Senin, 23 September 2013

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI

A.  Masalah Utama    : Gangguan Persepsi Sensor; Halusinasi

B.  Proses  Terjadinya Masalah :
1.    Pengertian
Halusinasi adalah salah satu respon nurologik yang maladaptif, halusinasi atau persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulo yang nyata, artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata stimuli dari luar/eksternal (Stuart&Sudden, 1998).

Halusinasi adalah tanggapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar dapat mengikuti semua penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu penuh adalah baik.

2.    Halusinasi dapat diklasifikasikan menjadi 5 macam :
a.    Halusinasi pendengaran, yaitu klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungannya dengan stimulus yang nyata/lingkungan, dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak mendengar suara atau bunyi yang didengar klien.
b.    Halusinasi penglihatan, yaitu klien menglihat gambaran yang jelas atau samar tanpa adanya stimulus yang nyata dari lingkungan, dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak melihat gambaran seperti apa yang dikatakan klien.
c.    Halusinasi penciuman, yaitu klien mencium sesuatu  yang bau yang mucul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyta, artinya orang yang berada disekitar klien tidak mencium sesuatu seperti apa yang dirasakan klien.
d.   Halusinasi pengecapan, yaitu klien merasa merasakan sesuatu yang tidak nyata, biasnya merasakan rasa makanan yang tidak enak.
e.    Halusinasi perabaan, yaitu klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.

3.    Penyebab
a.    Faktor Genetik
b.    Virus
c.    Auto antibody
d.   Trauma
e.    Malnutrisi

4.    Tanda dan Gejala
a.    Menarik diri, menghindari orang lain
b.    Mudah tersinggung
c.    Tersenyum, berbicara sendiri
d.   Gelisah, ketakutan, wajah tegang
e.    Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal
f.     Sikap curiga dan bermusuhan
g.    Menyalahkan diri sendiri/orang lain
h.    Dapat merusak diri, orang lain dan lingkungan
i.      Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata
j.      Tidak dapat memusatkan perhatian/konsentrasi
k.    Sulit membuat keputusan
l.      Ketakutan
m.  Muka merah kadang pucat
n.    Tidak mau atau tidak mampu melaksanakan asuhan mandiri seperti: mandi, gosok gigi, ganti pakaian





5.    Rentang Respon
a.    Tahap Comforting :
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stressornya dengan koping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman.
b.    Tahap Condeming :
Timbul kecemasan moderate, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri (With drawl)
c.    Tahap Controling :
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut terusmenerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian/sedih.
d.   Tahap Conquering :
Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti perilaku klien dapat bersipat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.

6.    Dampak dan Akibat yang Terjadi
a.    Kebutuhan Fisiologis
*Nutrisi
Terjadi penurunan berat badan karena klien lebih berfokus pada
halusinasinya, terlebih jika halusinasi sudah ke tahap lanjut, maka kebutuhan nutrisiklien akan terganggu karena halusinasi telah menguasai sehingga klien sulit untuk beraktivitas lain termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.
*Istirahat tidur
Gangguan dalam istirahat tidur akan klien alami karena selain klien akan terganggu karena suara
-suara halusinasi klien juga akan lebih berfokus pada halusinasinya itu yang pada akhirnya klien akan mengalami kecemasan dan ketegangan dan hal tersebut akan merangsang RAS (Reticular Activiting System), sehingga klien akan sulit tidur.
*Aktivitas sehari
-hari
Klien yang mengalami halusinasi dengar sulit untuk melakukan aktivitas baik yang berkaitan dengan perawatan diri maupun
aktivitas sehari-hari karena perhatiannya terganggu oleh halusinasi, baik pada tahap awal maupun lanjut ketika halusinasi telah menguasainya.
b.      Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan
Tahap awal halusinasi, klien merasa aman dan nyaman dengan halusinasinya, karena klien menganggap halusinasi akan mengurangi ketegangannya, namun pada tahap lanjut klien akan merasa ketakutan karena halusinasi telah menguasainya.
c.       Kebutuhan Rasa Cinta dan Memiliki
Klien akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ini, yaitu dengan membina hubungan interpersonal yang baik termasuk hubungan untuk mencintai dan dicintai karena adanya perasaan tidak percaya diri.
d.      Kebutuhan Harga Diri
Klien dengan halusinasi dengar cenderung tidak mampu melakukan fungsi perannya dengan baik, didasari oleh kegagalan dalam waktu yang lama dan rasa tidak percaya mengakibatkan klien merasa tidak berharga, tidak berguna sehingga harga diri
klien terganggu.
e.      Kebutuhan Aktualisasi Diri
Umumnya klien dengan halusinasi tidak acuh tehadap diri sendiri maupun lingkungan, ini dikarenakan klien tidak dapat berhubungan dengan realita sehingga kebutuhan akan aktualisasi diri tidak tepenuhi.


C.  Data yang Perlu Dikaji
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang ditampakkan oleh klien yang mengalami psikotik, khususnya Schizofrenia. Pengkajian klien dengan halusinasi demikian merupakan proses identifikasi data yang melekat erat dengan pengkajian respon neurobiologi lainnya seperti yang terdapat juga pada Schizofrenia.
1.    Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi seperti halusinasi antara lain:
a.  Faktor Genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi factor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen schizoprenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan No.4,8,5 dan 22 (Buchanan dan
Carpenter,2002). Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami schizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami schizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami schizofrenia berpeluang 15% mengalami schizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya schizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
b. Faktor Neurobiologi.
Ditemukan bahwa korteks pre frontal dan korteks limbiks pada klien schizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien schizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal. Neurotransmitter dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
c. Studi neurotransmitter.
Schizofrenia diduga juga disebabkan oleh ketidak seimbangan neurotransmitter dimana dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotin.
d. Teori virus
Paparan virus influenza pada trimester ke-3 kehamilan dapat menjadi factor predisposisi schizofrenia.
e. Psikologis.
Beberapa kondisi pikologis yang menjadi factor predisposisi schizofrenia antara lain anak yang di pelihara oleh ibu yang suka cemas, terlalu melindungi, dingin dan tak berperasaan, sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
2.    Faktor presipitasi
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a. Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
b. Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu ( mekanisme gateing abnormal)
c. Gejala-gejala pemicu kondisi kesehatan lingkungan, sikap dan perilaku seperti yang tercantum pada tabel dibawah ini :
Kesehatan
Nutrisi Kurang
Kurang tidur
Ketidak siembangan irama sirkardian
Kelelahan infeksi
Obat-obatan system syaraf pusat
Kurangnya latihan
Hambatan unutk menjangkau pelayanan kesehatan
Lingkungan
Lingkungan yang memusuhi, kritis
Masalah di rumah tangga
Kehilangan kebebasan hidup, pola aktivitas sehari-hari
Kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain
Isoalsi social
Kurangnya dukungan social
Tekanan kerja ( kurang keterampilan dalam bekerja)
Stigmasasi
Kemiskinan
Kurangnya alat transportasi
Ktidak mamapuan mendapat pekerjaan
Sikap/Perilaku
Merasa tidak mampu ( harga diri rendah)
Putus asa (tidak percaya diri )
Mersa gagal ( kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri
Kehilangan kendali diri (demoralisasi)
Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut.
Merasa malang ( tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual )
Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan
Rendahnya kemampuan sosialisasi
Perilaku agresif
Perilaku kekerasan
Ketidak adekuatan pengobatan
Ketidak adekuatan penanganan gejala.
c.       Mekanisme Koping.
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi adalah:
Register, menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
Proyeksi, mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.
Menarik diri, sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
Keluarga mengingkari masalah yang dialami klien
d.      Perilaku
Halusinasi benar-benar riil dirasakan oleh klien yang mengalaminya, seperti mimpi saat tidur. Klien mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata. Sama halnya seperti seseorang mendengarkan suara- suara dan tidak lagi meragukan orang yang berbicara tentang suara tersebut. Ketidakmampuannya mempersepsikan stimulus secara riil dapat menyulitkan kehidupan klien. Karenanya halusinasi harus menjadi prioritas untuk segera diatasi. Untuk memfasilitasinya klien perlu dibuat nyaman untuk menceritakan perihal haluinasinya.
Klien yang mengalami halusinasi sering kecewa karena mendapatkan respon negatif ketika mencoba menceritakan halusinasinya kepada orang lain.Karenanya banyak klien enggan untuk menceritakan pengalaman
-pengalaman aneh halusinasinya. Pengalaman halusinasi menjadi masalah untuk dibicarakan dengan orang lain. Kemampuan untuk memperbincangkan tentang halusinasi yang dialami oleh klien sangat penting untuk memastikan dan memvalidasi pengalaman halusinasi tersebut. Perawat harus memiliki ketulusan dan perhatian untuk dapat memfasilitasi percakapan tentang halusinasi.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda –tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi :
Isi Halusinasi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.
Waktu dan Frekuensi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.
Situasi Pencetus Halusinasi.
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya terhadap halusinasinya.

D.  Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul
1.      Perubahan sensori persepsi : halusinasi
2.      Perubahan proses fikir : waham
3.      Kerusakan interaksi social
4.      Isolasi Diri : menarik diri
5.      Harga Diri Rendah
6.      Resiko tinggi mencederai
7.      Kerusakan Komunikasi

E.  Analisa Data
Jenis Halusinasi
Data Obyektif
Data Subyektif
Halusinasi Dengar
Bicara atau tertawa sendiri
Marah-marah tanpa sebab
Menyedengkan telinga ke arah tertentu
Menutup telinga
Mendengar suara-suara atau kegaduhan.
Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.
Halusinasi Penglihatan
Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
Ketakutan dengan pada sesuatu yang tidak jelas.
Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon, melihat hantu atau monster
Halusinasi Penghidu
Mengisap-isap seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
Menutup hidung.
Membaui bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan.
Halusinasi Pengecapan
Sering meludah
Muntah
Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
Halusinasi Perabaan
Menggaruk-garuk permukaan kulit
Mengatakan ada serangga di permukaan kulit
Merasa seperti tersengat listrik









F.     Rencana Tindakan Keperawatan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI; HALUSINASI
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Intervensi
Gangguan Sensori Persepsi; Halusinasi
Pasien mampu:
Mengenali halusinasi yang dialaminya
Mengontrol halusinasinya
Mengikuti program pengobatan secara optimal
Setelah...pertemuan pasien dapat menyebutkan isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, perasaan, dan mampu memperagakan cara dalam mengontrol halusinasi
SP 1 (Tgl.........................................)
§  Bantu pasien mengenal halusinasi
- Isi
- Waktu terjadinya
- Frekuensi
- Situasi pencetus
- Perasaan saat terjadi halusinasi
§  Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik
Tahapan tindakannya meliputi:
- Jelaskan cara menghardik halusinasi
- Peragakan cara menghardik
- Minta pasien memperagakan ulang
- Pantau penerapan cara ini; beri pengutaan perilaku pasien
- Masukkan dalan jadwal pasien


Setelah...pertemuan pasien mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu memperagakan cara bercakap-cakap dengan orang lain
SP 2 (Tgl.........................................)
§  Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
§  Latih berbicara/bercakap dengan orang lain saat halusinasi muncul
§  Masukkan dalan jadwal kegiatan pasien


Setelah...pertemuan pasien mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu membuat jadwal kegiatan sehari-hari dan mampu memperagakannya
SP 3 (Tgl.........................................)
§  Evaluasi kegiatan yang lalu (SP2)
§  Latih kegiatan agar halusinasi tidak muncul
Tahapannya :
-  Jelaskan pentingnya aktivitas yang teratur/mengatasi halusinasi
-  Diskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
-  Latih pasien melakukan aktivitas
-  Susun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih (dari bangun pagi sampai tidur malam)
-  Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan, berikan penguatan terhadap perilaku pasien yang positif


Setelah...pertemuan pasien mampu menyebutkan kegiatan ayng sudah dilakukan dan mampu menyebutkan manfaat dari program pengobatan
SP 4 (Tgl.........................................)
§  Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1,SP2,SP3)
§  Tanyakan program pengobatan
§  Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa
§  Jelaskan akibat tidak digunakan sesuai program
§  Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
§  Jelaskan pengobatan (5B)
§  Latih pasien minum obat
§  Masukkan dalam jadwal harian pasien

Keluarga mampu:
Merawat pasien di rumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien
Setelah... pertemuan keluarga mampu menjelaskan tentang halusinasi
SP 1 (Tgl.........................................)
§  Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien
§  Jelaskan tentang halusinasi
-  Pengertian halusinasi
-  Jenis halusinasi yang dialami pasien
-  Tanda dan gejala halusinasi
-  Cara merawat pasien halusinasi (cara berkomunikasi pemberian obat dan pemberian aktivitas kepada pasien)
§  Sumber-sumber pelayanan kesehatan yang biasa dijangkau
§  Bermain peran cara merawat
§  Rencana tindak lajut keluarga, jadwal keluarga untuk merawat pasien


Setelah... pertemuan keluarga mampu menyelesaikan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu memperagakan cara merawat pasien
SP 2 (Tgl.........................................)
§  Evaluasi kemampuan keluarga (SP1)
§  Latih keluarga merawat pasien
§  RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien



Setelah... pertemuan keluarga mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu memperagakan cara merawat pasien serta mampu membuat RTL
SP 3 (Tgl.........................................)
§  Evaluasi kemampuan keluarga (SP2)
§  Latih keluarga merawat pasien
§  RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien


Setelah... pertemuan keluarga mampu menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan  dan mampu melaksanakan follow up rujukan
SP 4 (Tgl.........................................)
§  Evaluasi kemampuan keluarga
§  Evaluasi kemampuan pasien
§  RTL keluarga
-  Follow up
-  Rujukan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar