Senin, 23 September 2013

ASKEP INFARK MIOKARD AKUT (AMI)


INFARK MIOKARD AKUT (AMI)

A.  Pendahuluan
Infark miokard akut merupakan penyebab kematian tersering di AS. Di Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir IMA. Lebih sering ditemukan, apalagi dengan adanya fasilitas diagnostik dan unit-unit perawatan penyakit jantung koroner intensif yang semakin tersebar merata. Gambaran distribusi umur, georafi, jenis kelamin dan faktor resiko IMA. Sesuai Angina Pektoris atau Penyakit Jantung Koroner pada umumnya.

B.  Anatomi Jantung
Jantung adalah organ berupa otot berbentuk kerucut, berongga dengan basisnya diatas dan aspek dibawah miring ke sebelah kiri. Berat jantung 300 gram. Kedudukan jantung berada di dalam rongga thorax di atara kedua paru di belakang shernum lebih menghadap ke kiri, jantung terbagi menjadi 2 bagian, dimana masing-masing bagian terbagi lagi menjadi atrium kanan dan ventrikel kanan serta atrium kiri dan ventrikel kiri yang masing-masing dipisahkan oleh sebuah katub, yang kanan disebut katub trikuspidalis dan yang kiri disebut kaheb bikuspidalis atau katub mitral.
Jantung juga diliputi oleh sebuah membran yaitu perikardium parietal (bagian luar) dan perikardium viseral (bagian dalam). Diantara selaput terhadap cairan serosa yang berfungsi untuk memudahkan pergerakan jantung. Bagian tengah otot jantung juga dilapisi oleh miokardium dan bagian dalam dilapisi oleh eridokardium.

C.  Fisiologi Jantung
Fungsi utama jantung adalah untuk memompakan darag kesleuruh tubuh dengan cara mengembang dan mengucap yang disebabkan oleh karena adanya rangsangan yang berasal dari susunan saraf otonom sirkulasi adalah :
1.      Sistem peredaran darah besar
Darah meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta dan arteri-arteri yang lebih kecil atau arheriola ke seluruh tubuh. Arteri mempunyai dinding yang berotot yang dapat menyampitkan dan menahan aliran darah yang berfungsi untuk mempertahankan tekanan darah arteri dan mengatur aliran darah kapiler. Dalam jaringan kapiler terjadi pertukaran zat antara plasma dan jaringan intersitital kapiler-kapiler bergabung membentuk venula dan vena vaca interior dan masuk ke atrium kanan jantung
2.      Sistem peredaran darah kecil
Darah dari ventrikel kanan melalui arteri pulmonalis dan arteri-arteri yang lebih kecil membawa darah kotor ke paru-paru. Di paru-paru (alveoli) terhadap peningkatan O2 dan pelepasan CO2 dalam kapiler pulmonal. Kapiler pulmonal kemudian bergabung membentuk vena pulmonal dan membawa darah bersih ke jantung melalui atrium kiri.

D.  Pengertian
Miokard infark adalah kematian otot jantung yang diakibatkan oleh kekurangan aliran darah atau oksigen. Penyebabnya adalah penyempitan atau sumbatan pembuluh darah koroner.
Iskemia yang berlangsung lebih dari 30-45 menit akan menyebabkan kerusakan seluler yang irreversibel dan kematian otot atau nekrosis. Gambaran distribusi dipengaruhi umur, geografis, jenis kelamin dan faktor resiko sesuai dengan angina pektoris atau penyakit jantung koroner pada umumnya.

E.  Etiologi
Penyebab terbanyak dan tersering yang mengakibatkan miokardium infark akut adalah arterosklerosis atau penyumbatan total arteri koroner baik oleh emboli atau thrombus. Faktor yang dapat meningkatkan timbulnya arterosklerosis atau faktor resiko :
1.      Faktor yang tidak dapat dimodifikasi atau dikendalikan (jantung)
2.      Umur (makin tua resiko semakin besar)
3.      Jenis kelamin (Pria memiliki resiko lebih tinggi)        

Selain itu ada factor yang dapat dikendalikan atau pola kebiasaan :
1.      Merokok
2.      Tekanan Darah Tinggi
3.      Kadar lemak tinggi (kolesterol,LDL)
4.      Kurang Olah raga
5.      Diabetes yang tidak terkendali
6.      Stress dan Obesitas

F.   Manifestasi klinis
1.    Nyeri dada restrofernal seperti diremas-remas atau tertekan.
2.    Nyeri dapat menjalar ke langan (umumnya ke kiri), bauhu, leher, rahang bahkan ke punggung dan epigastrium. Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pektoris biasa dan tak responsif terhadap nitrogliserin.
3.    Bunyi jantung kedua yang pecah paradoksal, irama gallop.
4.    Krepitasi basal merupakan tanda bendungan paru-paru.
5.    Takikardi
6.    Sesak napas
7.    Kulit yang pucat                                 
8.    Pingsan
9.    Hipotensi

G.  Patofisiologi
Hipertensi, obesitas, hiperkolestrol






Stimulus nyeri m’rangsang susunan saraf otonom m’aktifkan Noreepinephrin
 

Kontraksi otot jantung
 

 
Penurunan suplai O2 ke otot jantung (miokardium)














 
Saraf simpatis terangsang
 
Cardiac output (supply darah) keotak menurun
 
Supply darah ke jaringan menurun
 
Terjadinya metabolisme Anaerob














 
M’aktifkan kerja organ tubuh
 
Proses metabolisme tidak adekuat
 
Meningkatkankan asam Laktat











Nutrisi dan O2 minimal
 


 
Energi yg timbul tjd sedikit
 
Merangsang thalamus











REM menurun
 



 
Gangguan perfusi jaringan
 
Intoleransi thdp aktivitas
 
Timbul rasa nyeri





Gangguan rasa nyaman nyeri

 

Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur
 

 


H.  Pemeriksaan penunjang
1.    Elektrokardiografi (EKG)  :  Adanya gelombang patologik disertai peninggian segmen ST yang konveks dan diikuti gelombang T yang negatif dan simetrik. Yang terpenting ialah kelainan Q yaitu menjadi lebar (lebih dari 0,04 sec) dan dalam (Q/R lebih dari 1/4).
2.    Laboratorium :
Creatin fosfakinase (CPK) . Iso enzim CKMB meningkat. Hal ini terjadi karena kerusakan  otot, maka enzim intra sel dikeluarkan ke dalam aliran darah. Normal 0-1 mU/ml. Kadar enzim ini sudah naik pada hari pertama ( kurang lebih 6 jam sesudah serangan) dan sudah kembali kenilai normal pada hari ke 3.
SGOT (Serum Glutamic Oxalotransaminase Test) Normal kurang dari 12 mU/ml. Kadar enzim ini biasanya baru naik pada 12-48 jam sesudah serangan dan akan kembali kenilai normal pada hari ke 4 sampai 7.
LDH (Lactic De-hydroginase). Normal kurang dari 195 mU/ml. Kadar enzim baru naik biasanya sesudah 48 jam, akan kembali ke nilai normal antara hari ke 7 dan 12.
3.    Pemeriksaan lainnya adalah ditemukannya peninggian LED, lekositosis ringan dan kadang-kadang hiperglikemia ringan.
4.    Kateterisasi: Angiografi koroner untuk mengetahui derajat obstruksi.
5.    Radiologi. Hasil radiologi tidak menunjukkan secara spesifik adanya infark miokardium, hanya menunjukkan adanya pembesaran dari jantung.

I.     Penatalaksanaan
1.      Istirahat total.
2.      Diet makanan lunak/saring serta rendah garam (bila ada gagal jantung)
3.      Pasang infus dektrosa 5% untuk persiapan pemberian obat intravena
4.      Atasi nyeri:
a.       Morfin 2,5-5mg iv atau petidin25-50mg im, bisa diulang-ulang.
b.      Lain-lain:nitrat, antagonis kalsium, dan beta bloker
5.      Oksigen 2-4 liter/menit
6.      Sedatif sedang seperti diazepam 3-4 x 2-5 mg per oral. Pada insomnia dapat ditambah flurazepam 15-30mg.
7.      Antikoagulan :
a.       Heparin 20.000-40.000 U/24 jam iv tiap 4-6jam atau drip iv dilakukan atas indikasi.
b.      Diteruskan asetakumoral atau warfarin.
8.      Streptokinase/trombosis
Pengobatan ditujukan untuk sedapat mungkin memperbaiki kembali aliran pembuluh darah koroner. Bila ada tenaga terlatih, trombolisis dapat diberikan sebelum dibawa ke rumah sakit. Dengan trombolisis, kematian dapat diturunkan sebesar 40%.

J.    Asuhan keperawatan
Pengkajian
1.            Identitas : nama, umur, pekerjaan, jenis kelamin, agama, pendidikan, suku bangsa, pendidikan, tanggal masuk, alamat, dan data penanggung jawab
2.            Riwayat kesehatan
-          Keluhan utama : nyeri di daerah dada kiri
- Riwayat kesehatan sekarang
Klien datang dengan keluhan  nyeri didada seperti diremas-remas, rasa terbakar, tertimpa benda berat, dan rasa tertekan, berkeringat, pucat. Jenis nyeri tumpul atau tajam, berlangsung 15-30 menit atau lebih lama.
-          Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya pernah memiliki tekanan darah yang tinggi (hipertensi),obesitas dan hiperkolestrol.
-          Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kesehatan keluarga yaitu memiliki penyakit jantung/IM, diabetes, stroke, hipertensi, penyakit vaskuler perifer, penggunaan tembakau.



3.      Data fokus
Keadaan umum : compos mentis
Tanda-tanda vital
TD : meningkat (N : 120/80)
N : meningkat/menurun (N: 80-100)
RR : meningkat (N : 16-20)
S : meningkat (N : 36-37 derajat celcius)
 Persistem :
1.      Sistem pernapasan
Jika terdapat gangguan fungsi ventrikel kiri (LV) dapat ditemukan ronchi atau edema paru samar, peningkatan frekuensi pernapsan, napas sesak/kuat
2.      Sistem integumen
Penurunan turgor kulit, kulit kering atau berkeringat, pucat, sainosis
3.      Sistem kardiovaskuler
Bisanya berintensitas normal, dapt terdengar bising sisitolik baru, jantung S3/S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan kontraktilitas atau complain ventrikel,irama jan tung dapat teratur atau tidak teratur, mrumur bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot papilar 











Analisa data
No
Data
Etiologi
Masalah
1.
DS :
- Nyeri dada yang menjalar kelengan (umumnya kekiri), bahu, leher.
DO :
-  Klien tampak gelisah
- Ekspresi wajah klien tampak tegang
- Nadi > normal (N : 80-100x/menit)
- Respirasi > normal (N : 16-20x/menit) 
Hipertensi, obesitas, hiperkolestrol

Peâan suplai O2 keotot jantung (miokardium)


Suplai O2 dan nutrisi jar. berkurang


Terjadinya metabolisme Anaerob



Meákan as. Laktat


 


Merangsang thalamus


 


Ambang nyeri meâ


 


Timbul rasa nyeri



Gangguan rasa nyaman nyeri


















2.
DS :
- Klien mengeluh pusing
DO :
- Klien tampak gelisah
Peâan suplai O2 keotot jantung (miokardium)

Kontraksi otot jantung menurun
 

Cardiac output (suplai darah ) keotak meâ


 
Nutrisi dan O2 minimal

Gangguan perfusi jaringan ke otak
3.
DS :
- Nyeri dada yang menyebar kekiri
DO :
- Klien terlihat gelisah
- Klien terlihat lemah 
Timbul rasa nyeri  

Stimulus nyeri m’rangsang susunan saraf otonom mengaktivasi Noreepinephrin


Saraf simpatis t’rangsang untuk mengaktivasi RAS
 

M’aktifkan kerja organ tubuh


REM menurun



Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur
4.
DS :
- Klien mengeluh lemah dan lesu
DO :
- Daerah perifer agak pucat
- ADL dibantu
- Klien terlihat lemah

Cardiac output (suplai darah) keotak meâ

Suplai darah ke jaringan menurun

Proses metabolisme tidak adekuat

Energi yang timbul tertjadi sedikit


Intoleransi aktivitas

Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d ischemia jar dan penurunan suplai O2
2. Gangguan perfusi jaringan keotak b.d nutrisi dan O2 minimal
3 Gangguan pemenuhan kebutuhan istrahat tidur b.d REM menurun
4. Intoleransi terhadap aktivitas b.d penurunan cardiac output












Rencana Asuhan Keperawatan
No.
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d ischemia dan penurunan suplai O2 ditandai dengan :
DS :
- Nyeri dada yang menjalar kelengan (umumnya kekiri), bahu, leher.
DO :
-  Klien tampak gelisah
- Ekspresi wajah klien tampak tegang
- Nadi > normal (N : 80-100x/menit)
- Respirasi > normal (N : 16-20x/menit) 
Rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria
  • Nyeri dada hilang
  • Ekspresi wajah tenang
  • Tanda-tanda viotal dalam batas normal
1. pantau /catat karakteristik nyeri, catat laporan verbal, petunjuk nonverbal, dan respon hemodinamik (contoh, meringis, gelisah, berkeringat, mencengkeram dada, napas cepat, TD/frekuensi jantung berubah)
2. kolaborasi pemberian terapi O2




3. berikan obat sesuai dngan indikasi cth : Analgesik (Morfin, meperidin/demerol)








4. anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera









5. Bantu melakukan tehnik relaksasi, mis
; napas dalam 
1. variasi penampilan dan perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian. Kebanyakan klien dengan IM akut tampak sakit, distraksi dan berfokus pada nyeri



2. meningkatkan jumlah O2 yang untuk pemakaian miokardia dan juga mengurangi ketidaknyaman s.d iskemia
3. meskipun morfin pilihan, suntiksn narkotik lain dapat dipakai pada fase akut/nyeri dada berulang yang tak hilang dengan nitrogliserin ujntuk menurunkan nyeri hebat, memberikan sedasi dan mengurangi kerja miokard
4. penundaan pelaporan nyeri menghambat peredaran nyeri/memerlukan peningkatan dosis obat. Selain itu nyeri berta dapat menyebabkan syok dengan merangsang sistem saraf simpatis, mengakibatkan kerusakan lebih lanjut
5. membantu dalam penurunan persepsi/respon nyei. Memberikan kontrol situasi, meningkatkan perilaku positif








 


2.
Gangguan perfusi jaringan keotak b.d nutrisi dan O2 minimal ditandai dengan :
DS :
- Klien mengeluh pusing
DO :
- Klien tampak gelisah
Gangguan perfusi jaringan  teratasi dengan kriteria
·         Perfusi jaringan otak dan aliran darah ke otak terjaga
·         Pasien sadar/ dapat berorientasi
·         Ada nadi perifer/kuat
1. selidiki perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinu contoh : cemas, bingung, letargi, pingsan


2. lihat pucat, sianosis, belang, kulit dingin/lembab. Catat kekutan nadi perifer


3. pantau pernapasan, catat kerja pernapasan
1. perfusi cerebral secara langsung s.d curah jantung dan juga dipengaruhi oleh elektrolit/variasi asam basa, hipoksia, emboli sisitemik
2. vasokontriksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan nadi
3. pompa jantung gagal dapat mencetuskan distress pernapasan




3.
Gangguan pemenuhan kebutuhan istrahat tidur b.d REM menurun ditandai dengan :
DS :
- Nyeri dada yang menyebar kekiri
DO :
- Klien terlihat gelisah
- Klien terlihat lemah 
Kebutuhan istirahat klien terpenuhi dengan kriteria
  • Klien dapat tidur dengan tenang
  • Klien terlihat segar
1. ciptakan lingkungan yang tenang nyaman






2. atur posisi klien pada saat akan tidur senyaman mungkin
1. menurunkan rangsang eksternal dimana ansietas dan regangan jantung serta keterbatasan kemampuan koping dan keputusan situasi saat ini
2. dengan mengatur posisi klien akan merasa nyaman
4.
Intoleransi terhadap aktivitas b.d penurunan cardiac output ditandai dengan :
DS :
- Klien mengeluh lemah dan lesu
DO :
- Daerah perifer agak pucat
- ADL dibantu
- Klien terlihat lemah

Klien toleran terhadap aktivitas dengan kriteria
·         Klien tidak merasa lemah dan lesu
·         Bila beraktivitas tidak cepat lelah
·         Daerah perifer intac (hangat)
1. tingkatkan istirahat. Batasi aktivitas pada dasar nyeri dan respon hemodinamik. Berikan aktivitas senggang yang tidak berat




2. anjurkan klien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh mengejan saat defekasi




3. kaji ulang tanda/gejala yang menunjukkan tidak toleran terhadap aktivitas atau memerlukan laporan pada perwat atau dokter
1. kecendrungan menentukan respon klien terhadap aktivitas dan dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardia yang memerlukan penurunan tingkat aktivitas /kembali tirah baring. R
2. aktivitas yang memerlukan menahan napas dan menunduk (manuver valsava) dapat mengakibatkan bradikardi, juga menurunkan curah jantung dan takikardi dengan peningkatan TD
3. palpitsai, nadi tidak teratur, adanya nyeri dada, atau dispnea daapt mengindikasikan kebutuhan perubahan program olhraga atau obat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar