LAPORAN PENDAHULUAN
ANSIETAS
(KECEMASAN)
1. Definisi :
•
Ansietas
adalah perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang
disertai dengan gejala fisiologis (Tomb, 2004).
•
Ansietas
adalah gangguan alam perasaan (afektif) yang ditandai dengan perasaan ketakutan
atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan
dalam menilai realitas (RTA), kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan
kepribadian/splitting of personality),
perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal (Hawari, 2002).
•
Ansietas adalah perasaan was-was, kuatir atau
tidak nyaman seakan-akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman.
Ansietas berbeda dengan rasa takut. Takut merupakan penilaian intelektual
terhadap sesuatu yang berbahaya, sementara ansietas adalah respons emosional terhadap
penilaian tersebut
Klasifikasi ansietas adalah :
a. Ansietas ringan
Berhubungan dengan ketegangan
dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan
meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan
pertumbuhan serta kreativitas.
b. Ansietas sedang
Memungkinkan seseorang untuk
memusatkan perhatian pada hal penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
c. Ansietas berat
Ansietas ini sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang
cenderung untuk memusatkan perhatian pada hal kecil saja dan mengabaikan hal
lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak
pengarahan/tuntutan.
d. Panik
Berhubungan dengan
terperangah, ketakutan dan teror. Lahan persepsi sudah terganggu sehingga
individu tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa
walaupun sudah diberi pengarahan/tuntutan.
2. Faktor Predisposisi :
a. Biologis
1) Latar belakang genetik :
a. Riwayat ansietas dalam keluarga, ada
komponen genetik yang sedang dan dihubungkan dengan fobia sosial dan depresi
mayor
b.Sensitivitas laktat
c. Kembar monozigot 5 x > dizigot
d.
Sindrom
kromosom 13 terkait dengan gangguan panik, sakit kepala berat, hipotiroid
2) Status nutrisi :
a. BB kurang (terlalu kurus) atau lebih dari
BB ideal (overweight)
3) Kondisi kesehatan secara umum : memiliki
riwayat penyakit fisik
a. Riwayat penyakit kanker (semua jenis
kanker)
b.Riwayat gangguan pada paru-paru : (seperti
ada pada penyakit paru obstruksif kronik, oedema paru, sumbatan jalan nafas,
asma, embolus)
c. Riwayat gangguan jantung (Penyakit jantung
bawaan atau demam rhematik, riwayat serangan jantung, dan hipertensi, kondisi arteriosclerosis)
d.
Riwayat
penyakit endokrin (Hipertiroid, hipoglikemi, hipotiroid, premenstrual sindrom, menopause)
e. Riwayat penyakit neurologis (Epilepsi,
Huntington’s disease, Multiple Sclerosis, Organic Brain Syndrome)
f. Riwayat
penyakit gastrointestinal : Gastritis, Ulkus Peptik, CH
g.Riwayat
penyakit integumen : Herpes, Varisela, Eskoriasis
h.Riwayat penyakit muskuloskletal : Fraktur
dengan Amputasi,
i. Riwayat penyakit reproduksi : Impoten,
Frigid, Infertil,
j. Riwayat
penyakit kelamin : Gonorhoe, Sipilis
k.Riwayat
penyakit imunologi : HIV/AIDS, Sindrom Steven Johnson
4)
Riwayat penggunaan zat
a. Intoksikasi
: obat antikolinergik, aspirin, kafein, kokain, halusinogen termasuk phenchiclidine, steroid dan simpatomimetik
5) Riwayat
putus zat : alkohol, narkotik, sedatif-hipnotik
6)
Sensitivitas biologi :
a. Secara
anatomi : gangguan pada sistem limbik, talamus, korteks frontal.
b.Sistem
neurokimia: GABA (Gama Amino Butiric Acid) defisiensi relatif atau
ketidakseimbangan GABA, Norepinephrin: terlalu aktif atau kurang aktif di
bagian otak yang berkaitan dengan ansietas, Serotonin: kekurangan atau
ketidakseimbangan
7)
Paparan terhadap racun
b.
Psikologis
1) Intelegensia
Retardasi
mental ringan IQ 50-70
Retardasi
mental sedang IQ 35-50
Kadang-kadang
tidak mampu membuat penilaian dan keputusan
Kadang-kadang
tidak mampu berkonsentrasi
2) Kemampuan verbal
Adanya
gangguan sensori penglihatan dan pendengaran:
- buta - tuli
Adanya
kerusakan area motorik bicara :
- pelo - gagap
Adanya pembatasan kontak sosial dengan
keluarga dan teman :
- perbedaan
budaya - lokasi tempat tinggal yang
terisolasi
Proses pengobatan yang menyebabkan
gangguan bicara : ICU, NGT, ETT,
trakeostomi
3) Kepribadian
ambang, histrionik, narsisistik, menghindar, dependen, obsesif
kompulsif/ kepribadian pencemas
ambang, histrionik, narsisistik, menghindar, dependen, obsesif
kompulsif/ kepribadian pencemas
4) Pengalaman masa lalu
Pengalaman yang tidak menyenangkan :
- di keluarga : masa kecil yang kacau, berpisah dengan orang tua
pada usia awal/ dini, proses imitasi dan identifikasi diri terhadap kedua orang tua
- di tempat kerja : mutasi, PHK, pensiun, turun jabatan, konflik di tempat kerja
- di sekolah : tinggal kelas, tidak lulus, sering pindah sekolah
- di masyarakat
Riwayat pasca trauma yang buruk (pengalaman berperang, perkosaan, kecelakaan yang serius, deprivasi atau penyiksaan yang buruk)
Pengalaman yang tidak menyenangkan :
- di keluarga : masa kecil yang kacau, berpisah dengan orang tua
pada usia awal/ dini, proses imitasi dan identifikasi diri terhadap kedua orang tua
- di tempat kerja : mutasi, PHK, pensiun, turun jabatan, konflik di tempat kerja
- di sekolah : tinggal kelas, tidak lulus, sering pindah sekolah
- di masyarakat
Riwayat pasca trauma yang buruk (pengalaman berperang, perkosaan, kecelakaan yang serius, deprivasi atau penyiksaan yang buruk)
5) Konsep diri
a) Gambaran diri:
- tidak menyukai tubuhnya
- merasa tidak sempurna
- ketidak puasan terhadap ukuran tubuh, fungsi, penampilan dan
potensi yang dimiliki
b) Identitas diri
- kerancuan identitas
- tidak menyukai tubuhnya
- merasa tidak sempurna
- ketidak puasan terhadap ukuran tubuh, fungsi, penampilan dan
potensi yang dimiliki
b) Identitas diri
- kerancuan identitas
c) Peran
- konflik peran
- peran ganda
- ketidak mampuan menjalankan peran
- tuntutan peran tidak sesuai usia
- konflik peran
- peran ganda
- ketidak mampuan menjalankan peran
- tuntutan peran tidak sesuai usia
d) Ideal
diri
- ideal diri tidak realistis
- ideal diri terlalu rendah
- ambisius
e) Harga diri
- harga diri rendah situasional
- ideal diri tidak realistis
- ideal diri terlalu rendah
- ambisius
e) Harga diri
- harga diri rendah situasional
8). Motivasi
- motivasi rendah
9) Pertahanan psikologis
- self kontrol (kadang tidak mampu menahan diri terhadap dorongan yang kurang positif)
- menurut pandangan Psikoanalitik, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, id dan super ego
- motivasi rendah
9) Pertahanan psikologis
- self kontrol (kadang tidak mampu menahan diri terhadap dorongan yang kurang positif)
- menurut pandangan Psikoanalitik, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, id dan super ego
c. Sosial Budaya
1) Usia : remaja, dewasa awal
2)
Gender : wanita : pria = 2 : 1
3)
Pendidikan : kurang/ rendah
4)
Pendapatan : kurang/ rendah
5)
Pekerjaan : tidak tetap, tidak punya pekerjan, tidak
mandiri dalam ekonomi, beban kerja yang terlalu tinggi
6) Status sosial : belum bisa memisahkan diri
dari autokritas keluarga
7) Latar belakang budaya : budaya yang
individualis, nilai budaya yang bertentangan dengan nilai kesehatan dan nilai
dirinya
8) Agama dan keyakinan : semua agama, kurang
mengamalkan ajaran agama dan keyakinannya/mempunyai religi dan nilai agama yang
buruk
9) Keikutsertaan dalam politik : pengurus
partai politik, post power syndrome
10) Pengalaman sosial : adanya perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal, berpisah dengan
orang yang dicintai, kehilangan orang yang dicintai, lingkungan sosial yang
rawan bencana, kriminalitas, kadang tidak mampu berhubungan secara intim dengan
lawan jenis
11) Peran sosial : gagal melaksanakan peran
sosial
12) Keluarga : proses imitasi dan identifikasi
diri terhadap kedua orang tua
3. Faktor Presipitasi
a. Nature
Faktor-faktor biologis;
1) Status nutrisi : BB kurang (terlalu kurus)
atau lebih dari BB ideal (overweight)
2) Kondisi kesehatan secara umum : memiliki
sakit fisik (kehilangan salah satu bgn tubuh, kehilangan fungsi tubuh)
3) Sensitivitas biologi :
secara
anatomi : gangguan pada sistem limbik, talamus, korteks frontal
sistem neurokimia : GABA (Gama Amino Butiric Acid),
norepinephrIn, serotonin
4) Paparan terhadap racun
Faktor-faktor psikologis
1) Intelegensia
Retardasi
mental ringan IQ 50-70
Retardasi
mental sedang IQ 35-50
Kadang-kadang
tidak mampu membuat penilaian dan keputusan
Kadang-kadang
tidak mampu berkonsentrasi
2) Kemampuan verbal
adanya
gangguan sensori penglihatan dan pendengaran:
-buta -tuli
adanya
kerusakan area motorik bicara :
-pelo - gagap
adanya
pembatasan kontak sosial dengan keluarga dan teman :
perbedaan
budaya,
lokasi
tempat tinggal yang terisolasi
proses
pengobatan : ICU, NGT, ETT, Trakeostomi
3) Moral
Konflik dengan norma atau peraturan di masyarakat, tempat kerja
Pelanggaran norma dan nilai di masyarakat
Terlibat masalah hukum
Konflik dengan norma atau peraturan di masyarakat, tempat kerja
Pelanggaran norma dan nilai di masyarakat
Terlibat masalah hukum
4) Kepribadian :
ambang, histrionik, narsisistik, menghindar, dependen, obsesif
kompulsif/ kepribadian pencemas
ambang, histrionik, narsisistik, menghindar, dependen, obsesif
kompulsif/ kepribadian pencemas
5) Pengalaman yang tidak menyenangkan :
(korban perkosaan, kehilangan pekerjaan/ pensiun, kehilangan
sesuatu/ orang yang dicintai, saksi kejadian traumatis, ketegangan
peran, kekerasan, penculikan, perampokan, kehamilan di luar nikah,
perselingkuhan)
(korban perkosaan, kehilangan pekerjaan/ pensiun, kehilangan
sesuatu/ orang yang dicintai, saksi kejadian traumatis, ketegangan
peran, kekerasan, penculikan, perampokan, kehamilan di luar nikah,
perselingkuhan)
6) Konsep diri
Gambaran diri:
- tidak menyukai tubuhnya
- merasa tidak sempurna
- ketidak puasan terhadap ukuran tubuh, fungsi, penampilan dan
potensi yang dimiliki
Identitas diri
- kerancuan identitas
Peran
- konflik peran
- peran ganda
- ketidak mampuan menjalankan peran
- tuntutan peran tidak sesuai usia
Gambaran diri:
- tidak menyukai tubuhnya
- merasa tidak sempurna
- ketidak puasan terhadap ukuran tubuh, fungsi, penampilan dan
potensi yang dimiliki
Identitas diri
- kerancuan identitas
Peran
- konflik peran
- peran ganda
- ketidak mampuan menjalankan peran
- tuntutan peran tidak sesuai usia
Ideal diri
- ideal diri tidak realistis
- ideal diri terlalu rendah
- ambisius
Harga diri
- harga diri rendah situasional
- ideal diri tidak realistis
- ideal diri terlalu rendah
- ambisius
Harga diri
- harga diri rendah situasional
7) Motivasi
- motivasi rendah
8). Pertahanan psikologis
- self kontrol
- motivasi rendah
8). Pertahanan psikologis
- self kontrol
Faktor sosial budaya
1) Usia : remaja, dewasa awal
2) Gender : wanita : pria = 2 : 1
3) Pendidikan : kurang/ rendah
4) Pendapatan : kurang/ rendah
5) Pekerjaan : tidak tetap, tidak punya
pekerjan, beban kerja yang terlalu tinggi
6) Status sosial : menengah ke bawah
7) Latar belakang budaya : budaya yang
individualis
8) Agama dan keyakinan : semua agama, kurang
mengamalkan ajaran agama
9) dan keyakinannya
10) Keikutsertaan dalam politik : pengurus
partai politik, post power syndrome
11) Pengalaman sosial : berpisah dengan orang
yang dicintai, kehilangan orang
yang
dicintai, lingkungan sosial yang rawan kriminalitas, bencana
alam,
peperangan/ konflik, kecelakaan)
12) Peran sosial : gagal melaksanakan peran
sosial, gagal membentuk keluarga baru, belum menikah
b. Origin
Internal:
1) Persepsi Individu yang buruk tentang dirinya
dan orang lain
Eksternal
1) Kurang dukungan kelompok/ peer group
2) Kurang dukungan keluarga
2) Kurang dukungan masyarakat
c. Timing
1) Stres terjadi dalam waktu dekat
2) Stres terjadi dalam waktu yang cukup lama
3)
Stres
terjadi secara berulang-ulang/ terus menerus
d. Number
1)
Sumber stres lebih dari satu (semua stressor yang ada
selama usia tumbang)
2) Stres
dirasakan sebagai masalah yang sangat berat
4. Penilaian stressor
a. Kognitif
1)
Kerusakan
perhatian
2)
Kurang
konsentrasi
3)
Pelupa
4)
Kesalahan
dalam menilai
5)
Preokupasi
6)
Bloking
7)
Penurunan
lapangan pandang
8)
Berkurangnya
kreativitas
9)
Produktivitas
menurun
10)
Bingung
11)
Sangat
waspadai
12)
Berkurangnya
objektivitas
13)
Takut
kehilangan kontrol
14)
Takut
bayangan visual
15)
Takut
akan terluka atau kematian
16)
Kesadaran
diri meningkat
17)
Mimpi
buruk
b. Afektif
1. Mudah terganggu
2. Tidak sabar
3. Gelisah
4. Tegang
5. Nervous
6. Takut
7. Alarm
8. Frustasi
9. Teror
10. Gugup
11.Gelisah
12. Merasa bersalah
16. Pemalu
17. Frustasi
1. Mudah terganggu
2. Tidak sabar
3. Gelisah
4. Tegang
5. Nervous
6. Takut
7. Alarm
8. Frustasi
9. Teror
10. Gugup
11.Gelisah
12. Merasa bersalah
16. Pemalu
17. Frustasi
c. Fisiologik
Cardiovaskuler
1.Palpitasi
2. Jantung berdebar
3. TD meningkat
4. Rasa mau pingsan
5. Pingsan
6. TD menurun
7. Denyut nadi menurun
Pernafasan
1. Nafas cepat
2. Nafas pendek
3. Tekanan pada dada
4. Nafas dangkal
5. Pembengkakan pada tenggorok
6. Sensasi tercekik
7. Terengah-engah
Cardiovaskuler
1.Palpitasi
2. Jantung berdebar
3. TD meningkat
4. Rasa mau pingsan
5. Pingsan
6. TD menurun
7. Denyut nadi menurun
Pernafasan
1. Nafas cepat
2. Nafas pendek
3. Tekanan pada dada
4. Nafas dangkal
5. Pembengkakan pada tenggorok
6. Sensasi tercekik
7. Terengah-engah
Neuromuskular
1.Refleks meningkat
2.Reaksi kejutan
3.Mata berkedip-kedip
4.Insomnia
5.Tremor
6.Rigiditas
7.Gelisah
8.Wajah tegang
1.Refleks meningkat
2.Reaksi kejutan
3.Mata berkedip-kedip
4.Insomnia
5.Tremor
6.Rigiditas
7.Gelisah
8.Wajah tegang
Gastrointestinal
1. Kehilangan nafsu makan
2. Menolak makanan
3. Rasa tidak nyaman pada abdomen
4. Mual
1. Kehilangan nafsu makan
2. Menolak makanan
3. Rasa tidak nyaman pada abdomen
4. Mual
5. Rasa terbakar di perut
6. Diare
6. Diare
7. Perut melilit
Traktus Urinarius
1. Tidak dapat menahan kencing
2. Sering berkemih
Traktus Urinarius
1. Tidak dapat menahan kencing
2. Sering berkemih
Reproduksi
1. Tidak datang bulan (amenore)
2. Darah haid berlebihan
3. Darah haid amat sedikit
4. Masa haid berkepanjangan
5. Masa haid amat pendek
6. Haid beberapa kali dalam
sebulan
7. Menjadi dingin
8. Ejakulasi dini
Integumen
1. Wajah kemerahan
2. Berkeringat setempat (telapak tangan)
3. Gatal
4. Rasa panas dan dingin pada kulit
5. Wajah pucat
6. Berkeringat seluruh tubuh
1. Wajah kemerahan
2. Berkeringat setempat (telapak tangan)
3. Gatal
4. Rasa panas dan dingin pada kulit
5. Wajah pucat
6. Berkeringat seluruh tubuh
d. Behavioral
1.Gelisah
2.Ketegangan fisik
3.Tremor
4. Gugup
5. Bicara cepat
6. Kurang koordinasi
7.Cenderung mendapat cedera
8. Menarik diri dari hubungan interpersonal
9. Menghalangi
10. Melarikan diri dari masalah
11. Menghindar
12. Hiperventilasi
1.Gelisah
2.Ketegangan fisik
3.Tremor
4. Gugup
5. Bicara cepat
6. Kurang koordinasi
7.Cenderung mendapat cedera
8. Menarik diri dari hubungan interpersonal
9. Menghalangi
10. Melarikan diri dari masalah
11. Menghindar
12. Hiperventilasi
e. Respon Sosial
1. Kadang kadang menghindari kontak sosial/ aktivitas sosial
menurun
2. Kadang-kadang menunjukkan sikap bermusuhan
1. Kadang kadang menghindari kontak sosial/ aktivitas sosial
menurun
2. Kadang-kadang menunjukkan sikap bermusuhan
5. Sumber Koping
a. Personal ability
1) Kurang komunikatif
2) Hubungan interpersonal yang kurang baik
3) Kurang memiliki kecerdasan dan bakat
tertentu
4)
Mengalami gangguan fisik
5) Perawatan diri yang kurang baik
6)
Tidak kreatif
b. Sosial Support
1)
Hubungan yang kurang baik antar : indiv, keluarga , kelp dan masyarakat
2) Kurang terlibat dalam organisasi sosial/
kelompok sebaya
3) Ada konflik nlai budaya
c. Material Assets
1) Kurang memilki penghasilan secara
individu.
2) 2. Sulit mendapat pelayanan kesehatan
3)
3. Tidak
memiliki pekerjaan/ vokasi/ posisi
d. Positive beliefs
1)
Tidak mempunyai
keyakinan dan nilai yang positif
2) 2. Kurang memiliki motivasi
3) 3. Kurang berorientasi kesehatan pada
4) pencegahan (lebih senang melakukan
pengobatan )
6. Mekanisme koping
Konstruktif
Kecemasan dijadikan sebagai
tanda dan peringatan. Individu menerimanya sebagai suatu pilihan untuk pemecahan masalah. Seperti : negosiasi/
kompromi, meminta saran, perbandingan yang positif, penggantian rewards
Destruktif
Menghindari kecemasan tanpa
menyelesaikan masalah atau konflik tsb. Seperti denial, supresi atau proyeksi,
menyerang, menarik diri
INTERVENSI PADA KLIEN ANSIETAS
Intervensi Generalis
Individu
Tujuan :
1. Pasien mampu mengenal ansietas
2. Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik
relaksasi
3. Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi untuk mengatasi
Ansietas
Tindakan keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling
percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman saat
berinteraksi.
Tindakan yang harus dilakukan
dalam membina hubungan saling percaya adalah :
- mengucapkan salam terapeutik
- berjabat tangan
- menjelaskan tujuan interaksi
- membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien
2. Bantu pasien mengenal ansietas
a. bantu pasien untuk
mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya
b. bantu pasien menjelaskan
situasi yang menimbulkan ansietas
c. bantu pasien mengenal
penyebab ansietas
d. bantu pasien menyadari
perilaku akibat ansietas
3. Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan
kontrol dan rasa percaya diri
a. pengalihan situasi
b. latihan relaksasi
1) Tarik nafas dalam
2) mengerutkan dan mengendurkan otot-otot
c. teknik 5 jari
4. Motivasi pasien melakukan teknik relaksasi
setiap kali ansietas muncul
Keluarga
Tujuan :
1. Keluarga mampu mengenal masalah ansietas pada anggota keluarganya
2. Keluarga mampu memahami proses terjadinya
masalah ansietas
3. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang
mengalami ansietas
4. Keluarga mampu mempraktikkan cara merawat
pasien dengan ansietas
5. Keluarga mampu merujuk anggota keluarga yang
mengalami ansietas
Tindakan keperawatan
1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat pasien
2. Diskusikan tentang proses terjadinya ansietas
serta tanda dan gejala
3. Diskusikan tentang penyebab dan akibat dari
ansietas
4. Diskusikan cara merawat pasien dengan ansietas
dengan cara mengajarkan teknik
relaksasi
5. Diskusikan dengan keluarga perilaku pasien yang
perlu dirujuk dan bagaimana
merujuk
pasien
6. Terapi Aktivitas Kelompok
Intervensi Spesialis
1. Terapi individu : Deep Breathing, Relaksasi Progresif,
Meditasi, Visualisasi,
Penghentian Pikiran
2. Terapi keluarga : Triangle Terapi, Terapi
Komunikasi
3. Terapi kelompok : Logoterapi, Terapi Supportif
4. Terapi komunitas : Psikoedukasi
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN ANSIETAS
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Ny. A (30 tahun), bekerja,
dirawat di Rumah Sakit B untuk pertama kalinya dengan keluhan nyeri pada perut
kanan bagian bawah. Ny. A merasa gelisah, cemas, tidak bisa tidur karena baru
pertama kalinya dirawat di Rumah Sakit
2. Diagnosa Keperawatan : Ansietas
3. Tujuan :
1. Pasien mampu membina hubungan saling percaya
2. Pasien mampu mengenal ansietas
3. Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik
relaksasi
4. Pasien mampu memperagakan dan menggunakan
teknik relaksasi untuk mengatasi
ansietas
4. Tindakan keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling
percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman saat
berinteraksi.
Tindakan yang harus dilakukan
dalam membina hubungan saling percaya adalah :
- mengucapkan salam terapeutik
- berjabat tangan
- menjelaskan tujuan interaksi
- membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien
2. Bantu pasien mengenal ansietas
a. bantu pasien untuk
mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya
b. bantu pasien menjelaskan
situasi yang menimbulkan ansietas
c. bantu pasien mengenal
penyebab ansietas
d. bantu pasien menyadari
perilaku akibat ansietas
3. Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk
meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri
a. pengalihan situasi
b. latihan relaksasi
1) Tarik nafas dalam
2)
mengerutkan dan mengendurkan otot-otot
c. teknik 5 jari
4. Motivasi pasien melakukan teknik relaksasi
setiap kali ansietas muncul
B. Proses pelaksanaan tindakan
Orientasi :
”Selamat Pagi Mbak, perkenalkan nama saya Indrisari Christin, panggil saja saya Suster Indri, saya perawat yang akan merawat mbak selama di rumah sakit ini, saya akan datang setiap hari dari
jam 8 pagi sampai jam 3 sore, Apa betul ini mbak LS ? Mbak lebih suka dipanggil
siapa?”
”Tujuan saya merawat mbak untuk membantu mengatasi
masalah yang mbak rasakan”
”Bagaimana perasaan Mbak L pagi ini?”
”O, jadi Mbak L semalam tidak bisa tidur?”
”Baiklah, mbak, bagaimana kalau sekarang kita
berbincang-bincang tentang perasaan yang Mbak rasakan?”
’Bagaimana kalau kita berbincang-bincang selama 30
menit?”
”Kita berbincang-bincang disini saja ya mbak, di
ruangan Mbak?”
Kerja
”Coba Mbak ceritakan apa yang mbak rasakan?”
”Oh, jadi Mbak merasa gelisah, cemas karena harus
dirawat di RS?”
”Apakah sebelumnya Mbak pernah mengalami sakit
sehingga perlu dirawat di RS?”
”Jadi Mbak baru pertama kali dirawat di RS ?”
“Selama ini, bila Mbak punya masalah yang
mengganggu, apa yang Mbak lakukan?”
”Jadi kalau Mbak punya masalah, Mbak akan
memikirkan terus masalah itu sehingga Mbak merasa gelisah, tidak bisa tidur,
tidak nafsu makan?”
“Apakah sebelumnya Mbak pernah mengalami masalah
yang Mbak anggap cukup berat?”
“Apakah Mbak mampu menyelesaikan masalah
tersebut?”
“Wah, baik sekali, berarti dulu Mbak pernah mampu
menyelesaikan masalah yang cukup berat,
saya yakin sekali Mbak sekarang juga akan mampu menyelesaikan kecemasan yang Mbak
rasakan”
“Baiklah Mbak, bagaimana kalau sekarang kita coba
latihan relaksasi dengan cara tarik nafas dalam, ini merupakan salah satu cara
yang cukup mampu untuk mengurangi kecemasan yang mbak rasakan. Bagaimana kalau
kita latihan sekarang, Saya akan lakukan, mbak perhatikan saya, lalu mbak bisa mengikuti
cara yang sudah saya ajarkan. Kita mulai ya mbak.”
“Mbak silakan duduk dengan posisi seperti saya.
Pertama-tama, mbak tarik nafas dalam perlahan-lahan, setelah itu tahan nafas
dalam hitungan tiga setelah itu bapak hembuskan udara melalui mulut dengan
meniup udara perlahan-lahan. Nah, sekarang coba mbak praktikkan. Wah bagus
sekali, mbak sudah mampu melakukannya. Mbak bisa melakukan latihan ini selama 5 sampai 10 kali sampai mbak merasa
relaks atau santai”
Terminasi
”Bagaimana perasaan mbak setelah kita ngobrol
tentang masalah yang mbak rasakan dan latihan relaksasi?”
”Bagus sekali, jam berapa mbak akan berlatih lagi
melakukan cara ini? Mari, kita masukkan dalam jadual harian mbak. Jadi, setiap
mbak merasa cemas, mbak bisa langsung praktikkan cara ini, dan bisa
melakukannya lagi sesuai jadwal yang telah kita buat. Latihan relaksasi ini
hanya salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengatasi kecemasan atau
ketegangan, masih ada cara lain dengan latihan mengerutkan dan mengendurkan otot,
bagaimana kalau kita latihan cara yang kedua ini besok pagi, seperti biasa jam 10 pagi di ruangan ini? Selamat pagi, Mbak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar