LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI
A. Masalah
Utama : Gangguan Persepsi
Sensor;
Halusinasi
B. Proses Terjadinya Masalah :
1.
Pengertian
Halusinasi adalah salah satu respon nurologik yang
maladaptif, halusinasi atau persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulo
yang nyata, artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata stimuli dari
luar/eksternal (Stuart&Sudden, 1998).
Halusinasi adalah tanggapan (persepsi) panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar dapat mengikuti semua penginderaan dimana terjadi
pada saat kesadaran individu penuh adalah baik.
2.
Halusinasi dapat diklasifikasikan
menjadi 5 macam :
a.
Halusinasi pendengaran, yaitu klien
mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungannya dengan stimulus yang
nyata/lingkungan, dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak
mendengar suara atau bunyi yang didengar klien.
b.
Halusinasi penglihatan, yaitu klien
menglihat gambaran yang jelas atau samar tanpa adanya stimulus yang nyata dari
lingkungan, dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak melihat
gambaran seperti apa yang dikatakan klien.
c.
Halusinasi penciuman, yaitu klien
mencium sesuatu yang bau yang mucul dari
sumber tertentu tanpa stimulus yang nyta, artinya orang yang berada disekitar
klien tidak mencium sesuatu seperti apa yang dirasakan klien.
d.
Halusinasi pengecapan, yaitu klien
merasa merasakan sesuatu yang tidak nyata, biasnya merasakan rasa makanan yang
tidak enak.
e.
Halusinasi perabaan, yaitu klien
merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.
3.
Penyebab
a.
Faktor Genetik
b.
Virus
c.
Auto antibody
d.
Trauma
e.
Malnutrisi
4.
Tanda dan Gejala
a.
Menarik diri, menghindari orang lain
b.
Mudah tersinggung
c.
Tersenyum, berbicara sendiri
d.
Gelisah, ketakutan, wajah tegang
e.
Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal
f.
Sikap curiga dan bermusuhan
g.
Menyalahkan diri sendiri/orang lain
h.
Dapat merusak diri, orang lain dan lingkungan
i.
Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata
j.
Tidak dapat memusatkan perhatian/konsentrasi
k.
Sulit membuat keputusan
l.
Ketakutan
m. Muka merah
kadang pucat
n.
Tidak mau atau tidak mampu melaksanakan
asuhan mandiri seperti: mandi, gosok gigi, ganti pakaian
5.
Rentang Respon
a. Tahap
Comforting :
Timbul kecemasan
ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stressornya dengan koping imajinasi sehingga merasa senang
dan terhindar dari ancaman.
b. Tahap
Condeming :
Timbul kecemasan
moderate, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut
apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul
perilaku menarik diri (With drawl)
c. Tahap
Controling :
Timbul kecemasan
berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut
terusmenerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan
orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian/sedih.
d. Tahap
Conquering :
Klien merasa
panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti perilaku
klien dapat bersipat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.
6.
Dampak dan Akibat yang Terjadi
a. Kebutuhan
Fisiologis
*Nutrisi
Terjadi penurunan berat badan karena klien lebih berfokus pada halusinasinya, terlebih jika halusinasi sudah ke tahap lanjut, maka kebutuhan nutrisiklien akan terganggu karena halusinasi telah menguasai sehingga klien sulit untuk beraktivitas lain termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.
*Istirahat tidur
Gangguan dalam istirahat tidur akan klien alami karena selain klien akan terganggu karena suara-suara halusinasi klien juga akan lebih berfokus pada halusinasinya itu yang pada akhirnya klien akan mengalami kecemasan dan ketegangan dan hal tersebut akan merangsang RAS (Reticular Activiting System), sehingga klien akan sulit tidur.
*Aktivitas sehari-hari
Klien yang mengalami halusinasi dengar sulit untuk melakukan aktivitas baik yang berkaitan dengan perawatan diri maupun aktivitas sehari-hari karena perhatiannya terganggu oleh halusinasi, baik pada tahap awal maupun lanjut ketika halusinasi telah menguasainya.
*Nutrisi
Terjadi penurunan berat badan karena klien lebih berfokus pada halusinasinya, terlebih jika halusinasi sudah ke tahap lanjut, maka kebutuhan nutrisiklien akan terganggu karena halusinasi telah menguasai sehingga klien sulit untuk beraktivitas lain termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.
*Istirahat tidur
Gangguan dalam istirahat tidur akan klien alami karena selain klien akan terganggu karena suara-suara halusinasi klien juga akan lebih berfokus pada halusinasinya itu yang pada akhirnya klien akan mengalami kecemasan dan ketegangan dan hal tersebut akan merangsang RAS (Reticular Activiting System), sehingga klien akan sulit tidur.
*Aktivitas sehari-hari
Klien yang mengalami halusinasi dengar sulit untuk melakukan aktivitas baik yang berkaitan dengan perawatan diri maupun aktivitas sehari-hari karena perhatiannya terganggu oleh halusinasi, baik pada tahap awal maupun lanjut ketika halusinasi telah menguasainya.
b. Kebutuhan
Rasa Aman dan Keselamatan
Tahap awal halusinasi, klien merasa aman dan nyaman dengan halusinasinya, karena klien menganggap halusinasi akan mengurangi ketegangannya, namun pada tahap lanjut klien akan merasa ketakutan karena halusinasi telah menguasainya.
Tahap awal halusinasi, klien merasa aman dan nyaman dengan halusinasinya, karena klien menganggap halusinasi akan mengurangi ketegangannya, namun pada tahap lanjut klien akan merasa ketakutan karena halusinasi telah menguasainya.
c. Kebutuhan
Rasa Cinta dan Memiliki
Klien akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ini, yaitu dengan membina hubungan interpersonal yang baik termasuk hubungan untuk mencintai dan dicintai karena adanya perasaan tidak percaya diri.
Klien akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ini, yaitu dengan membina hubungan interpersonal yang baik termasuk hubungan untuk mencintai dan dicintai karena adanya perasaan tidak percaya diri.
d. Kebutuhan Harga
Diri
Klien dengan halusinasi dengar cenderung tidak mampu melakukan fungsi perannya dengan baik, didasari oleh kegagalan dalam waktu yang lama dan rasa tidak percaya mengakibatkan klien merasa tidak berharga, tidak berguna sehingga harga diri klien terganggu.
Klien dengan halusinasi dengar cenderung tidak mampu melakukan fungsi perannya dengan baik, didasari oleh kegagalan dalam waktu yang lama dan rasa tidak percaya mengakibatkan klien merasa tidak berharga, tidak berguna sehingga harga diri klien terganggu.
e. Kebutuhan
Aktualisasi Diri
Umumnya klien dengan halusinasi tidak acuh tehadap diri sendiri maupun lingkungan, ini dikarenakan klien tidak dapat berhubungan dengan realita sehingga kebutuhan akan aktualisasi diri tidak tepenuhi.
Umumnya klien dengan halusinasi tidak acuh tehadap diri sendiri maupun lingkungan, ini dikarenakan klien tidak dapat berhubungan dengan realita sehingga kebutuhan akan aktualisasi diri tidak tepenuhi.
C. Data yang
Perlu Dikaji
Halusinasi
merupakan salah satu gejala yang ditampakkan oleh klien yang mengalami
psikotik, khususnya Schizofrenia. Pengkajian klien dengan halusinasi demikian
merupakan proses identifikasi data yang melekat erat dengan pengkajian respon
neurobiologi lainnya seperti yang terdapat juga pada Schizofrenia.
1.
Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi seperti halusinasi antara lain:
a. Faktor Genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi factor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen schizoprenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan No.4,8,5 dan 22 (Buchanan dan Carpenter,2002). Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami schizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami schizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami schizofrenia berpeluang 15% mengalami schizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya schizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
b. Faktor Neurobiologi.
Ditemukan bahwa korteks pre frontal dan korteks limbiks pada klien schizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien schizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal. Neurotransmitter dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
c. Studi neurotransmitter.
Schizofrenia diduga juga disebabkan oleh ketidak seimbangan neurotransmitter dimana dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi seperti halusinasi antara lain:
a. Faktor Genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi factor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen schizoprenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan No.4,8,5 dan 22 (Buchanan dan Carpenter,2002). Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami schizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami schizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami schizofrenia berpeluang 15% mengalami schizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya schizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
b. Faktor Neurobiologi.
Ditemukan bahwa korteks pre frontal dan korteks limbiks pada klien schizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien schizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal. Neurotransmitter dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
c. Studi neurotransmitter.
Schizofrenia diduga juga disebabkan oleh ketidak seimbangan neurotransmitter dimana dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
d. Teori virus
Paparan virus influenza pada trimester ke-3 kehamilan dapat menjadi factor predisposisi schizofrenia.
e. Psikologis.
Beberapa kondisi pikologis yang menjadi factor predisposisi schizofrenia antara lain anak yang di pelihara oleh ibu yang suka cemas, terlalu melindungi, dingin dan tak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
Paparan virus influenza pada trimester ke-3 kehamilan dapat menjadi factor predisposisi schizofrenia.
e. Psikologis.
Beberapa kondisi pikologis yang menjadi factor predisposisi schizofrenia antara lain anak yang di pelihara oleh ibu yang suka cemas, terlalu melindungi, dingin dan tak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
2.
Faktor presipitasi
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a. Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a. Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
b.
Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu ( mekanisme gateing abnormal)
c. Gejala-gejala pemicu kondisi kesehatan lingkungan, sikap dan perilaku seperti yang tercantum pada tabel dibawah ini :
c. Gejala-gejala pemicu kondisi kesehatan lingkungan, sikap dan perilaku seperti yang tercantum pada tabel dibawah ini :
Kesehatan
Nutrisi Kurang
Kurang tidur
Ketidak siembangan irama sirkardian
Kelelahan infeksi
Obat-obatan system syaraf pusat
Kurangnya latihan
Hambatan unutk menjangkau pelayanan kesehatan
Lingkungan
Lingkungan yang memusuhi, kritis
Masalah di rumah tangga
Kehilangan kebebasan hidup, pola aktivitas sehari-hari
Kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain
Isoalsi social
Kurangnya dukungan social
Tekanan kerja ( kurang keterampilan dalam bekerja)
Stigmasasi
Kemiskinan
Kurangnya alat transportasi
Ktidak mamapuan mendapat pekerjaan
Sikap/Perilaku
Merasa tidak mampu ( harga diri rendah)
Putus asa (tidak percaya diri )
Mersa gagal ( kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri
Kehilangan kendali diri (demoralisasi)
Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut.
Merasa malang ( tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual )
Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan
Rendahnya kemampuan sosialisasi
Perilaku agresif
Perilaku kekerasan
Ketidak adekuatan pengobatan
Ketidak adekuatan penanganan gejala.
Nutrisi Kurang
Kurang tidur
Ketidak siembangan irama sirkardian
Kelelahan infeksi
Obat-obatan system syaraf pusat
Kurangnya latihan
Hambatan unutk menjangkau pelayanan kesehatan
Lingkungan
Lingkungan yang memusuhi, kritis
Masalah di rumah tangga
Kehilangan kebebasan hidup, pola aktivitas sehari-hari
Kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain
Isoalsi social
Kurangnya dukungan social
Tekanan kerja ( kurang keterampilan dalam bekerja)
Stigmasasi
Kemiskinan
Kurangnya alat transportasi
Ktidak mamapuan mendapat pekerjaan
Sikap/Perilaku
Merasa tidak mampu ( harga diri rendah)
Putus asa (tidak percaya diri )
Mersa gagal ( kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri
Kehilangan kendali diri (demoralisasi)
Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut.
Merasa malang ( tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual )
Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan
Rendahnya kemampuan sosialisasi
Perilaku agresif
Perilaku kekerasan
Ketidak adekuatan pengobatan
Ketidak adekuatan penanganan gejala.
c. Mekanisme Koping.
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi adalah:
Register, menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.
Menarik diri, sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
Keluarga mengingkari masalah yang dialami klien
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi adalah:
Register, menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.
Menarik diri, sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
Keluarga mengingkari masalah yang dialami klien
d. Perilaku
Halusinasi benar-benar riil dirasakan oleh klien yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur. Klien mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata. Sama halnya seperti seseorang mendengarkan suara- suara dan tidak lagi meragukan orang yang berbicara tentang suara tersebut. Ketidakmampuannya mempersepsikan stimulus secara riil dapat menyulitkan kehidupan klien. Karenanya halusinasi harus menjadi prioritas untuk segera diatasi. Untuk memfasilitasinya klien perlu dibuat nyaman untuk menceritakan perihal haluinasinya.
Klien yang mengalami halusinasi sering kecewa karena mendapatkan respon negatif ketika mencoba menceritakan halusinasinya kepada orang lain.Karenanya banyak klien enggan untuk menceritakan pengalaman-pengalaman aneh halusinasinya. Pengalaman halusinasi menjadi masalah untuk dibicarakan dengan orang lain. Kemampuan untuk memperbincangkan tentang halusinasi yang dialami oleh klien sangat penting untuk memastikan dan memvalidasi pengalaman halusinasi tersebut. Perawat harus memiliki ketulusan dan perhatian untuk dapat memfasilitasi percakapan tentang halusinasi.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda –tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi :
Isi Halusinasi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.
Waktu dan Frekuensi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.
Situasi Pencetus Halusinasi.
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.
Halusinasi benar-benar riil dirasakan oleh klien yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur. Klien mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata. Sama halnya seperti seseorang mendengarkan suara- suara dan tidak lagi meragukan orang yang berbicara tentang suara tersebut. Ketidakmampuannya mempersepsikan stimulus secara riil dapat menyulitkan kehidupan klien. Karenanya halusinasi harus menjadi prioritas untuk segera diatasi. Untuk memfasilitasinya klien perlu dibuat nyaman untuk menceritakan perihal haluinasinya.
Klien yang mengalami halusinasi sering kecewa karena mendapatkan respon negatif ketika mencoba menceritakan halusinasinya kepada orang lain.Karenanya banyak klien enggan untuk menceritakan pengalaman-pengalaman aneh halusinasinya. Pengalaman halusinasi menjadi masalah untuk dibicarakan dengan orang lain. Kemampuan untuk memperbincangkan tentang halusinasi yang dialami oleh klien sangat penting untuk memastikan dan memvalidasi pengalaman halusinasi tersebut. Perawat harus memiliki ketulusan dan perhatian untuk dapat memfasilitasi percakapan tentang halusinasi.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda –tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi :
Isi Halusinasi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.
Waktu dan Frekuensi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.
Situasi Pencetus Halusinasi.
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.
D. Masalah Keperawatan yang Mungkin
Muncul
1.
Perubahan
sensori persepsi : halusinasi
2.
Perubahan
proses fikir : waham
3.
Kerusakan
interaksi social
4.
Isolasi
Diri : menarik diri
5.
Harga
Diri Rendah
6.
Resiko
tinggi mencederai
7.
Kerusakan
Komunikasi
E. Analisa Data
Jenis Halusinasi
|
Data Obyektif
|
Data Subyektif
|
Halusinasi
Dengar
|
Bicara
atau tertawa sendiri
Marah-marah
tanpa sebab
Menyedengkan
telinga ke arah tertentu
Menutup
telinga
|
Mendengar
suara-suara atau kegaduhan.
Mendengar
suara yang mengajak bercakap-cakap.
Mendengar
suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.
|
Halusinasi
Penglihatan
|
Menunjuk-nunjuk
ke arah tertentu
Ketakutan
dengan pada sesuatu yang tidak jelas.
|
Melihat
bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon, melihat hantu atau monster
|
Halusinasi
Penghidu
|
Mengisap-isap
seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
Menutup
hidung.
|
Membaui
bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan.
|
Halusinasi
Pengecapan
|
Sering
meludah
Muntah
|
Merasakan
rasa seperti darah, urin atau feses
|
Halusinasi
Perabaan
|
Menggaruk-garuk
permukaan kulit
|
Mengatakan
ada serangga di permukaan kulit
Merasa
seperti tersengat listrik
|
F.
Rencana Tindakan Keperawatan
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI; HALUSINASI
Diagnosa
Keperawatan
|
Perencanaan
|
||
Tujuan
|
Kriteria
Evaluasi
|
Intervensi
|
|
Gangguan
Sensori Persepsi; Halusinasi
|
Pasien mampu:
Mengenali
halusinasi yang dialaminya
Mengontrol
halusinasinya
Mengikuti
program pengobatan secara optimal
|
Setelah...pertemuan
pasien dapat menyebutkan isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, perasaan,
dan mampu memperagakan cara dalam mengontrol halusinasi
|
SP 1
(Tgl.........................................)
§
Bantu pasien mengenal halusinasi
-
Isi
-
Waktu terjadinya
-
Frekuensi
-
Situasi pencetus
-
Perasaan saat terjadi halusinasi
§
Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik
Tahapan
tindakannya meliputi:
-
Jelaskan cara menghardik halusinasi
-
Peragakan cara menghardik
-
Minta pasien memperagakan ulang
-
Pantau penerapan cara ini; beri pengutaan perilaku
pasien
-
Masukkan dalan jadwal pasien
|
|
|
Setelah...pertemuan
pasien mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu memperagakan
cara bercakap-cakap dengan orang lain
|
SP 2
(Tgl.........................................)
§ Evaluasi kegiatan
yang lalu (SP1)
§ Latih
berbicara/bercakap dengan orang lain saat halusinasi muncul
§ Masukkan dalan
jadwal kegiatan pasien
|
|
|
Setelah...pertemuan
pasien mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu membuat
jadwal kegiatan sehari-hari dan mampu memperagakannya
|
SP 3
(Tgl.........................................)
§ Evaluasi
kegiatan yang lalu (SP2)
§ Latih kegiatan
agar halusinasi tidak muncul
Tahapannya :
-
Jelaskan pentingnya aktivitas yang
teratur/mengatasi halusinasi
-
Diskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh
pasien
-
Latih pasien melakukan aktivitas
-
Susun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan
aktivitas yang telah dilatih (dari bangun pagi sampai tidur malam)
-
Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan, berikan
penguatan terhadap perilaku pasien yang positif
|
|
|
Setelah...pertemuan
pasien mampu menyebutkan kegiatan ayng sudah dilakukan dan mampu menyebutkan
manfaat dari program pengobatan
|
SP 4
(Tgl.........................................)
§ Evaluasi
kegiatan yang lalu (SP1,SP2,SP3)
§ Tanyakan
program pengobatan
§ Jelaskan
pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa
§ Jelaskan
akibat tidak digunakan sesuai program
§ Jelaskan cara mendapatkan
obat/berobat
§ Jelaskan
pengobatan (5B)
§ Latih pasien
minum obat
§ Masukkan dalam
jadwal harian pasien
|
|
Keluarga
mampu:
Merawat
pasien di rumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien
|
Setelah...
pertemuan keluarga mampu menjelaskan tentang halusinasi
|
SP 1
(Tgl.........................................)
§ Identifikasi
masalah keluarga dalam merawat pasien
§ Jelaskan
tentang halusinasi
-
Pengertian halusinasi
-
Jenis halusinasi yang dialami pasien
-
Tanda dan gejala halusinasi
-
Cara merawat pasien halusinasi (cara berkomunikasi
pemberian obat dan pemberian aktivitas kepada pasien)
§ Sumber-sumber
pelayanan kesehatan yang biasa dijangkau
§ Bermain peran
cara merawat
§ Rencana tindak
lajut keluarga, jadwal keluarga untuk merawat pasien
|
|
|
Setelah...
pertemuan keluarga mampu menyelesaikan kegiatan yang sudah dilakukan dan
mampu memperagakan cara merawat pasien
|
SP 2
(Tgl.........................................)
§ Evaluasi
kemampuan keluarga (SP1)
§ Latih keluarga
merawat pasien
§ RTL
keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien
|
|
|
Setelah...
pertemuan keluarga mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu
memperagakan cara merawat pasien serta mampu membuat RTL
|
SP 3
(Tgl.........................................)
§ Evaluasi
kemampuan keluarga (SP2)
§ Latih keluarga
merawat pasien
§ RTL
keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien
|
|
|
Setelah...
pertemuan keluarga mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu melaksanakan follow up rujukan
|
SP 4
(Tgl.........................................)
§ Evaluasi
kemampuan keluarga
§ Evaluasi
kemampuan pasien
§ RTL keluarga
-
Follow up
-
Rujukan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar