Latih keluarga menggunakan koping yang efektif
6.      Evaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif
 
Sikap
Perawat berempati terhadap pasien
Petugas yang Melaksanakan
Perawat, dokter, keluarga pasien
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)     Jangan memaksa keluarga untuk mengungkapkan bila keluarga/anggota keluarga belum siap
2)     Berikan motivasi secara terus menerus agar keluarga dapat merasakan perhatian dan kepedulian perawat
3)     Libatkan anggota keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan bagi seluruh keluarga