Senin, 23 September 2013

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF


STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN
KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF

A.    PENGKAJIAN
1.      Pengertian
Koping keluarga tidak efektif adalah suatu keadaan dimana keluarga menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki.

2.      Tanda dan Gejala
Data berikut yang dapat ditemukan di dalam keluarga:
a.       Ketegangan dalam keluarga
b.      Menurunnya toleransi satu sama lain
c.       Permusuhan dalam keluarga
d.      Perasaan malu dan bersalah
e.       Perasaan tidak berdaya
f.       Agitasi
g.      Mengingkari masalah
h.      Harga diri rendah
i.        Penolakan

3.      Penyebab
a.       Orang yang penting atau berpengaruh dalam keluarga tidak mampu mengekspresikan perasaan seperti memendam rasa bersalah, kecemasan, permusuhan dan keputusasaan
b.      Pola pengambilan keputusan keluarga yang sewenang-wenang (otoriter)
c.       Hubungan antar anggota keluarga yang penuh keragu-raguan


B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data yang didapat melalui wawancara, observasi, maka perawat dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga sebagai berikut:
KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
 



C.    TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Terapi Generalis Untuk Keluarga
a.      Tujuan
1)      Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga
2)      Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga
3)      Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah
4)      Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru
5)      Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru
6)      Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif

b.      Tindakan
1)      Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar keluarga merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawat. Tindakan yang perawat lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a)      Mengucapkan salam terapeutik
b)      Berjabat tangan sambil mengenalkan nama
c)      Menjelaskan tujuan interaksi
d)     Membuat kontrak, waktu dan tempat setiap kali pertemuan dengan keluarga
2)      Identifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga
a)      Asal masalah
b)      Jumlah
c)      Sifat
d)     Waktu
3)      Diskusikan koping atau upaya yang biasa dilakukan keluarga
a)      Mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapai masalah
b)      Mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang biasa digunakan
4)      Diskusikan alternatif koping
a)      Keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas cara-cara menyelesaikan masalah dan membagi tugas penyelesaian masalah
b)      Melakukan kegiatan yang disukai (olahraga, jalan-jalan, dll) untuk mengembalikan energi dan semangat (break sesaat)
c)      Mencari dukungan sosial yang lain
d)     Memohon pertolongan pada Tuhan
5)      Latih keluarga menggunakan koping yang efektif
6)      Evaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif


2.      Terapi Spesialis Untuk Keluarga: Terapi Komunikasi
Sesi I : Membantu keluarga mengidentifikasi masalah dalam komunikasi
a.       Setiap anggota keluarga mengungkapkan perasaan masing-masing.
b.      Setiap anggota keluarga menyampaikan harapannya.
c.       Membantu keluarga mengidentifikasi masalah yang timbul dalam berkomunikasi yang biasa dilakukan.
d.      Membantu keluarga mengidentifikasi kemampuan positif yang dimiliki.
e.       Melatih keluarga dalam melakukan komunikasi terapeutik.
f.       Memberi kesempatan keluarga untuk mencoba berkomunikasi terapeutik.

Sesi II : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam berkomunikasi asertif
a.       Mengevaluasi kemampuan keluarga dalam berkomunikasi terapeutik lainnya.
b.      Melatih keluarga untuk melakukan teknik komunikasi terapeutik lainnya.
c.       Memberikan kesempatan keluarga untuk melakukan teknik komunikasi terapeutik yang diajarkan untuk menyampaikan keinginannya.
d.      Memberi pujian pada keluarga.

Sesi III : Terminasi
a.       Mengevaluasi kemampuan seluruh anggota keluarga dalam melakukan komunikasi secara terapeutik.
b.      Membantu keluarga untuk mengidentifikasi adanya hambatan yang dialami dalam melakukan komunikasi terapeutik.
c.       Mendiskusikan alternatif pemecahan masalah yang terjadi dalam berkomunikasi secara terapeutik.
d.      Memberi motivasi pada keluarga untuk mencoba alternatif pemecahan masalah.
e.       Memberikan pujian pada keluarga.

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
TINDAKAN

Koping keluarga tidak efektif

Tanda dan gejala:
§  Ketegangan dalam keluarga
§  Perasaan malu & bersalah
§  Mengingkari masalah
§  Menurunnya toleransi satu sama lain
§  Perasaan tidak berdaya
§  Harga diri rendah
§  Permusuhan dalam keluarga
§  Agitasi
§  Penolakan



TUM:
Koping keluarga menjadi lebih efektif.

TUK:
Keluarga mampu:
1.      Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga








2.      Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga

3.      Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah





·         Membina hubungan saling percaya (mengucapkan salam terapeutik, berjabat tangan sambil mengenalkan nama, menjelaskan tujuan interaksi dan membuat kontrak, waktu serta tempat setiap kali pertemuan dengan keluarga).
·         Mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga (asal masalah, jumlah masalah, sifat masalah dan waktu terjadinya masalah).

·         Mendiskusikan koping atau upaya yang biasa dilakukan keluarga.

·         Mendiskusikan mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapi masalah dan mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang biasa digunakan.


DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
TINDAKAN


4.      Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru









5.      Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru

6.      Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif


·         Mendiskusikan alternatif koping (keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas cara-cara menyelesaikan masalah dan membagi tugas penyelesaian masalah, melakukan kegiatan yang disukai seperti olahraga, jalan-jalan, dll untuk mengembalikan energi dan semangat/break sesaat, mencari dukungan sosial yang lain dan memohon pertolongan pada Tuhan).

·         Melatih keluarga menggunakan koping yang efektif.


·         Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif.





                                                                                                                                                                                               




KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
SP 1,  Membantu keluarga mengidentifikasi masalah dalam komunikasi

ORIENTASI:
“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Suster Indri dari STIK Immanuel........”
“Nama bapak/ibu siapa dan senang dipanggil apa?”
Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? Adakah yang sedang bapak/ibu pikirkan?”
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang perasaan atau masalah yang bapak/ibu hadapi dalam keluarga? Mau berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit? Mau duduk di mana?”

KERJA
“Apa masalah dalam keluarga yang bapak/ibu alami? Apakah ada anggota keluarga yang dirasakan menjadi sumber masalah?” (kaji semua anggota keluarga agar ditemukan asal, jumlah dan waktu terjadinya masalah).
“Dari berbagai masalah tersebut, mana yang paling berat bapak/ibu rasakan?” (fokus satu masalah yang paling berat).
“Apa yang telah bapak/ibu lakukan dalam mengatasi masalah tersebut? (tulis semua upaya keluarga).
“Bagaimana hasilnya? Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah melaksanakan upaya tersebut?” (perawat dapat menemukan cara yang efektif dan efisien).
“Baik, bapak/ibu kita akan bicarakan beberapa cara untuk mengatasi masalah dalam keluarga bapak/ibu
§  Keterbukaan dalam keluarga. Bapak/ibu dapat berbicara langsung dengan semua anggota keluarga untuk membahas semua masalah yang dihadapi, mendiskusikan jalan keluar bersama keluarga dan memilih jalan keluar yang terbaik menurut keluarga.
§  Mencari dukungan sosial. Bersama-sama keluarga mengidentifikasi sumber-sumber (keluarga lain, teman lain) yang dapat membantu menyelesaikan masalah, kemudian tugaskan anggota keluarga untuk menghubunginya.
§  Memohon pertolongan/kekuatan kepada Tuhan. Menyepakati untuk melakukan ibadah bersama-sama. Misalnya shalat berjamaah pada saat magrib.
§  Melakukan break. Bersama keluarga meninggalkan situasi sementara, misalnya jalan-jalan dan rekreasi agar dapat memulihkan tenaga baru dan kebersamaan untuk menghadapi masalah keluarga”
“Nah, yang mana yang ingin bapak/ibu coba?”
“Baiklah kalau perlu saya akan ikut dalam pertemuan keluarga tersebut”

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita bercakap-cakap?”
“Ada berapa cara untuk mengatasi masalah keluarga bapak/ibu?”
“Baik, bapak/ibu telah memilih cara yang mau dicoba, silakan coba ya”
“Seminggu lagi kita ketemu pada jam yang sama ya. Nanti kita bahas keberhasilan bapak/ibu dalam mencobanya dan membicarakan cara yang lainnya lagi.Selamat pagi”


KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
SP 2 : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam berkomunikasi asertif
(Latihan Bicara Terbuka)

ORIENTASI:
“Selamat pagi, sesuai janji saya hari ini kita akan bercakap-cakap lagi”
“Bagaimana pak/bu, apakah bapak/ibu sudah mencoba berbicara dengan keluarga tentnag masalah keluarga? Apa yang bapak/ibu rasakan setelah berbincang-bincang?”
“Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang  berbicara terbuka? Di mana kita duduk? Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit?”

KERJA
“Apakah bapak/ibu merasakan kesulitan menyampaikan pendapat dalam keluarga? Apa usaha mengatasinya? Apakah berhasil? Bagaimana kalau bapak/ibu mencoba untuk menyampaikan perasaan yang bapak/ibu rasakan?”
“Apakah bapak/ibu pernah merasakan tidak berdaya? Apakah bapak/ibu merasakan benci atau marah? Apakah bapak/ibu mengharap untuk mempunyai keberanian untuk berbicara? Atau mengharap orang lain yang berbicara?”
“Apakah bapak/ibu merasa tertekan?”
“Kalau bapak/ibu merasa tertekan, apa yang bapak/ibu lakukan?”
“Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah melakukannya? Apakah bapak/ibu merasa sulit berhadapan dengan orang lain?”
“Apakah bapak/ibu diam tetapi menggerutu dalam hati?”
“Apakah akhirnya bapak/ibu bicara tapi tampak sangat marah?”
“Apakah bapak/ibu mengatakan ‘ya’ padahal tidak?”
”Apakah bapak/ibu pernah perlu memberikan nasehat pada orang lain?”
“Apakah bapak/ibu menghindari masalah dan hanya berharap akan ada perubahan?”
“Apakah bapak/ibu pernah marah-marah menghabiskan tenaga?”
“Apakah bapak/ibu bersikap kasar untuk mendapatkan pembenaran?”
“Semua perasaan itu normal kita rasakan”
“Nah, mari kita belajar berbicara secara terbuka atau disebut asertif yaitu menyampaikan perasaan kita kepada orang lain yang bersangkutan secara spontan sesuai dengan situasi yang mendukung, sehingga orang lain memahami apa maksud dan tujuan kita serta memahami alasan keberatan yang disampaikan. Saya akan dampingi bapak/ibu untuk melatih tehnik ini. Mari kita latihan, bapak/ibu sampaikan masalah yang bapak/ibu rasakan kepada isteri/suami dengan nada baik tanpa emosional”
“Bagus sekali bapak/ibu telah mencoba. Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah bapak/ibu mengungkapkan masalah?”
“Bagaimana perasaan isteri/suami setelah bapak/ibu mendengar masalah bapak/ibu?”

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita berbincang-bincang?”
“Bisa bapak/ibu ulangi, apa saja yang sudah kita diskusikan?”
”Bagus sekali bapak/ibu telah mencoba latihan asertif. Jika nanti ada yang ingin disampaikan bapak/ibu bisa mencobanya lagi”
“Minggu depan saya akan datang ke sini untuk membicarakan tentang cara menyelesaikan masalah yang bapak/ibu rasakan. Selamat pagi”


KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
SP 3: Latihan Penyelesaian Masalah

ORIENTASI:
“Selamat pagi bapak/ibu, sesuai dengan janji, saya datang lagi”
“Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? Apakah sudah dicoba cara yang kita bahas kemarin?”
“Baik, sekarang kita akan membicarakan cara menyelesaikan masalah yang bapak/ibu anggap paling berat. Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit?”
“Di mana kita berbincang-bincang, bagaimana kalau di sini saja?”

KERJA
“Yang mana masalah keluarga yang palingberat menurut bapak/ibu?”
“Apa kira-kira penyebab masalah itu?”
“Apa usaha yang sudah bapak/ibu lakukan untuk menyelesaikannya?”
“Bagaimana hasilnya, apakah selalu berhasil? Masih adakah cara lain yang biasa bapak/ibu lakukan? Bagus sekali, bapak/ibu memiliki beberapa alternatif lain untuk menyelesaikan masalah bapak/ibu”
“Coba kita bicarakan keuntungan masing-masing alternatif”
“Nah...... yang mana yang akan bapak/ibu pilih untuk dicoba? Bagus sekali...”

TERMINASI
”Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita berbincang-bincang?”
“Apa saja tadi yang dapat menyelesaikan masalah bapak/ibu?’
“Minggu depan kita akan bertemu lagi dan cara yang bapak/ibu pilih tadi dicoba ya.....”
“Kita akan membicarakan masalah yang lain lagi yang masih belum terselesaikan. Sampai jumpa. Selamat pagi”


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Dx. KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF
Definisi
Suatu keadaan dimana keluarga menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki

Tujuan
2)  Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga
3)  Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga
4)  Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah
5)  Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru
6)  Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru
7)  Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif
Indikasi
Keluarga yang menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki

Prosedur
a.   Persiapan pasien



b.   Persiapan alat



c.    Cara kerja

a.   Sudah terbina hubungan saling percaya antara perawat dan anggota keluarga
b. Keluarga memiliki kemauan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik

a.   Perawat membuat kontrak dengan keluarga
b.   Perawat menyiapkan diri dengan konsep koping keluarga inefektif
c.   Perawat mempersiapkan kondisi lingkungan yang kondusif

1.      Bina hubungan saling percaya dengan keluarga
2.      Identifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga
a.       Asal masalah
b.      Jumlah
c.       Sifat
d.      Waktu
3.      Diskusikan koping atau upaya yang biasa dilakukan keluarga
a.       Mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapai masalah
b.      Mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang biasa digunakan
4.      Diskusikan alternatif koping
a.       Keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas cara-cara menyelesaikan masalah dan membagi tugas penyelesaian masalah
b.      Melakukan kegiatan yang disukai (olahraga, jalan-jalan, dll) untuk mengembalikan energi dan semangat (break sesaat)
c.       Mencari dukungan sosial yang lain
d.      Memohon pertolongan pada Tuhan
5.      Latih keluarga menggunakan koping yang efektif
6.      Evaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif
 
Sikap
Perawat berempati terhadap pasien
Petugas yang Melaksanakan
Perawat, dokter, keluarga pasien
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)     Jangan memaksa keluarga untuk mengungkapkan bila keluarga/anggota keluarga belum siap
2)     Berikan motivasi secara terus menerus agar keluarga dapat merasakan perhatian dan kepedulian perawat
3)     Libatkan anggota keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan bagi seluruh keluarga

2 komentar:

  1. terima kasih ilmunya...mhn informasi sumber pustaka yang dipergunakan..

    BalasHapus