Senin, 23 September 2013

LP Managemen stress


LAPORAN PENDAHULUAN


I.    Masalah utama (kasus)      : Managemen stress
II. proses terjadinya masalah
1.      Stress adalah suatu ketidakseimbangan diri / jiwa dan realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari  atau peribahan yang memerlukan penyesuaian sering dianggap sebagai kejadian atau peruaban negative yang gdapat menimbulkan stress, seperti cidera, sakit atau kematian orang yang dicintai, putus cinta, perubahan positif juga dapat menimbulkan stress, seperti naik pangkat, perkawinan, jatuh cinta.
2.      Indikator fisiologis stress
a.       Kenaikan tekanan darah
b.      Peningkatan ketegangan di leher, bahu, punggung
c.       Peningkatan denyut nadi dan pernafasan
d.      Telapak tangan berkeringat tangan dan kaki dingin
e.       Postur tubuh yang tidak tegap
f.       Keletihan
g.      Sakit kepala
h.      Gangguan lambung
i.        Suara yang bernada tinggi
j.        Mual, muntah dan diare
k.      Perubahan nafsu makan
l.        Penurunan berat badan
m.    Perubahan prekwensi berkemih
n.      Dilatasi pupil
o.      Gelisah, kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur

III. Kemungkinan data fokus
1.      Wawancara
a.       Tanyakan apa yang menyebabkan klien gelisah, kesulitan untuk tidur atau terbangun saat tidur
b.      Alasan masuk RSJ
c.       Faktor predisposisi dan presipitasi
d.      Faktor stress 
2.       Pemeriksaan fisik
a.       Naiknya tekanan darah
b.      Peningkatan denyut nadi dan frekwensi pernafasan
c.       Perubahan nafsu makam
d.      Frekwensi berkemih meningkat
e.        Dilatasi pupil
f.       Sakit kepala
g.      Telapak tangan berkeringat tangan dan kaki dingin
h.      Gelisah, kesulitan tidur atau terbangun saat tidut

IV. Analisa data
Data mayor
Data minor
Masalah
DS:
-          menyatakan depresi
-          kehilangan motivasi
-          selalu gelisah
-          kehilangan minat
DS:
-    merasa tidak berguna
-    merasa tidak perlu menyelesaikan tugas-tugasnya
-  Selalu teringat kegagalan / kesalahan dimasa lalu
-  Merasa tidak mau untuk mengerjakan sesuatu

Potensial mencederai diri/bunuh diri

V.    Diagnosa keperawatan diri
Potensial mencederai diri / bunuh diri



VI. RENCANA KEPERAWATAN
      Tujuan umum
1. Pasien mampu:
a)   -  Pasien dapat mengontrol prilaku mencederai diri
3.Kriteria hasil
a).  Setelah pertemuan pasien dapat:
-   Pasien tidak melakukan tindakan mencederai diri
-   melakukan hubungan social secara baik
b).  Setelah pertemuan keluarga mampu : meneruskan melatih pasien dan mendukung agar pasien tidak melakukan tindakan mencederai diri

4. Intervensi
a)      Bina hubungan saling percaya
-       Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati
-       Dengarkan pernyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan atau anggukan
-       Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respon sesuai dengan keinginanya
-       Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti
-       Terima pasien apa adanyatanpa membendingkan dengan orang lain
b)      Bantu pasien mengevaluasi diri
-   Tanyakan kepada pasien keberhasilan yang pernah diraih
-   Bicarakan kegagalan yang pernah dialami pasien: sebab-sebab kegagalan, cara mengatasinya, serta resspon pasien terhadap kegagalan
-   Jelaskan kepada pasien kegagalan yang dialami dapat menjadi pelajaran untuk mengatasi kesulitan yang mungkin terjadi dimasa mendatang
Berikan pujian / penghargaan atas keberhasilan yang dicapai

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GANGGUAN CITRA TUBUH


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
 KLIEN GANGGUAN CITRA TUBUH

A.    MASALAH UTAMA
Gangguan Citra tubuh

B.     PROSES TERJADINYA MASALAH            
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart-Laraia, 2005). Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. Kosep diri terdiri atas komponen : Citra tubuh (Body image), Ideal diri (Self ideal), Harga diri (Self esteem), Identitas diri (Personal identity) dan Penampilan peran (role performance).
Pengertian Citra Tubuh (Body image)
§  Citra tubuh adalah integrasi persepsi, pikiran dan perasaan individu tentang bentuk, ukuran, berat tubuh dan fungsi tubuh serta bagian-bagiannya yang digambarkan dalam bentuk penampilan fisik (Fontaine, 2003).
§  Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari   terhadap tubuhnya termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi tubuh (Stuart-Laraia, 2005).
Pengertian Gangguan Citra tubuh ( Body image, disturbed)
§  Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap perubahan bentuk, struktur dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan (Stuart-Laraia, 2005).
§    Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan diri dalam cara memandang dan menerima gambaran tubuh (Nanda, 2005).
§    Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan secara mental dalam memandang fisik diri sendiri (Nanda, 2008).

1. Faktor Predisposisi
            Adanya riwayat :
a.      Biologis :
Penyakit genetik dalam keluarga, Pertumbuhan dan perkembangan masa bayi, anak dan remaja, Anoreksia, bulimia, atau berat badan kurang atau berlebih dari berat badan ideal, perubahan fisiologi pada kehamilan dan penuaan, pembedahan elektif dan operasi, trauma, penyakit atau gangguan organ dan fungsi tubuh lain ; Stroke, Kusta, Asthma dan lain-lain, pengobatan atau kemoterapi, penyalahgunaan obat atau zat ; coccaine, Amphetamine, Halusinogen dan lain-lain.
b.      Psikologis :
 Gangguan kemampuan verbal, konflik dengan nilai masyarakat, pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, ideal diri tidak realistis.
c.       Sosial budaya :
Pendidikan masih rendah, masalah dalam pekerjaan, nilai budaya bertentangan dengan nilai individu, pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, kegagalan peran sosial.
2.   Faktor Presipitasi
§  Trauma
§  Penyakit, kelainan hormonal
§  Operasi atau pembedahahan
§  Perubahan masa pertumbuhan dan perkembangan ; maturasi
§  Perubahan fisiologis tubuh ; kehamilan, penuaan.
§  Prosedur medis dan keperawatan ; efek pengobatan ; radioterapi, kemoterapi.
3.  Sumber Koping :
1.      Hubungan interpersonal dengan orang lain.
2.      Support dari keluarga, teman dan masyarakat dan jaringan sosial.
3.      Bakat tertentu
4.      Pekerjaan, penghasilan.
5.      Keyakinan diri yang positif.
4.   Mekanisme Koping :
a.       Konstruktif
1)      Berfokus pada masalah : negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat/saran.
2)      Berfokus pada kognitif : perbandingan yang positif, penggantian rewards, antisipasi.
b.      Destruktif
Berfokus pada emosi : Denial, Proyeksi, Represi, Kompensasi, Isolasi.

C.    DATA YANG PERLU  DIKAJI
1.  Objektif  :
 .        Hilangnya bagian tubuh.
a.       Perubahan anggota tubuh baik bentuk maupun fungsi.
b.      Menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang terganggu.
c.       Menolak melihat bagian tubuh.
d.      Menolak menyentuh bagian tubuh.
e.       Aktifitas sosial menurun.
2.  Subjektif  :
a.       Menolak perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas dengan hasil operasi.
b.      Mengatakan hal negatif tentang anggota tubuhnya yang tidak berfungsi.
c.       Menolak berinteraksi dengan orang lain.
d.      Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi terhadap bagian tubuh yang terganggu.
e.       Sering mengulang-ulang mengatakan kehilangan yang terjadi.
f.       Merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang.
3.   Konsep diri :
Ideal diri ; tidak realistis, ambisius

4.  Sosial budaya :
a.       Nilai budaya yang ada di masyarakat.
b.      Nilai budaya yang dianut individu

D.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan yang muncul adalah : Gangguan Citra Tubuh  (Body  Image, Disturbed)

E.     TINDAKAN KEPERAWATAN
I.    INTERVENSI GENERALIS
Tindakan Keperawatan pada Individu
 a. Tujuan
1) Pasien dapat mengidentifikasi citra tubuhnya.
2) Paien dapat meningkatkan penerimaan terhadap citra tubuhnya
3) Pasien dapat mengidentifikasi potensi (aspek positif) dirinya.
4) Pasien dapat mengetahui cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
5) Pasien dapat melakukan cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
6) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa terganggu.
b. Tindakan Keperawatan
1)  Diskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya ; dulu dan saat ini, perasaan tentang citra tubuhnya dan harapan terhadap citra tubuhnya saat ini.
2) Motivasi pasien untuk melihat bagian yang hilang secara bertahap, bantu pasien menyentuh bagian tersebut.
3)   Diskusikan potensi bagian tubuh yang lain.
4)  Bantu pasien untuk meningkatkan fungsi bagian tubuh yang terganggu.
5)  Ajarkan pasien meningkatkan citra tubuh dengan cara :
a) Gunakan protesa, wig, kosmetik atau yang lainnya sesegera mungkin, gunakan pakaian yang baru.
b) Motivasi pasien untuk melakukan aktifitas yang mengarah pada pembentukan tubuh yang ideal

6)  Lakukan interaksi secara bertahap dengan cara :
a)   Susun jadwal kegiatan sehari-hari.
b) Dorong melakukan aktifitas sehari-hari dan terlibat dalam aktifitas keluarga dan sosial.
c) Dorong untuk mengunjungi teman atau orang lain yang berarti/mempunyai peran penting baginya.
d)  Beri pujian terhadap keberhasilan pasien melakukan interaksi.

Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
a. Tujuan   :
1)  Keluarga dapat mengenal masalah gangguan citra tubuh.
2)  Keluarga mengetahui cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.
3)  Keluarga mampu merawat pasien gangguan citra tubuh.
4) Keluarga mampu mengevaluasi kemampuan pasien dan memberikan  pujian atas keberhasilannya.
b. Tindakan Keperawatan :
1)  Jelaskan dengan keluarga tentang gangguan citra tubuh yang terjadi pada pasien.
2)  Jelaskan kepada keluarga cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.
3)  Ajarkan kepada keluarga cara merawat pasien :
a) Menyediakan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pasien di rumah.
b) Memfasilitasi interaksi di rumah.
c) Melaksanakan kegiatan di rumah dan sosial.
d) Memberikan pujian atas kegiatan yang telah dilakukan pasien.
4) Bersama keluarga susun tindakan yang akan dilakukan keluarga dalam gangguan citra   tubuh.
5)  Beri pujian yang realistis terhadap keberhasilan keluarga.

II. INTERVENSI SPESIALIS
1. Terapi Individu             : terapi CBT, Terapi Kognitif.
2. Terapi Keluarga : Family System Therapy, Terapi Komunikasi.
3. Terapi Kelompok          : Logoterapi, Terapi Suportif.
4. Terapi Komunitas          : Psikoedukasi

J.   EVALUASI
a. Evaluasi kemampuan pasien.
b. Evaluasi kemampuan keluarga
c. Evaluasi kemampuan perawat